Kita Pernah Berhasil Membangun Sistem dan Praktik Baik
Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso
“Terima kasih banget kepada para penggagas LRT (Light Rail Transit) karena telah merintis sarana transportasi yang sangat memudahkan. Semoga Allah memberikan keberkahan dan menempatkan mereka di surga terbaik kelak.”
Ungkapan penuh rasa syukur itu disampaikan Ibu Hening, 50 tahun, warga Kompleks Bulog Jatiasih, Bekasi, yang setiap hari bekerja di Jakarta Pusat.
Sebelumnya, ia membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Menggunakan transportasi umum pun tidak selalu lebih cepat. Namun, setelah tersedia layanan LRT yang terintegrasi dengan moda transportasi lain, perjalanannya kini dapat ditempuh sekitar 45 menit dengan kombinasi LRT dan ojek online.
Bagi Ibu Hening, perubahan itu bukan sekadar soal kecepatan perjalanan. Ia merasakan sendiri bagaimana pembangunan transportasi publik dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya, sekaligus membuat perjalanan sehari-hari lebih nyaman.
Pengalaman tersebut mengingatkan saya pada kondisi Jakarta ketika pertama kali tinggal di kota ini pada 1987. Saat itu, transportasi umum didominasi bus-bus seperti KOPAJA, Metro Mini, PPD, Mayasari Bakti, Saudaranta, Miniarta, Kowanbisata, Koantas Bima, dan Bianglala. Sebagian bus sudah tua, penuh sesak, dan panas. Kenyamanan, apalagi keamanan, masih menjadi masalah yang sangat serius.
Persoalan transportasi umum saat itu bukan hanya soal waktu tempuh dan kenyamanan. Keamanan penumpang juga menjadi masalah tersendiri. Saya harus menyiapkan berbagai cara untuk mengamankan barang-barang berharga, baik yang disimpan di dalam tas maupun yang melekat di tubuh. Saat itu, jangankan dompet, pager, atau barang-barang di saku, jam tangan yang terikat kuat di pergelangan tangan pun bisa dicopet saat naik atau turun bus.
Ancaman bagi pengguna kendaraan umum tidak berhenti di situ. Ketika menunggu bus di halte atau terminal, ada saja penjahat jalanan yang meminta uang secara paksa. Jika menolak memberikannya, kekerasan bisa saja terjadi. Saya pun akhirnya memilih mengalah karena tidak punya cukup keberanian dan keterampilan untuk melawan.
Berkaca pada Jakarta
Menyaksikan dan mengalami langsung proses pembangunan sistem transportasi di Jakarta membuat saya menyimpan optimisme besar terhadap upaya merintis kemajuan di Indonesia. Jakarta adalah salah satu contohnya.
Hampir tiga puluh tahun lalu, saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya bisa menikmati MRT, LRT, TransJakarta, dan JakLingko dengan biaya yang relatif murah. Sekarang, saya bisa berkeliling Jakarta menggunakan berbagai moda transportasi yang berpendingin udara, nyaman, dan terintegrasi. Saya bisa turun di halte-halte yang tersedia tanpa harus diliputi rasa takut terhadap ancaman pencopetan atau pelecehan seksual di dalam kendaraan umum seperti dahulu.
Tentu, satu atau dua kejadian yang mengganggu keamanan penumpang masih mungkin terjadi. Namun, keberadaan petugas keamanan yang sigap dan terlatih membuat berbagai persoalan dapat segera ditangani dengan lebih baik.
Bagi saya, keberhasilan Jakarta tidak hanya terletak pada pembangunan infrastruktur dan sistem transportasi. Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting, yakni budaya politik yang memungkinkan sebuah gagasan baik dilanjutkan oleh pemimpin berikutnya, meskipun berasal dari latar belakang dan kepentingan politik yang berbeda.
Gagasan besar pembangunan sistem transportasi Jakarta telah dirintis sejak era Gubernur Sutiyoso. Setelah masa kepemimpinannya berakhir, Fauzi Bowo melanjutkan perencanaan tersebut. Begitu pula para gubernur berikutnya, mulai dari Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Anies Baswedan, hingga para penjabat gubernur Heru Budi Hartono dan Teguh Setyabudi, sebelum akhirnya diteruskan oleh Gubernur Pramono Anung.
Tentu, setiap pemimpin memiliki prioritas, pendekatan, dan kontribusinya masing-masing. Namun, perjalanan pembangunan transportasi Jakarta menunjukkan bahwa sebuah rencana besar dapat terus dilanjutkan meskipun kepemimpinan berganti. Para pemimpin tidak harus merasa gengsi atau rendah diri hanya karena meneruskan gagasan yang dirintis oleh pendahulunya.
Bagi saya, inilah salah satu pelajaran penting dari Jakarta: kepemimpinan seharusnya dibangun di atas visi jangka panjang, bukan semata-mata keinginan untuk meninggalkan jejak pribadi. Jika sebuah perencanaan telah terbukti baik dan bermanfaat bagi masyarakat, meneruskannya justru merupakan bentuk kedewasaan dan tanggung jawab seorang pemimpin.
Jejak pembangunan sistem transportasi Jakarta memberi saya alasan untuk tetap optimistis: pergantian pemimpin tidak harus berarti pergantian arah. Dengan visi yang jelas, perencanaan yang matang, dan kesediaan untuk melanjutkan hal-hal baik yang telah dirintis sebelumnya, kemajuan bukanlah sesuatu yang mustahil diwujudkan di Indonesia.
Ketika Kebanggaan Berhadapan dengan Kenyataan
Sayangnya, ketika melihat kondisi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo–Gibran, jujur saya bingung dengan kejelasan arah pembangunan nasional. Apa perbincangan penting tentang program pembangunan nasional selain isu MBG dan Kopdes?
Saya menyaksikan pidato presiden yang berkali-kali menyatakan bahwa Indonesia adalah negara kaya, negara kuat, dan negara hebat. Presiden juga berulang kali menegaskan bahwa kepemimpinan nasional berjalan dengan arah yang jelas. Namun, di mana kejelasan arah itu? Apa yang disampaikan Presiden terkadang terasa bertolak belakang dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat.
Jika Indonesia adalah negara kaya, mengapa persoalan harga dan pasokan bahan bakar masih menjadi masalah di sejumlah daerah? Di kota-kota besar, sejumlah stasiun pengisian bahan bakar milik swasta tutup selama berbulan-bulan. Banyak karyawan dirumahkan. Lalu, bagaimana kekayaan Indonesia yang selama ini dibanggakan dapat diterjemahkan menjadi kepastian pasokan, kegiatan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat?
Ketika Presiden berulang kali menyatakan bahwa Indonesia hebat dan kuat, mengapa aparatur negara masih gagap mengatasi kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra? Persoalan yang telah berulang selama puluhan tahun ini belum juga terselesaikan secara tuntas. Lalu, di mana letak kehebatan kita jika masalah yang sama terus berulang?
Hal yang paling melukai hati adalah ketika, dalam situasi genting akibat kebakaran hutan, dana yang seharusnya digunakan untuk penanganan bencana justru dikorupsi. Adakah perilaku aparat negara yang lebih menyakitkan dari itu? Bejat!
Setiap bangsa tentu membutuhkan optimisme dan kepercayaan diri. Namun, kebanggaan harus ditopang oleh kenyataan, sedangkan optimisme harus dibuktikan melalui kerja nyata. Kata-kata besar tidak akan banyak berarti jika masyarakat justru berhadapan dengan persoalan yang tak kunjung teratasi.
Kebanggaan Harus Dibuktikan
Saya tidak menyimpulkan bahwa Jakarta telah menyelesaikan seluruh persoalannya. Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda. Namun, pengalaman Jakarta memperlihatkan pentingnya kesinambungan kebijakan dan kesediaan untuk meneruskan pekerjaan yang bermanfaat.
Para pemimpin negeri ini perlu bersikap dewasa. Belajarlah dari pengalaman Jakarta. Pembangunan sistem transportasi di ibu kota menunjukkan bahwa sebuah rencana besar dapat dirintis oleh seorang pemimpin, dilanjutkan oleh pemimpin berikutnya, dan dikembangkan oleh generasi sesudahnya tanpa harus terjebak dalam gengsi politik.
Pemimpin tidak harus selalu tampil sebagai pencetus gagasan baru atau mengklaim dirinya sebagai pembawa perubahan. Ada kalanya, kebesaran seorang pemimpin justru terlihat dari kesediaannya melanjutkan hal-hal baik yang telah dirintis pendahulunya, memperbaiki kekurangannya, dan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Jakarta memberi saya alasan untuk tetap optimistis. Perjalanan transportasi publiknya menunjukkan bahwa perubahan bisa diwujudkan ketika ada kemauan untuk merintis, melanjutkan, dan memperbaiki. Kita pernah berhasil membangun sistem dan praktik baik. Kita pernah menunjukkan bahwa pergantian pemimpin tidak harus menghentikan kemajuan.
Ukuran kebesaran sebuah bangsa bukanlah seberapa sering para pemimpinnya menyebut bangsa itu hebat, melainkan seberapa nyata negara hadir untuk menyelesaikan persoalan dan memperbaiki kehidupan rakyatnya. Rakyat ingin merasakan manfaat kekayaan dan kekuatan negara itu dalam kehidupan sehari-hari.

