Ketua PP Muhammadiyah: Agama Pegangan Publik Hadapi Kemerosotan Moral
JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Syafiq A. Mughni menegaskan bahwa tantangan besar bangsa Indonesia bukan semata-mata ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga kemerosotan moral. Menurutnya, kemajuan intelektual dan teknologi perlu diimbangi dengan integritas, keadilan, dan keadaban dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.
Hal tersebut disampaikan Syafiq dalam Sarasehan Nasional Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI)–Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bertajuk “Mencintai Indonesia: Merawat Hikmat Kebijaksanaan, Menjaga Keadaban Republik” di Gedung KWI, Jalan Cut Meutia Nomor 10, Jakarta Pusat, Rabu (14/10).
Dalam pemaparannya, Syafiq menyampaikan apresiasi terhadap peran Gereja Katolik melalui berbagai pernyataan dan sikap KWI dalam merespons persoalan serta krisis yang dihadapi bangsa. Ia menilai sikap tersebut merupakan wujud nyata komitmen moral lembaga keagamaan terhadap kehidupan publik.
“Saya sangat gembira berada di dalam forum ini. Saya memperhatikan terus perkembangan Gereja Katolik di Indonesia, termasuk pernyataan-pernyataan KWI dalam menghadapi berbagai kasus dan krisis di tanah air. Saya kira ini adalah contoh paling nyata komitmen moral yang diberikan oleh institusi keagamaan,” ungkapnya.
Syafiq kemudian menjelaskan bahwa mencintai Indonesia perlu dimulai dari tiga dimensi yang saling berkaitan, yakni mencintai Tuhan, mencintai kemanusiaan, dan mencintai bangsa serta negara. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Menurutnya, kecintaan kepada Tuhan harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap sesama manusia. Setiap manusia merupakan ciptaan Tuhan yang memiliki kemuliaan dan martabat. Karena itu, kecintaan terhadap kemanusiaan perlu diwujudkan melalui komitmen untuk menyelesaikan berbagai persoalan, memperjuangkan keadilan, meningkatkan kesejahteraan, serta menghadirkan kedamaian bagi seluruh umat manusia. “Cinta terhadap Tuhan harus disertai juga dengan cinta terhadap kemanusiaan,” tegasnya.
Kecintaan terhadap kemanusiaan, lanjut Syafiq, juga harus menjadi landasan dalam mencintai bangsa dan negara. Indonesia perlu dijaga agar tetap menjadi institusi yang mampu menegakkan keadilan, menghadirkan kesejahteraan, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mengawal perjalanan negara agar tidak menyimpang dari cita-cita pembentukannya.
Ia menekankan bahwa cinta kepada Indonesia tidak boleh dibatasi oleh perbedaan agama, pilihan politik, status sosial, maupun latar belakang budaya. Keberagaman justru perlu menjadi ruang untuk memperkuat persatuan dan membangun kehidupan bersama yang lebih baik.
“Ketiganya tidak bisa dipisahkan. Itu harus tertanam kuat di dalam kesadaran kita, yang menggerakkan dan memberikan dampak terhadap perwujudan cinta, bukan sekadar cinta terhadap Tuhan, tetapi juga cinta terhadap kemanusiaan dan cinta terhadap negara dan bangsa Indonesia,” jelasnya.
Selain menyoroti pentingnya cinta kepada Tuhan, kemanusiaan, dan bangsa, Syafiq mengajak masyarakat untuk melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai peluang bagi Indonesia. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung secara akumulatif dan melibatkan kontribusi berbagai bangsa serta peradaban.
Ia mengutip ungkapan ilmuwan Isaac Newton, “If I have seen further, it is by standing on the shoulders of giants.” Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa kemajuan pengetahuan yang dicapai seseorang tidak terlepas dari sumbangan para ilmuwan sebelumnya.
Dengan sifat ilmu pengetahuan yang universal, Indonesia dapat memanfaatkan berbagai temuan dan perkembangan teknologi dari berbagai negara untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Karena itu, ketertinggalan dalam penguasaan teknologi bukan alasan untuk berputus asa, selama bangsa ini terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kapasitasnya.
Namun, Syafiq mengingatkan bahwa persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada moralitas. Kemajuan pendidikan dan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan integritas. Seseorang atau masyarakat dapat memiliki pengetahuan yang tinggi, tetapi belum tentu menunjukkan perilaku yang jujur dan bertanggung jawab. “Kalau saya diminta untuk mendefinisikan defisit apa yang paling vital dan paling membahayakan, adalah defisit moral kita,” ujarnya.
Ia mencontohkan perkembangan berbagai bidang keilmuan, seperti akuntansi, ekonomi, administrasi publik, dan kebijakan publik, yang semakin maju berkat pendidikan tinggi dan dukungan perangkat digital. Akan tetapi, kemajuan tersebut tetap menyisakan persoalan apabila tidak disertai etika dan tanggung jawab moral.
Bagi Syafiq, kemerosotan moral merupakan tantangan serius karena dapat merusak kepercayaan, melemahkan tata kelola, dan menjauhkan bangsa dari cita-cita keadilan serta kesejahteraan.
Dalam konteks tersebut, Syafiq menekankan pentingnya peran tokoh dan institusi agama untuk menjadikan nilai-nilai keagamaan benar-benar berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Agama tidak cukup berhenti pada identitas, simbol, maupun ritual, tetapi harus tercermin dalam kejujuran, integritas, kepedulian sosial, dan perilaku yang berkeadaban.
Ia menyinggung sejumlah survei yang menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat religiositas dan perilaku moral di sebagian masyarakat. Meski validitas dan metodologi survei perlu diperiksa secara cermat, fenomena tersebut menjadi bahan refleksi bagi institusi keagamaan.
Menurutnya, masyarakat perlu melihat hubungan yang nyata antara kehidupan beragama dan perilaku etis. Semakin kuat penghayatan seseorang terhadap ajaran agama, semestinya semakin nyata pula komitmennya terhadap kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan.
Jika agama tidak mampu menunjukkan peran tersebut, kepercayaan masyarakat terhadap fungsi agama dalam membangun kehidupan yang baik dapat melemah. Karena itu, para pemimpin agama memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan teladan moral sekaligus mendorong perubahan sosial.
Syafiq menegaskan, mencintai Indonesia berarti turut membangun keadaban publik melalui pendidikan moral, penguatan integritas, serta kerja bersama lintas agama dan kelompok masyarakat. Dengan demikian, agama dapat berkontribusi nyata dalam membentuk bangsa yang maju, adil, dan sejahtera.
“Agama kita harus benar-benar fungsional di dalam membentuk manusia yang mampu membawa Indonesia menjadi negara yang maju, menjadi negara yang berkeadilan, dan negara yang berkesejahteraan,” pungkasnya.