Kepemimpinan yang Sabar, Gerakan yang Tak Pernah Padam

Suara Muhammadiyah

23 September 2026

128
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Kepemimpinan yang Sabar, Gerakan yang Tak Pernah Padam

Oleh: Muthiah Umar, Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Barat 

Ingat kisah KHA. Dahlan mengajarkan Surah Al-Ma'un, para muridnya tidak hanya diminta memahami ayat, tetapi juga mengamalkannya. Konon, ketika para murid merasa sudah cukup memahami dan ingin beralih ke surat yang lain, KH Ahmad Dahlan justru mengingatkan bahwa memahami Al-Ma'un tidak cukup dengan menghafalnya. Ayat itu harus dihidupkan dalam tindakan, yakni memperhatikan anak yatim, membantu orang miskin, dan menghadirkan kepedulian sosial.

Kisah tersebut sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan kepemimpinan yang sangat dalam. Ada pelajaran yang sangat relevan untuk direnungkan oleh setiap pemimpin di Persyarikatan, memimpinkan proses perjuangan dengan sabar, dan meyakinkan semua bahwa amal sholih yang berdampak luas hampir tidak pernah lahir dari jalan yang mudah. 

Sebuah gagasan tidak akan menjadi gerakan apabila pemimpin tidak cukup sabar mengajak semua yang dipimpinnya untuk merintis langkah mewujudkannya. Seorang pemimpin yang tidak memiliki kesabaran, akan mudah lelah, mudah kecewa, mudah tersinggung, bahkan mudah tergoda untuk meninggalkan cita-cita hanya karena jalan menuju cita-cita itu ternyata tidak mudah.

KH Ahmad Dahlan membangun Muhammadiyah dalam suasana yang tidak serba mudah. Gagasan pembaruan keislaman, pendidikan, pelayanan sosial, kesehatan, dan berbagai amal usaha yang kemudian berkembang menjadi kekuatan Muhammadiyah, membutuhkan perjuangan yang panjang. Dan kita mengakui kesabaran beliau dalam memimpinkan persyarikatan.

Hingga saat ini kita mendapat amanah untuk memimpin, kita tetap akan dihadapkan pada keterbatasan, atau penolakan, atau mungkin kesalahpahaman. Ada proses meyakinkan orang lain. Ada pekerjaan yang hasilnya mungkin belum terlihat ketika kita masih hidup. Namun kita terus bergerak. Di situlah kita memahami pentingnya karakter sabar bagi seorang pemimpin. Sabar itu aktif, bukan pasif. Sabar itu tetap teguh pada kebaikan, terus mengajak, terus berikhtiar, dan terus bergerak meskipun perjalanan menuju tujuan tidak selalu mudah.

Memahami Makna Sabar

Banyak orang sering memahami sabar secara sederhana, yakni tidak pemarah, mampu menahan emosi, menerima keadaan, mau menunggu, atau membiarkan persoalan. Itu pemahaman yang kurang tepat, terutama bagi seorang pemimpin, memaknai sabar harus proporsional.

Pemimpin berhadapan dengan manusia. Dan manusia tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama. Ada yang cepat memahami, ada yang membutuhkan waktu, ada yang bersemangat pada awalnya tetapi kemudian melemah, ada yang kritis, ada yang sinis, dan macam-macam sifat kolega dan anggota, yang semuanya sesungguhnya memiliki potensi besar tetapi belum menemukan ruang untuk berkembang.

Maka pemimpin membutuhkan kesabaran mulai dari memahami manusia yang berada dalam lingkar kepemimpinannya. Sabar bukan berarti pemimpin membiarkan kesalahan, atau tidak tegas, atau membiarkan persoalan tanpa penyikapan dan keputusan.

Pemimpin yang sabar dapat tetap tegas, namun bukan kasar, dapat mengoreksi tanpa merendahkan, dan dapat mengambil keputusan bijak. Pemimpin juga harus dapat memimpin egonya, memimpin emosinya, memimpin ambisinya, memimpin rasa takutnya, memimpin rasa kecewa maupun puas atas kinerjanya. Dalam konteks inilah sabar menjadi kekuatan kepemimpinan.

Secara psikologis, kesabaran berkaitan dengan kemampuan regulasi diri, pengendalian emosi, dan kemampuan menunda respons atau kepuasan sesaat demi tujuan yang lebih panjang. Sejumlah kajian akademik mengenai kesabaran juga menunjukkan kaitannya dengan pengendalian diri, pengelolaan emosi, dan pengambilan keputusan.

Apa yang ditemukan dalam kajian psikologi tersebut sebenarnya memberikan ruang dialog yang menarik dengan ajaran Islam. Sementara kajian ilmu komunikasi menempatkan sabar sebagai bagian dalam memperlakukan orang lain secara empatik.

Islam sejak awal telah mengajarkan manusia untuk tidak hidup berdasarkan dorongan sesaat. Terlebih seorang pemimpin, harus mampu mengendalikan diri, bersikap teguh, penuh pertimbangan, karena berorganisasi itu punya orientasi kepada tujuan yang lebih jauh. Sabar berarti tetap bergerak sambil menjaga hati agar tetap lurus pada tujuan.

Al-Qur'an memberikan pesan yang sangat kuat dalam Surah Ar-Rum ayat 60:

“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan jangan sekali-kali orang-orang yang tidak meyakini itu membuat engkau goyah.”

Betapa relevan ayat ini bagi seorang pemimpin. Perintah sabar yang disandingkan dengan janji Allah, mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran tidak berdiri sendiri, kesabaran membutuhkan iman, keyakinan. Pemimpin akan sulit bertahan dalam perjalanan amanahnya jika ia tidak percaya bahwa apa yang dikerjakannya berkaitan dengan keimanan. Hasutan dalam hati untuk menghentikan langkah beramal sholih sering menggoyahkan iman. Maka Pemimpin harus yakin bahwa memperjuangkan amal sholih tidak pernah sia-sia. 

Ada syarat khusus untuk seorang pemimpin, karena sesungguhnya tugasnya adalah mengajak orang lain untuk membumikan narasi menjadi amal. Dan tantangan terbesar kepemimpinan bukan tentang menemukan gagasan yang hebat, namun justru bagaimana membuat orang lain percaya pada gagasan itu, kemudian bersedia berjalan bersama untuk mewujudkannya. untuk itu diperlukan kesabaran dan optimisme yang bersumber dari Iman.

Dalam Surat Luqman ayat 8, Allah menjanjikan surga-surga yang penuh kenikmatan untuk orang-orang yang beriman dan ber amal sholih.

Ayat ini menghubungkan iman dengan amal shalih. Bagi pemimpin Persyarikatan, hubungan tersebut sangat penting. Kepemimpinan tidak boleh berhenti pada keberhasilan administratif. Bukan sekadar berapa banyak program yang selesai. Bukan hanya berapa besar anggaran yang dikelola. Akan tetapi evaluasi amal sholih apa yang telah dirasakan umat dari kepemimpinan kita.

Kepemimpinan dalam Spirit Muhammadiyah

Dalam Muhammadiyah, kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari karakter gerakannya sebagai gerakan Islam dan gerakan amal. Kita tidak hanya berbicara tentang dakwah melalui narasi. Sejak awal KHA Dahlan mengajarkan para sahabat dan pengikutnya untuk sedikit bicara banyak bekerja, karena menjadi pemimpin di Persyarikatan Muhammadiyah sesungguhnya adalah menerima amanah untuk menggerakkan amal sholih.

Di sinilah sabar menjadi karakter kepemimpinan yang penting. Pemimpin Muhammadiyah perlu regenerasi dengan sabar melaksanakan kaderisasi. Sabar mengembangkan amal usaha. Sabar memperbaiki tata kelola organisasi. Sabar menghadapi perbedaan. Sabar membangun kolaborasi. Sabar pula ketika hasil perjuangan belum sebesar yang diharapkan.

Muhammadiyah bukan gerakan satu generasi. Apa yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari kesabaran generasi sebelumnya. Mereka menanam sesuatu yang mungkin belum mereka nikmati hasilnya, kini kita menerima hasilnya. Maka tugas kita adalah menanam kembali untuk generasi yang akan datang. Kita adalah bagian dari estafet panjang gerakan Muhammadiyah.

Pada akhirnya, kepemimpinan Muhammadiyah harus kembali kepada tujuan yang sangat mendasar: menghadirkan Islam sebagai rahmat dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan, untuk terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Memimpin bukan sekadar mengatur orang. Kepemimpinan adalah pelayanan. Memimpin perguruan tinggi berarti memastikan pendidikan memberikan manfaat terbaik bagi mahasiswa dan masyarakat. Memimpin sekolah berarti memastikan anak-anak memperoleh pendidikan yang membentuk ilmu sekaligus akhlak. Memimpin rumah sakit berarti memastikan orang sakit mendapatkan pelayanan yang manusiawi. Memimpin lembaga sosial berarti memastikan mereka yang lemah mendapat perlindungan. Memimpin organisasi berarti memastikan gerakan terus memberikan manfaat bagi umat.

Semua itu bukan sekadar pekerjaan, semua itu kita pastikan sebagai amal shalih. Dan ketika kepemimpinan dipahami sebagai amal shalih, maka cara kita memimpin pun seharusnya berubah. Kita tidak akan lagi memikirkan, “Apa yang saya dapatkan dari jabatan ini?” tetapi bertanya: “Apa yang dapat saya berikan melalui amanah ini?” 

Pertanyaan sederhana itu dapat mengubah cara kita mempraktikkan kepemimpinan. Sabar bukan berhenti bergerak, sabar adalah energi untuk terus bergerak. Para pendahulu di Persyarikatan memberikan teladan tentang itu. Bagaimana beliau meneladankan sabar dalam kepemimpinannya sebagai kemampuan untuk terus melakukan yang terbaik, meskipun hasilnya belum segera terlihat.

Sabar ditunjukkan dengan strategi, dengan target, dengan evaluasi, dengan memperbaiki kesalahan, dengan menerima kritik, dengan belajar dari kegagalan. Menjadi pemimpin di Persyarikatan Muhammadiyah adalah menjadi orang yang mampu mengajak lebih banyak manusia melakukan kebaikan.

Sabar adalah energi untuk tidak kehilangan optimisme, karena kita percaya bahwa Allah ‘Azza wa Jalla melihat seluruh proses perjuangan itu. Karena kita ingin meninggalkan warisan yang baik untuk generasi berikutnya.

Setiap pemimpin pada akhirnya akan selesai dari jabatannya. SK pimpinan akan kadaluwarsa. Kewenangan akan berganti. Nama kita perlahan-lahan tidak lagi disebut. Tetapi akan ada yang tetap hidup, amal sholih yang pernah kita ikhtiarkan, ada warisan tata kelola organisasi yang baik, ada kader-kader pelanjut yang kuat dan cakap, ada lembaga-lembaga layanan pendidikan-kesehatan-sosial yang telah dan tetap akan dapat dinikmati oleh umat.

Memimpin persyarikatan dengan sabar bukan berarti berjalan tanpa masalah, karena masalah tetap akan datang silih berganti untuk menguji keimanan, namun ketenangan hati menjadi karunia bila kita yakin berada di jalan kebaikan dan kebenaran. Dan gerakan yang dibangun dengan kesabaran, in syaa Allah, tidak akan mudah padam. Wallaahu a’lam bishshawwab.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengapa Islam Melonggarkan Aturan Pakaian Lansia? Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Buda....

Suara Muhammadiyah

29 April 2026

Wawasan

Channelling-Sindikasi Embrio Konsorsium Jejaring BTM Oleh: Arip Hidayat, General Manager BTM Artha ....

Suara Muhammadiyah

24 February 2026

Wawasan

Ekonomi Berdikari Muhammadiyah Oleh: Dr Masud HMN Berdirinya gedung SM delapan tingkat yang terlet....

Suara Muhammadiyah

5 October 2023

Wawasan

Ketika Semua Sudah Ber-"Muhammadiyah" Oleh: Didit Nurcahya* Bagaimana jika suatu hari Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

15 September 2026

Wawasan

Jalur Sutera Modern dan Kebangkitan Ekonomi China dan Asia  Oleh: Buya Anwar Abbas Jalur Sute....

Suara Muhammadiyah

19 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah