Jihad Politik Praktis Sang Kader: Potret Pengabdian di Tanah Kelahirannya
Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten
“Kekuasaan itu bagian dari kebudayaan yang tertinggi dalam kehidupan ini.”
“Jihad merupakan sebuah sarana untuk menggapai sebuah kemenangan, baik secara person maupun secara jamaah dalam sendi kehidupan di dunia ini.”
Ketika penulis (Gus Zul) mau beranjak istirahat dan sudah di dalam kamar sekitar pukul 23.00, tiba-tiba ada suara sepeda motor PCX merah berhenti di halaman rumah penulis. Mendengar suara tersebut, penulis beranjak keluar. Ternyata anak muda sukses yang saat ini mengelola penyedia jasa Wi-Fi Iconit. Anak muda tersebut sebut saja Mutaqin, anak muda yang energik, setahun yang lalu dipercaya menjadi Ketua RW 12 di Dukuh Karang, di dukuh sebelah penulis. Sambil memarkirkan sepeda motornya, anak muda tersebut menerima telepon penting dan penulis menyaksikan serta menungguinya. Setelah beberapa menit, obrolan selesai, lantas menuju ke arah penulis.
Mutaqin: “Assalamu'alaikum, Mas.” (Menyebut nama penulis dengan sebutan Mas, kadang Gus, ketika bertemu.)
Gus Zul: “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Monggo, Mas. Njanur gunung (tumben), Mas, malam-malam silaturahim.”
Taqin: “Iya, Mas. Ini tadi habis rapat MEBP PCM Pedan, Mas, terus ke sini karena ada hal penting yang perlu saya bicarakan atau sharing, Mas.”
Gus Zul: “Monggo, Mas. Sekiranya saya bisa memberikan solusi atau meringankan apa yang menjadi beban dalam pikiran Mas.”
Taqin: “Begini, Mas. Tadi saya ditelepon seseorang, seorang tokoh, yang intinya menanyakan saya karena menurut pertimbangan beliau, dari kasus sini harus ada calon kepala desa yang muncul!”
Gus Zul: “Begini, Mas, sudah jenengan pertimbangkan, Mas? Karena dulu waktu sampeyan umrah, saya berpesan untuk berdoa dan meminta petunjuk, Mas. Setelah pulang umrah pada bulan Agustus 2024, saya menanyakan kembali akan kesungguhannya. Jenengan jawab tidak ada gambaran dan fokus untuk mengelola usaha penyedia internet Wi-Fi Iconit.”
Taqin: “Dinamika begitu dinamis dan cepat karena calon yang saya dorong sampai waktu ini tidak deklarasi, Mas!”
Gus Zul: “Begini, Mas, ada hal yang harus diingat dan dipertimbangkan kalau sampeyan maju dalam kontestasi pesta demokrasi pemilihan kepala desa, yaitu tolong jenengan salat istikharah dulu. Setelah minimal tiga malam, ya, Mas, karena itu akan ada gambaran. Mas, setelah itu jenengan minta izin dan doa dari istri jenengan, Mas, karena itu sangat penting. Yang tidak kalah pentingnya adalah meminta doa restu dari kedua orang tuamu, baik dari pihak orang tuamu sendiri maupun kedua orang tua dari istrimu.”
Taqin: “Ya, Mas. Bismillah, ini semoga dimudahkan, Mas, semuanya.”
Gus Zul: “Aamiin. Tolong dipersiapkan dengan matang, baik spiritual maupun ruhani, jasmani yang baik. Karena pada intinya seorang pemimpin harus berani menderita, Mas. Selain itu, karena pengabdian, engkau harus sudah selesai dengan urusan keduniawian.”
Dalam obrolan itu, penulis mengutip ungkapan KH Tafsir, M.Ag. (Ketua PWM Jateng), bahwa untuk mencapai kedudukan ada beberapa hal yang harus dipunyai, yaitu:
-
Isi otak. Ini menyangkut seorang pemimpin yang harus cerdas.
-
Isi koper (finansial), karena sangat penting untuk mendukung operasional selama proses pemilihan.
-
Jumlah kepala, yaitu massa pendukung yang harus benar-benar memilih.
Selang beberapa hari, sang pemuda tersebut memberikan kabar bahwa progresnya mulai mendapatkan tiket untuk maju sebagai bakal calon kepala desa di Desa Troketon.
Seruan Sang Penasihat di Atas Meja Pertemuan
Komunikasi, baik itu lewat media WhatsApp maupun langsung dalam beberapa kesempatan, dilakukan sang kader tersebut untuk meminta tolong menjembatani pertemuan dengan pengurus inti PRM Troketon. Mas Taqin ingin bersarasehan, bersilaturahim, dan bertukar pikiran dengan pengurus inti PRM, yang pada intinya membahas pentingnya dakwah dalam arti luas, yaitu dakwah dalam bidang kebijakan atau politik praktis.
Setelah penulis membangun komunikasi, baik dengan Pak Ketua, Sekretaris, maupun Pak Bendahara PRM, alhamdulillah gayung bersambut. Tepat tanggal 7 Oktober 2026, hari Rabu sore, dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, sarasehan berjalan dengan baik. Tidak kurang dari durasi 50 menit, pertemuan tersebut berlangsung singkat, padat, dan pada pokok pembahasan.
Dalam sarasehan, penulis memandu acara tersebut dengan mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka yang telah menyempatkan waktunya. Dalam kesempatan tersebut, penulis mengutip Surah At-Taubah ayat 41.
ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Arab-Latin: Infirụ khifāfaw wa ṡiqālaw wa jāhidụ bi'amwālikum wa anfusikum fī sabīlillāh, żālikum khairul lakum ing kuntum ta'lamụn.
Artinya: Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Panggilan Jihad
Setelah membacakan ayat tersebut di atas, Gus Zul menguraikan bahwa kita harus peka dalam melihat kondisi saat ini. Dalam rangka memberikan ruang, waktu, dan kesempatan untuk berkontribusi yang memberikan dampak nyata pada umat dan masyarakat, yang saat ini masih kurang, salah satunya adalah jika ada warga Persyarikatan yang ingin mendarmabaktikan atau mengabdi kepada umat dan masyarakat di desa kita. Maka, ini merupakan salah satu bentuk “ibadah”. Oleh karena itulah, ini merupakan panggilan jihad dan menjadi momentum yang pas. Bagaimana jika ada warga Persyarikatan maju sebagai calon dan terpilih, maka dapat memberikan warna yang baik dan bermakna.
Oleh karena itulah, ini merupakan panggilan jihad dalam jihad politik praktis yang wajib hukumnya. Walaupun kita tidak mengatasnamakan Persyarikatan, secara institusi Muhammadiyah merupakan gerakan sosial keagamaan dan pendidikan. Sesuai Khitah Muhammadiyah, organisasi ini tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun dan menempatkan partai politik secara setara, tidak membeda-bedakan, serta menjaga harmoni antara kekuatan sosial dengan partai politik.
Bagi warga Muhammadiyah, diberikan kekuasaan dalam menentukan arah politiknya, termasuk aktif dalam politik praktis, harus didukung bersama, entah di legislatif (DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota) atau eksekutif, seperti kepala desa, bupati, wali kota, dan gubernur. Mereka diberi ruang dan kesempatan selama harus memperhatikan etika dan tatanan politik yang beradab.
Setelah selesai memberikan pengantar, penulis memberikan waktu kepada Mas Taqin. Dalam kesempatan tersebut, Mas Taqin menyampaikan ucapan terima kasih dan memohon doa restu serta dukungan dalam pencalonan kepala desa. Dengan demikian, ini menjadi bagian dari menorehkan sejarah bagi Muhammadiyah maupun umat Islam untuk memajukan desa ini.
Hal ini sejalan dengan apa yang diutarakan oleh Mas Rum (Gus Zul) bahwa jihad itu tidak hanya perang secara fisik, tetapi juga jihad dalam pengertian luas, yaitu memajukan masyarakat, menyejahterakan masyarakat dan umat. Salah satunya adalah dengan memegang kewenangan dalam kebijakan di pemerintahan tingkat desa.
Diskusi pun berjalan dengan cair. Penulis sebagai pemandu sarasehan tersebut memberikan kesempatan pertama kepada Ketua PRM, Sabto Widodo, yang menyambut baik atas pencalonan yang menjadi hajat Mas Taqin. Jika terpilih, sebuah nilai yang tidak boleh lepas adalah “TAKWA” dalam menjalankan roda pemerintahan di desa. Maka, untuk itu, kita harus all out untuk mendukung serta memilih dengan menggerakkan anggota keluarga dan warga Persyarikatan.
Sementara itu, Sekretaris PRM, M. Farhan, menyampaikan bahwa kita harus mendukung dan menggerakkan semua potensi yang ada. Adapun Bendahara PRM, Tony Zakaria, mendukung dengan daya upaya secara optimal. Semoga diijabahi Allah. Jika suatu hari menjabat, jangan lupa dan jadilah Mas Taqin yang sebenarnya, yaitu menjadi rendah hati, “tawadhu”, tidak sombong, dan tetap merangkul semuanya.
Tepat pukul 17.20, acara diakhiri. Akan tetapi, sebelum diakhiri, Gus menekankan bahwa untuk mencapai itu semua harus satu barisan yang rapi, kuat, dan kokoh. Baik mulai dari kita, tim, maupun warga Persyarikatan Muhammadiyah. Masa kita kalah dengan warga dan tokoh Nahdliyin yang sudah mendukung dengan all out? Maka, kita harus masif mempergunakan waktu yang tinggal enam bulan ini dengan sebaik-baiknya. Salah satunya, nanti Mas Farhan tolong buat grup WhatsApp, njih!
Sarasehan ditutup dengan sesi foto bersama.
Bismillah, dari sebuah panggilan jihad untuk jihad politik, semoga Allah memampukan, memudahkan, serta melindungi kita semuanya. Karena ini bagian dari bentuk implementasi dari 10 Kepribadian Muhammadiyah, yaitu “ikut serta dalam membantu dan berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, dan negara”.
Bagi penulis, sepak terjang sang kader tersebut telah dikenal lebih dari 20 tahun, sejak di IRM maupun di kampung, dan sering berinteraksi. Bahkan, ketika penulis bertemu calon istri sang kader (Taqin), penulislah yang mengantar.

