Menemukan Kembali Jeda di Antara Riuh Linimasa: Antara FOMO dan JOM
Oleh: Indra Jaya, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pagi belum benar-benar terang ketika jempol saya, hampir tanpa diperintah, sudah menyapu layar ponsel. Sebelum menyapa orang rumah atau sekadar menyesap air putih di meja makan, mata rasanya lebih dulu terdorong menakar dunia lewat potongan gambar dan kabar dari kehidupan orang lain: siapa yang sedang berlibur, topik apa yang sedang ramai diperbincangkan, hingga perdebatan apa yang pagi ini menyita perhatian warganet. Kebiasaan kecil yang sering saya temui pada diri sendiri maupun orang-orang di sekitar ini diam-diam memperlihatkan satu perubahan mendasar: media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi, berinteraksi, dan memahami kenyataan sehari-hari.
Perubahan itu terasa nyata baik di ranah personal maupun di tingkat sosial yang lebih luas. Dalam keseharian, obrolan tatap muka bersama keluarga atau sahabat kerap terpotong oleh dering notifikasi yang seolah menuntut tanggapan segera. Sementara itu, dalam pergaulan sosial yang lebih lebar, ukuran tentang pengalaman yang dianggap menarik atau layak dijalani kian banyak ditentukan oleh apa yang tampil di ruang digital. Ketika semakin banyak sisi kehidupan sosial berpindah ke layar, muncul tekanan halus namun terus-menerus untuk selalu terhubung serta tidak tertinggal dari tren, pengalaman, dan gerak hidup orang lain.
Kondisi inilah yang akrab kita kenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yakni kecemasan bahwa orang lain sedang menjalani pengalaman berharga atau menyenangkan yang kita lewatkan. Di bawah bayang-bayang FOMO, hidup mudah sekali terasa tergesa-gesa. Kita seperti dipacu untuk terus mengejar apa yang sedang populer dan terlihat di dunia maya, seakan-akan sebuah momen baru memiliki arti apabila sudah dipajang dan mendapat pengakuan daring. Tanpa disadari, ritme harian kita tidak lagi dituntun oleh kebutuhan batin sendiri, melainkan diatur secara ketat oleh arus linimasa yang tak pernah berhenti bergerak.
Di titik kejenuhan itulah, gagasan mengenai Joy of Missing Out (JOMO) hadir menawarkan cara pandang yang berbeda. Jika FOMO lahir dari kegelisahan karena takut tertinggal, JOMO justru merupakan pilihan sadar untuk melangkah mundur sejenak, menetapkan batas, dan kembali menghargai pengalaman hidup yang tidak perlu dipamerkan atau divalidasi di ruang daring. Meski demikian, JOMO tidak semestinya dipahami sebagai sikap anti-teknologi atau ajakan untuk memutus diri sepenuhnya dari dunia digital. Di zaman sekarang, teknologi tetap kita butuhkan untuk bekerja, belajar, dan merawat silaturahmi. JOMO lebih tepat dimaknai sebagai cara yang lebih sadar dan terukur dalam menjalin relasi dengan teknologi sekaligus dengan diri kita sendiri.
Betapa kuatnya arus ruang digital dalam membentuk keseharian kita pernah menjadi bahan obrolan ringan antara saya dan seorang kawan yang mengajar di sebuah perguruan tinggi. Suatu kali, ia bercerita tentang pengamatannya di ruang kelas: sejumlah mahasiswi tampak mengenakan gaya riasan wajah bernuansa Korea yang serupa, lengkap dengan sapuan perona pipi merah yang khas di kedua pipi. Tentu saja cerita sepintas itu bukan bukti bahwa seluruh mahasiswi berperilaku seragam, dan bukan pula alasan untuk menyimpulkan bahwa media sosial adalah satu-satunya penyebab munculnya tren tersebut. Selera anak muda selalu tumbuh dari persilangan banyak faktor, mulai dari pertemanan sebaya hingga industri budaya populer. Namun, pengamatan sederhana itu cukup untuk memantik renungan tentang betapa cepatnya sebuah gaya beredar, ditiru, lalu menjadi semacam rujukan bersama.
Beredarnya rujukan visual yang begitu cepat ini mengingatkan kita pada pemikiran sosiolog dan filsuf Prancis, Jean Baudrillard, mengenai simulakra (simulacra). Secara sederhana, konsep ini menggambarkan bagaimana representasi atau citra yang diproduksi berulang-ulang dapat memengaruhi cara manusia memandang kenyataan, hingga batas antara citra di layar dan realitas sehari-hari menjadi kabur. Ketika tampilan tentang rupa yang ideal, tempat singgah yang keren, atau gaya hidup tertentu terus hadir di hadapan kita setiap hari, representasi digital itu perlahan ikut membentuk persepsi kita tentang apa yang wajar, menarik, dan patut diikuti dalam hidup nyata.
Situasi tersebut menjadi kian menantang di tengah era disrupsi dan pasca-kebenaran (post-truth). Perubahan arus informasi yang serba cepat seringkali membuat kita kesulitan membedakan mana informasi yang sungguh bermakna dan mana konten yang sekadar populer karena diangkat algoritma. Sesuatu yang ramai dibicarakan belum tentu penting bagi hidup kita, tetapi kemasannya yang viral kerap menimbulkan tekanan tersendiri agar kita ikut menoleh dan menyesuaikan diri.
Tantangan menjaga batas di ruang digital ini tampak pula di lingkungan keluarga. Saat ini, tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan betapa sulitnya mengatur waktu layar (screen time) anak-anak mereka. Namun, kegelisahan tersebut semestinya juga mengajak kita bercermin sebagai orang dewasa. Sulitnya membatasi gawai pada anak mau tidak mau memunculkan pertanyaan tentang keteladanan dan pendampingan orang tua di rumah, serta figur panutan seperti apa yang sehari-hari ditemui anak-anak di ruang daring. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, melainkan dari bagaimana orang dewasa di dekatnya memperlakukan layar di tangan mereka sendiri.
Pada akhirnya, ketegangan antara FOMO dan JOMO bukanlah soal memilih hidup bersama teknologi atau meninggalkannya sama sekali, melainkan soal keberanian menetapkan batas. Layar gawai hanyalah salah satu ruang dalam hidup, bukan keseluruhan kenyataan kita. Memilih JOMO berarti memberi izin kepada diri sendiri untuk hadir sepenuhnya pada apa yang sedang kita jalani hari ini, tanpa beban untuk selalu mengikuti seluruh keramaian di luar sana. Setiap kali tangan kita tergerak membuka linimasa karena takut tertinggal, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: apakah kita sedang sungguh-sungguh memilih bagaimana kita ingin hidup, atau sekadar sibuk berusaha agar tidak tertinggal dari apa yang sedang dilakukan orang lain?