Internasionalisasi Muhammadiyah: Dari Jejak Lokal ke Kepemimpinan Peradaban
Penulis: Yayah Khisbiyah, Dosen Psikologi UMS & Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah
Muhammadiyah tidak lagi sekadar nama besar dalam lanskap sosial-keagamaan Indonesia, namun kini sedang bertransformasi menjadi pelaku global yang aktif dan berpengaruh. Dalam dua dekade, gerak lembaga dan jaringan Persyarikatan menunjukkan upaya strategis yang bukan hanya memperluas cakupan geografis, tetapi juga memperdalam kualitas kontribusi pada isu-isu kemanusiaan, pendidikan, dan perdamaian.
Pengakuan internasional terhadap kapasitas teknis dan tata kelola Muhammadiyah semakin nyata: Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah sebagai yang pertama di Indonesia yang lolos verifikasi WHO, inisiatif Pendidikan mancanegara seperti Muhammadiyah Australia College (MAC), UMAM, dan sekolah-sekolah di Mesir, Malaysia, dan negara-negara ASEAN , serta berbagai kerja sama riset dan kemanusiaan di tingkat regional dan global oleh PTMA. Semua ini menegaskan satu hal: nilai “Islam Berkemajuan” dapat berbicara dalam bahasa universal pelayanan sosial-kemanusiaan dan ilmu pengetahuan.
Sebagai seseorang yang setiap hari berkecimpung dalam kerja akademik, dialog lintas agama, dan diplomasi masyarakat sipil, saya melihat internasionalisasi Muhammadiyah sebagai perjalanan yang berakar kuat pada pengalaman local-domestik sekaligus terbuka terhadap pembelajaran global.
Mobilitas AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) ke Australia, Mesir, dan negara lainnya adalah wujud dari dua aspek sekaligus: kapabilitas organisasi yang siap memenuhi standar internasional dan kemampuan adaptasi kultural yang menjaga relevansi nilai-nilai Muhammadiyah di lingkungan baru. Ini bukan sekadar ekspor model, melainkan proses “glocalization,” yakni mengadaptasi praktik terbaik lokal ke konteks global dan sebaliknya mengangkat pengalaman di arena dunia ke konteks lokal.
Dari Respon Krisis ke Diplomasi Kemanusiaan
Salah satu bukti kekuatan Muhammadiyah di ranah internasional ialah perannya dalam respon kemanusiaan yang profesional. MDMC dan jaringan rumah sakit Muhammadiyah–‘Aisyiyah menunjukkan bahwa lembaga berbasis keagamaan mampu menyediakan pelayanan darurat, kesehatan, dan rehabilitasi yang memenuhi standar global. Pengakuan WHO terhadap EMT Muhammadiyah adalah pencapaian strategis: ia menegaskan bahwa kompetensi teknis kita bukan hanya relevan di tanah air, tetapi juga bisa berkontribusi dalam respons internasional terhadap bencana dan krisis kemanusiaan. Ini adalah bentuk diplomasi kemanusiaan atau soft power yang lahir dari kapasitas nyata.
Selain itu, LHKI bersama MuAID dan Unit Pembantu Pimpinan (UPP) Persyarikatan lainnya telah aktif menginisiasi program yang menautkan bantuan langsung dengan advokasi kebijakan, misalnya program pemberdayaan Palestina, dukungan pada pengungsi Rohingya, hingga kerja sama dengan lembaga internasional. Inisiatif-inisiatif semacam ini memosisikan Muhammadiyah sebagai mitra yang tidak hanya memberi bantuan, tetapi juga mengajukan solusi dan memperjuangkan keadilan di forum-forum yang relevan.
Pekerjaan Rumah Domestik: Tantangan sekaligus Modal Berharga
Tidaklah bijak membaca internasionalisasi Muhammadiyah tanpa mengenali konteks domestik. Indonesia sendiri sebagai negara plural masih memiliki tantangan struktural, kesenjangan pendidikan, kemiskinan, perusakan lingkungan, dan intoleransi antar-suku dan agama di akar rumput, juga menjadi “pekerjaan rumah” Persyarikatan.
Namun pengalaman saya mengajar dan melakukan penelitian lapangan menunjukkan hal yang berbeda PR domestik ini sebenarnya adalah laboratorium sosial yang memberi Muhammadiyah legitimasi praktis. Kita belajar menangani problem nyata, bukan sekadar memformulasi teori. Pengalaman dan kristalisasi pengetahuan ini sangat berharga bagi mitra internasional yang mencari model intervensi berbasis komunitas.
Tetapi ada sisi lain yang harus diwaspadai. Terdapat risiko narrative gap: ketika citra Muhammadiyah di pentas internasional tampak sangat modern dan progresif, sementara beberapa praktik lokal belum sepenuhnya sejalan dengan wacana tersebut, muncul ketidakkonsistenan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak yang ingin mendiskreditkan kita. Oleh karena itu, internasionalisasi terbaik dilakukan bersamaan dengan penguatan tata kelola, literasi kader, dan transformasi kultural di tingkat akar rumput, agar wajah global Persyarikatan selalu berakar pada praktik lokal yang sehat dan inklusif.
Empat Agenda Strategis LHKI untuk Memperkuat Internasionalisasi
Berdasarkan laporan internal LHKI dan kolaborasi yang sedang berjalan, saya melihat empat agenda prioritas yang harus terus ditingkatkan untuk menjadikan Muhammadiyah bukan hanya sebagai aktor global, melainkan sebagai pemimpin peradaban.
1. Diplomasi Berbasis Ilmu (Evidence-based Diplomacy)
Kehadiran Muhammadiyah di forum internasional harus semakin disertai dengan kontribusi ilmu. PTMA perlu memperluas riset bersama dengan institusi global, misalnya dalam isu perubahan iklim, kesehatan masyarakat, dan conflict resolution, sehingga suara Muhammadiyah menjadi rujukan berbasis data, bukan hanya retorika. Kolaborasi akademik semacam itu membuka pintu partisipasi sebagai resource persons pada panel lembaga dan jaringan think-tank internasional.
2. Capacity Building Kader Internasional
Program Muhammadiyah Diplomatic Training (MDT) harus dikembangkan menjadi jalur karier yang jelas: rekrutmen, penempatan, pelatihan lanjutan, dan jejaring alumni. Kader yang konsisten mengikuti jalur ini akan mampu mewakili Muhammadiyah dengan kompetensi dan legitimasi untuk menempati posisi strategis di AUM luar negeri, badan PBB, dan organisasi kemanusiaan internasional,.
3. Glocalization: Arus Dua Arah Praktik Baik
Internasionalisasi harus bersifat timbal balik. Model pendidikan inklusif yang dikembangkan di MAC Australia dapat diadaptasi untuk konteks daerah tertinggal di Indonesia; begitu pula inovasi layanan kesehatan dari RS Muhammadiyah dapat menjadi studi kasus internasional. LHKI berperan sebagai jembatan dan translator agar praktik-praktik ini saling menguatkan.
4. Komunikasi Strategis dan Framing Narasi Global
Di era digital, narasi menentukan ruang. Muhammadiyah perlu aktif memproduksi konten kebijakan, artikel populer, dokumenter, dan laporan yang menegaskan peran Persyarikatan sebagai representasi Islam yang moderat, solutif, dan berbasis ilmu. Kerja sama strategis dengan Kemlu RI dan media internasional akan membantu membingkai kontribusi Muhammadiyah sebagai bagian dari diplomasi publik Indonesia.
Menempatkan Muhammadiyah di Meja Dunia
Perjalanan internasional Muhammadiyah juga memerlukan keberanian politik moral: berbicara untuk keadilan ketika diperlukan, mengadvokasi korban, dan membangun aliansi lintas iman untuk isu-isu kemanusiaan.
LHKI telah menunjukkan kemampuan ini melalui pernyataan dan tindakan kolektif, termasuk dukungan terhadap upaya pelindungan hak asasi di panggung internasional. Namun lebih dari itu, kita perlu mengedepankan strategi jangka panjang: mengisi think-tank, memproduksi kebijakan publik yang berbasis penelitian, dan menempatkan kader di posisi strategis global.
Catatan Pribadi: Mengapa Saya Terlibat
Mengajar psikologi perdamaian memberi saya perspektif bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik, tetapi hasil kerja kolektif yang melibatkan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan rekonsiliasi sosial. Ketika saya melihat anak-anak Muhammadiyah diberi kesempatan studi di luar negeri, atau ketika RS Muhammadiyah berhasil menyelamatkan nyawa di wilayah bencana, saya menyadari bahwa misi Persyarikatan melampaui batas nasional.
Itu pula yang mendorong saya untuk mengambil peran di LHKI: menghubungkan ilmu, praktik, dan diplomasi untuk menghasilkan kontribusi yang bermakna, berdasar jejaring global dan pengalaman panjang saya sebagai akademisi di UMS hingga keterlibatan sebagai konsultan maupun mitra pada beberapa badan PBB dan beberapa lembaga internasional.
Hemat saya, internasionalisasi Muhammadiyah adalah proses menerus yang menuntut konsistensi nilai, profesionalitas, dan kemampuan belajar. Muhammadiyah memiliki potensi dan kapasitas untuk lebih dari sekadar berpartisipasi. Kita siap memimpin percakapan dunia tentang peradaban yang damai, berkeadilan, dan berkemajuan.

