Membangun Peradaban dari Keluarga

Suara Muhammadiyah

24 October 2026

44
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Membangun Peradaban dari Keluarga

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Kemajuan suatu bangsa sering kali diukur melalui pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, kualitas infrastruktur, dan pencapaian pendidikan. Ukuran-ukuran tersebut penting, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan keadaan masyarakat. Di balik keberhasilan pembangunan, terdapat pertanyaan mendasar yang tidak boleh diabaikan, apakah kemajuan yang dicapai benar-benar menjadikan kehidupan keluarga semakin sejahtera, aman, dan bermartabat? Pertanyaan ini penting karena pembangunan yang menghasilkan kemajuan material, tetapi mengabaikan kualitas hubungan manusia, berisiko kehilangan makna kemanusiaannya.

Keluarga merupakan salah satu lingkungan terpenting dalam pembentukan manusia. Sebelum mengenal kehidupan masyarakat yang lebih luas, seseorang terlebih dahulu belajar tentang kepercayaan, tanggung jawab, kasih sayang, dan hubungan sosial melalui keluarganya. Pengalaman dalam keluarga turut membentuk cara seseorang memahami dirinya dan memperlakukan orang lain. Karena itu, pembangunan keluarga tidak dapat dipandang sebagai urusan domestik semata. Ia memiliki hubungan erat dengan kualitas sumber daya manusia, solidaritas sosial, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Namun, kehidupan keluarga masa kini berlangsung dalam situasi yang semakin kompleks. Perubahan struktur ekonomi, mobilitas penduduk, perkembangan teknologi digital, serta meningkatnya tuntutan kehidupan menghadirkan tantangan yang berbeda dari masa sebelumnya. Sebagian keluarga menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, sementara keluarga lainnya mengalami persoalan komunikasi, pengasuhan, kesehatan mental, atau hubungan antargenerasi. Kemajuan masyarakat ternyata tidak serta-merta menghapus kerentanan keluarga. Bahkan, dalam keadaan tertentu, perubahan yang berlangsung cepat dapat menciptakan tekanan baru yang belum sepenuhnya mampu diantisipasi.

Kenyataan tersebut mengharuskan kita memperluas pemahaman mengenai ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mempertahankan perkawinan atau memenuhi kebutuhan ekonomi. Lebih dari itu, ketahanan keluarga mencakup kemampuan membangun hubungan yang sehat, memenuhi kebutuhan anggota keluarga, mengelola perubahan, menyelesaikan persoalan secara bermartabat, serta memperoleh dukungan ketika menghadapi kesulitan. Keluarga yang tangguh bukanlah keluarga yang terbebas dari masalah, melainkan keluarga yang memiliki kapasitas untuk menghadapi persoalan tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dan kepedulian antaranggota.

Dalam perspektif Islam, keluarga memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Al-Qur'an dalam Surah Ar-Rum ayat 21 menegaskan pentingnya ketenteraman, cinta, dan kasih sayang dalam kehidupan perkawinan. Nilai-nilai tersebut mengingatkan bahwa keluarga bukan sekadar hubungan administratif atau ekonomi, melainkan ikatan kemanusiaan yang mengandung amanah moral. Ketenteraman tidak mungkin tumbuh melalui kekerasan, penghinaan, atau pengabaian. Demikian pula kasih sayang tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap martabat, keadilan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai Islam seharusnya menjadi kekuatan yang memampukan keluarga menghadapi perubahan, bukan alasan untuk menutup mata terhadap persoalan yang mereka alami.

Bagi Muhammadiyah, ketahanan keluarga perlu ditempatkan dalam cakrawala Islam Berkemajuan. Kemajuan tidak hanya berarti kemampuan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga kesanggupan menjadikan kemajuan tersebut sebagai jalan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Keluarga harus dapat merasakan manfaat nyata dari pendidikan yang semakin baik, pelayanan kesehatan yang berkembang, serta kemajuan sosial dan ekonomi. Dengan demikian, membangun keluarga tangguh bukan sekadar mengajak setiap rumah tangga memperbaiki dirinya, tetapi juga memastikan adanya lingkungan kehidupan yang memungkinkan keluarga tumbuh secara sehat dan bermartabat.

Di sinilah muncul kebutuhan untuk mengubah orientasi pembangunan. Selama ini, kebijakan publik cenderung disusun berdasarkan bidang-bidang tertentu, seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perumahan, dan perlindungan sosial. Padahal, dampak kebijakan dari berbagai sektor tersebut bertemu dalam kehidupan keluarga. Keputusan mengenai jam kerja, misalnya, dapat memengaruhi kesempatan orang tua mendampingi anak. Kebijakan perumahan berpengaruh terhadap keamanan dan kenyamanan kehidupan rumah tangga. Ketersediaan layanan kesehatan menentukan kemampuan keluarga merawat anggotanya. Sementara itu, akses pendidikan dan perlindungan sosial berkaitan langsung dengan kesempatan keluarga memperbaiki taraf kehidupannya.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengarusutamaan keluarga dalam pembangunan. Pendekatan ini menempatkan kepentingan, kebutuhan, dan kesejahteraan keluarga sebagai pertimbangan penting dalam proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan. Tujuannya bukan menjadikan keluarga sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan, melainkan memastikan bahwa setiap kebijakan memperhatikan dampaknya terhadap kehidupan keluarga. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan tidak hanya dinilai dari besarnya anggaran yang dibelanjakan atau banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi juga dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Pengarusutamaan keluarga juga menuntut pengakuan terhadap keberagaman kondisi masyarakat. Tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi, susunan anggota, dan kebutuhan yang sama. Keluarga dengan anak usia dini menghadapi tantangan berbeda dari keluarga yang merawat anggota lanjut usia. Keluarga dengan anggota penyandang disabilitas membutuhkan dukungan yang mungkin tidak diperlukan keluarga lainnya. Demikian pula keluarga yang menghadapi kemiskinan, kehilangan pekerjaan, atau persoalan kesehatan memerlukan bentuk pendampingan yang berbeda. Karena itu, kebijakan yang berpihak kepada keluarga harus dilandasi keadilan, empati, dan pemahaman terhadap keadaan nyata, bukan sekadar anggapan mengenai bentuk keluarga yang ideal.

Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang dalam menghadirkan dakwah melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Pengalaman tersebut merupakan modal penting untuk memperkuat ketahanan keluarga secara lebih terpadu. Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah dapat mengembangkan pendidikan yang memperhatikan hubungan antara peserta didik, orang tua, dan lingkungan sosial. Rumah sakit serta fasilitas pelayanan kesehatan dapat memperkuat layanan yang peka terhadap kebutuhan keluarga. Majelis, lembaga, dan organisasi otonom dapat mengembangkan pembinaan, pendampingan, serta pemberdayaan yang membantu keluarga menghadapi persoalan kehidupan secara lebih mandiri.

Pada tingkat komunitas, ranting dan cabang Muhammadiyah mempunyai kedudukan yang sangat strategis. Kedekatannya dengan kehidupan masyarakat memungkinkan keduanya menjadi penggerak solidaritas sosial berbasis keluarga. Melalui pengajian, kegiatan pemberdayaan, pendampingan pengasuhan, penguatan ekonomi, dan kepedulian terhadap warga rentan, Persyarikatan dapat menghadirkan lingkungan yang lebih mendukung kehidupan keluarga. Pendekatan ini sekaligus memperluas makna dakwah, dari penyampaian pengetahuan keagamaan menuju ikhtiar bersama untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia.

Semangat tersebut memiliki akar yang kuat dalam tradisi Muhammadiyah. Spirit Al-Ma'un mengajarkan bahwa keberagamaan harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang berada dalam keadaan lemah dan membutuhkan pertolongan. Dalam konteks ketahanan keluarga, semangat Al-Ma'un menuntut kepekaan terhadap kesulitan yang dialami rumah tangga di sekitar kita. Keluarga yang mengalami kemiskinan membutuhkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan. Anak-anak yang menghadapi persoalan pengasuhan memerlukan perlindungan dan pendampingan. Keluarga yang mengalami krisis membutuhkan dukungan yang menghormati martabat serta keselamatan anggotanya. Dakwah yang mencerahkan harus mampu menghadirkan pertolongan yang relevan dengan kebutuhan tersebut.

Tentu, penguatan keluarga tidak berarti mengurangi pentingnya tanggung jawab pribadi. Orang tua tetap memiliki amanah untuk mendidik, melindungi, dan mendampingi anak. Suami dan istri perlu membangun hubungan yang dilandasi kerja sama, kesetaraan martabat, musyawarah, dan tanggung jawab bersama. Anak-anak perlu dibimbing agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, mandiri, dan peduli terhadap sesama. Namun, tanggung jawab tersebut akan lebih mudah dijalankan apabila tersedia lingkungan sosial, ekonomi, dan kelembagaan yang mendukung. Ketahanan keluarga dengan demikian lahir dari pertemuan antara ikhtiar internal keluarga dan tanggung jawab kolektif masyarakat.

Dalam jangka panjang, perhatian terhadap keluarga merupakan investasi penting bagi pembangunan manusia. Lingkungan keluarga yang aman, hangat, dan mendukung perkembangan anak dapat memberikan landasan bagi tumbuhnya kemampuan belajar, kepercayaan diri, dan keterampilan sosial. Relasi keluarga yang sehat juga membantu membangun kepedulian antargenerasi. Sebaliknya, pengabaian terhadap kerentanan keluarga dapat memperbesar persoalan sosial yang pada akhirnya memerlukan penanganan lebih luas. Karena itu, pembangunan keluarga perlu dipandang sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

Bagi Muhammadiyah, agenda ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menambah program pembinaan rumah tangga. Penguatan ketahanan keluarga merupakan kesempatan untuk mempertemukan dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi kebijakan dalam satu orientasi kemaslahatan. Persyarikatan dapat berperan tidak hanya sebagai penyelenggara layanan, tetapi juga sebagai penggerak gagasan yang mendorong pembangunan lebih peka terhadap kebutuhan keluarga. Pendekatan demikian sejalan dengan watak Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berusaha menghadirkan kemajuan melalui ilmu, amal, dan keberpihakan kepada kemanusiaan.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan masyarakat tidak cukup dilihat dari gedung yang semakin tinggi, teknologi yang semakin canggih, atau angka pertumbuhan yang terus meningkat. Kemajuan juga harus dapat dikenali dari anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan aman, orang tua yang memperoleh kesempatan menjalankan tanggung jawab pengasuhan, lansia yang mendapatkan perhatian, serta keluarga rentan yang tidak ditinggalkan menghadapi kesulitan sendirian.

Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya tentu tidak dapat dilepaskan dari kehidupan keluarga yang menjunjung iman, ilmu, akhlak, keadilan, dan kasih sayang. Karena itu, menjadikan keluarga sebagai perhatian penting dalam pembangunan merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan cita-cita Persyarikatan.

Peradaban berkemajuan tidak cukup dibangun dengan memperbesar capaian pembangunan. Ia harus diwujudkan dengan memperbaiki kualitas kehidupan manusia. Dan salah satu tempat terpenting untuk menilai keberhasilan ikhtiar tersebut adalah keluarga. Semoga suatu hari Indonesia mempunyai kementrian keluarga. 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Mahli Zainuddin Tago Kampleks  BBGP, Jalan Kaliurang-Jogja, Jumat 9 Febr 2024. Suasana s....

Suara Muhammadiyah

16 February 2024

Wawasan

Paradoks Ateisme: Ketika Ketidakpercayaan Menjadi Dogma Baru Oleh Hatib Rachmawan, Dosen Ilmu ....

Suara Muhammadiyah

15 January 2025

Wawasan

Quo Vadis Pendidikan Nasional? Oleh: Saidul Amin, Rektor UMRI Di dunia ini hampir tidak ada satu b....

Suara Muhammadiyah

5 May 2026

Wawasan

Ajari Saya Mencintai Muhammadiyah Penulis: Dr. Hasbullah, M. Pd.I, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PN....

Suara Muhammadiyah

9 July 2026

Wawasan

Menggenggam Amanah Langit, Mengisi Kemerdekaan Bumi Perempuan Berkemajuan sebagai Penjaga Empat Pil....

Suara Muhammadiyah

19 August 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah