Kembali Fitrah Mencintai Bumi

Publish

20 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
53
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kembali Fitrah Mencintai Bumi 

Oleh: Gufron Amirullah, Wakil Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Dosen FKIP Uhamka

Di tengah kesyahduan takbir Hari Raya Idulfitri 1447 H, mari kita sejenak menengok jendela dunia. Di belahan bumi lain, masih ada saudara kita yang tak bisa bersimpuh melaksanakan ibadah setenang kita karena deru mesin perang. 

Pemikir Yuval Noah Harari mengingatkan kita bahwa perang bukanlah takdir alam, melainkan pilihan manusia yang kehilangan arah. Beliau menekankan bahwa "tidak ada hukum alam yang mengharuskan manusia berperang." Perang terjadi saat manusia sibuk memperkuat pasukan lahiriah, namun lupa memperkuat pasukan batiniah berupa empati. 

Rasulullah SAW saat peristiwa Fathu Makkah, alih-alih membalas dendam, beliau memilih membasuh luka sejarah dengan maaf yang tulus dan luhur. Beliau membuktikan bahwa kekuatan sejati adalah kemampuan untuk merangkul, bukan memukul. Di hari Fitri ini, kemanusiaan harus terjaga melampaui batas kebencian.

Idulfitri menjadi momentum yang tepat bagi umat untuk memperbaiki kemandirian ekonomi dan meninggalkan berbagai persoalan sosial yang menghambat kemajuan. Di hari kemenangan ini, mari bersihkan hati dari sisa kekecewaan atau rasa iri akibat merasa tersisih dari keadaan Ingatlah wasiat Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa "kemarahan dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan".  

Puasa Ramadan bukan sekedar tentang menahan dari lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan kesempatan berkontribusi dalam meningkatkan peran berdampak, yaitu memiliki rasa peduli dan tanggung jawab kepada sesama manusia. Kita senantiasa memperhatikan kesejahteraan orang lain.   

 

Momentum kepulangan kita menuju fitrah juga berarti kepulangan kita untuk mencintai bumi. David Wallace-Wells dalam bukunya, The Uninhabitable Earth (Bumi yang Tak Layak Dihuni), memberikan peringatan pedih: kita sedang menuju masa depan yang penuh bencana jika tangan manusia tak lagi lembut terhadap alam.

Rasulullah SAW memberikan motivasi spiritual yang luar biasa:

"Sekiranya hari kiamat akan segera terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad).

Jika kita merasa suci hari ini, maka tangan kita tak boleh lagi menjadi perusak. Jangan biarkan plastik mencemari tanah yang suci, jangan biarkan air terbuang sia-sia. Mencintai Allah berarti menjaga ciptaan-Nya. Biarlah Idulfitri kali ini menjadi janji kita untuk hidup lebih selaras dengan alam. 

Momentum Idulfitri juga identik dengan satu kata: Silaturahmi. Namun, seringkali silaturahmi kita terjebak dalam formalitas; sekadar berjabat tangan tanpa menyentuh hati, atau sekadar berkunjung tanpa membawa kedamaian. Di sinilah kita perlu meneladani sosok Pak AR Fachruddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah tahun 1968-1990. 

Bagi Pak AR, silaturahmi bukan sekadar menggugurkan kewajiban sosial, melainkan sebuah ibadah yang penuh kelembutan. Beliau mengajarkan kita bahwa inti dari silaturahmi di hari raya adalah menghilangkan sekat-sekat keangkuhan.

Pak AR adalah sosok yang tidak pernah merasa dirinya besar. Beliau tak jarang menggunakan sepeda motor tuanya untuk mendatangi rumah-rumah jamaah di pelosok, atau sekadar menyambangi kaum muda yang seringkali merasa "alergi" dengan tokoh agama.

Di hari Idulfitri ini, mari kita tanya hati kita: Sudahkah kita memiliki kerendahan hati untuk mendatangi mereka yang mungkin pernah berselisih dengan kita? Kemuliaan seseorang bukan terletak pada siapa yang paling banyak dikunjungi, tapi pada siapa yang paling luas hatinya untuk melangkah lebih dulu dalam meminta maaf dan menyambung rasa.

Gunakanlah Idulfitri sekaligus sebagai kesempatan silaturahmi "merajut kembali yang sempat terlepas". Jika ada tali persaudaraan yang sempat renggang karena perbedaan pilihan, sambunglah kembali. Jika ada hati yang sempat retak karena lisan yang tajam, basuhlah dengan maaf yang tulus. Marilah kita menjadi pribadi yang menghadirkan rasa "pulang" bagi setiap orang yang kita temui. Jadikanlah setiap sapaan kita hari ini sebagai obat bagi jiwa-jiwa yang kesepian, dan setiap senyuman kita sebagai pesan bahwa dunia masih memiliki harapan.

Nikmatilah hari raya ini dengan kegembiraan yang penuh syukur. Gembira karena kita telah menang melawan ego, gembira karena kita masih memiliki keluarga untuk dipeluk, dan gembira karena Allah masih memberi kita kesempatan untuk menebar manfaat di atas bumi-Nya yang indah ini. 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Bayujati Prakoso Tim Penyusun Manifesto Gerakan Inklusif Berkemajuan Muktamar IMM ke-XX tela....

Suara Muhammadiyah

12 March 2024

Wawasan

Mukjizat di Balik Hukum Alam: Memahami Kuasa Ilahi di Tengah Tantangan Hidup Oleh: Donny Syofyan, D....

Suara Muhammadiyah

13 August 2025

Wawasan

Enhancing Kader Muhammadiyah dalam Kiprah Kebangsaan Oleh: Achmad Hilal Madjdi, Wakil Ketua PDM Kud....

Suara Muhammadiyah

25 December 2023

Wawasan

Oleh: Muhammad Akhyar Adnan, Ketua Bidang Kajian Ekonomi Syariah Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan ....

Suara Muhammadiyah

12 June 2025

Wawasan

Oleh: Saidun Derani, Dosen Pascasarjana UM-Surby dan UIN Syahid Jakarta, aktivis PWM Banten Kata ul....

Suara Muhammadiyah

18 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah