Menghidupkan Kembali HW di Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

3 September 2026

99
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Menghidupkan Kembali HW di Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah

Oleh: Bagus Mustakim dan Agus Sholeh, Anggota Pimpinan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah

Hizbul Wathan (HW) yang dilaksanakan di lingkungan sekolah dan madrasah Muhammadiyah merupakan salah satu gerakan kepanduan Islam tertua di Indonesia yang hingga kini tetap eksis. Organisasi ini kerap dibandingkan dengan Pramuka, terutama dalam sistem dan nilai-nilai dasarnya.

Gerakan ini menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan nasional, khususnya dalam membina generasi muda melalui pendidikan kepanduan yang terstruktur serta menumbuhkan semangat cinta tanah air di kalangan pemuda.

Di tengah ikhtiar mulia tersebut, terdapat ruang perbaikan yang perlu mendapat perhatian bersama, yaitu bagaimana memastikan seragam dan semangat Hizbul Wathan kembali menjadi pemandangan yang membanggakan di setiap halaman satuan pendidikan Muhammadiyah, berdampingan secara harmonis dengan kegiatan kepanduan lainnya.

Temuan dari kegiatan Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Muhammadiyah Region DKI Jakarta beberapa waktu lalu patut menjadi bahan renungan. Sekitar 25–30 persen madrasah peserta masih menggunakan seragam Pramuka. Bahkan, sebagian peserta belum mengetahui identitas dasar HW, termasuk warna seragamnya.

Angka tersebut memang tidak serta-merta dapat digeneralisasi untuk seluruh sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Namun, temuan tersebut cukup menjadi alarm bahwa masih ada pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan.

Sebab, HW bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. HW merupakan organisasi otonom Muhammadiyah yang lahir pada 22 Desember 1918. Dalam perjalanan Muhammadiyah, kepanduan menjadi salah satu wahana penting untuk membentuk karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, kemandirian, dan semangat pengabdian peserta didik.

Karena itu, menghidupkan kembali HW di sekolah dan madrasah Muhammadiyah sesungguhnya bukan sekadar persoalan mengganti seragam. Yang lebih penting adalah mengembalikan fungsi pendidikan dan kaderisasi yang melekat pada kepanduan Muhammadiyah.

Dari Kebijakan ke Kehidupan Nyata

Secara kebijakan, posisi HW sebenarnya sudah cukup jelas. Kerangka Pendidikan Muhammadiyah menempatkan HW dan Tapak Suci sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib di satuan pendidikan Muhammadiyah. Penguatan karakter Kemuhammadiyahan juga mendapat ruang dalam Kurikulum ISMUBA 2024, termasuk melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan.

Persoalannya adalah bagaimana kebijakan tersebut benar-benar hadir dalam kehidupan nyata di sekolah dan madrasah. Di lapangan, setidaknya terdapat lima persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, belum meratanya pelatihan bagi pembina HW. Tanpa pembina yang memiliki kompetensi dan pemahaman yang memadai, kegiatan HW mudah berhenti sebagai kegiatan formalitas.

Kedua, belum optimalnya peran Kwartir Daerah (Kwarda) HW dalam memberikan pelatihan, pendampingan, dan pengembangan program bagi sekolah dan madrasah.

Ketiga, masih terbatasnya literasi tentang HW di kalangan pimpinan satuan pendidikan. Tidak semua kepala sekolah dan kepala madrasah memahami secara utuh posisi strategis HW dalam sistem pendidikan Muhammadiyah.

Keempat, banyak guru telah memiliki pengalaman dalam kegiatan Pramuka, sementara pengalaman mereka dalam HW belum berkembang secara optimal. Kondisi ini sebenarnya tidak perlu dilihat sebagai persaingan. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan HW dengan memberikan penguatan pada nilai-nilai dan identitas Kemuhammadiyahan.

Kelima, kebijakan tentang HW belum selalu diterjemahkan menjadi instrumen teknis, target, pendampingan, dan evaluasi yang jelas.

Kelima persoalan tersebut menunjukkan bahwa menghidupkan HW tidak cukup dengan imbauan. Diperlukan kebijakan yang jelas, pembinaan yang sistematis, dan pendekatan pendidikan yang membuat anak-anak merasa bahwa HW menarik sekaligus bermakna bagi kehidupan mereka.

HW sebagai Laboratorium Pembelajaran Mendalam

HW memiliki modal pedagogis yang sangat kuat untuk menghadirkan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful. Di sinilah konsep deep learning atau pembelajaran mendalam menemukan relevansinya.

Mindful learning dapat dimulai dari kesadaran bahwa setiap aktivitas kepanduan memiliki nilai. Ketika anak belajar membuat simpul, misalnya, ia tidak sekadar mempelajari keterampilan teknis. Ia dapat diajak bertanya: Untuk apa keterampilan ini? Bagaimana keterampilan tersebut dapat digunakan untuk membantu orang lain?

Meaningful learning membuat materi kepanduan tidak berhenti pada hafalan. Pioneering, pertolongan pertama, navigasi, kerja kelompok, dan berbagai keterampilan lainnya dapat dipelajari melalui pengalaman nyata, pemecahan masalah, praktik lapangan, dan refleksi.

Sementara itu, joyful learning menjadikan latihan, permainan, perkemahan, lomba, dan kegiatan seni sebagai pengalaman yang menyenangkan. Dalam suasana seperti itu, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, keberanian, dan kepemimpinan tidak perlu terus-menerus diceramahkan. Anak belajar dengan mengalaminya secara langsung.

Dengan demikian, HW sesungguhnya dapat menjadi salah satu laboratorium terbaik untuk mewujudkan pembelajaran mendalam di sekolah dan madrasah Muhammadiyah.

Namun, metode saja tidak cukup. Pendidikan membutuhkan ruh. Di sinilah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dapat memberikan perspektif baru dalam pembinaan HW.

Pembina HW perlu hadir bukan sekadar sebagai komandan yang memberikan instruksi, melainkan sebagai murabbi yang mendampingi pertumbuhan anak. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi ketegasan tidak harus berjarak dengan kasih sayang.

Anak juga perlu mendapatkan ruang yang aman untuk belajar. Kesalahan dalam latihan tidak semestinya menjadi alasan untuk mempermalukan mereka. Sebaliknya, kesalahan dapat menjadi bagian dari proses belajar.

Setiap kegiatan HW juga perlu dihubungkan dengan tujuan yang lebih besar. Anak perlu memahami bahwa mereka belajar kepanduan bukan sekadar untuk mendapatkan tanda kecakapan atau memenangkan lomba. Mereka belajar agar mampu mandiri, bekerja sama, menolong sesama, dan kelak menjadi manusia yang bermanfaat.

Dengan pendekatan seperti ini, HW tidak hanya mengajarkan keterampilan. HW menjadi pengalaman pendidikan yang membentuk karakter sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap Muhammadiyah.

Dua Pembina di Setiap Satuan Pendidikan

Gagasan besar harus diterjemahkan menjadi langkah yang sederhana dan realistis. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah mendorong setiap sekolah dan madrasah Muhammadiyah memiliki sedikitnya dua pembina HW. Setiap satuan pendidikan perlu memiliki minimal dua guru yang mendapatkan pelatihan dasar kepanduan HW.

Majelis Dikdasmen dan PNF bersama Kwarda HW dapat mengembangkan pelatihan yang praktis dan mudah direplikasi di tingkat daerah. Targetnya sederhana: setiap sekolah dan madrasah memiliki pembina, memiliki jadwal kegiatan, serta memiliki program HW yang berjalan secara konsisten.

Pada saat yang sama, Kwarda HW perlu diperkuat sebagai rumah pembinaan. Kwarda tidak cukup hanya memiliki struktur kepengurusan. Kwarda harus hadir melalui program pelatihan, jambore, pendampingan, dan pengembangan jejaring antarsatuan pendidikan.

Literasi HW juga perlu diperluas. Sejarah HW, identitas, AD/ART, seragam, prinsip kepanduan, serta capaian pembinaan perlu dikemas dalam bahan yang sederhana dan mudah diakses oleh kepala sekolah, kepala madrasah, guru, pembina, orang tua, dan peserta didik.

Yang tidak kalah penting adalah membangun sinergi dengan mereka yang selama ini aktif di Pramuka. Mereka adalah pihak yang perlu diajak berkolaborasi. Pengalaman mereka justru dapat menjadi kekuatan untuk membesarkan HW, dengan memberikan orientasi yang lebih kuat pada nilai-nilai dan identitas kepanduan Muhammadiyah.

HW akan menjadi program yang menarik bagi siswa di sekolah dan madrasah Muhammadiyah apabila dikelola secara serius. Terlebih lagi, HW dapat dihubungkan dengan pembiasaan dalam Kurikulum ISMUBA 2024.

Pada fase awal, anak dibiasakan dengan disiplin, doa, salam, kerja sama, dan nilai-nilai dasar kepanduan. Pada fase berikutnya, mereka mengembangkan keterampilan dan kepemimpinan regu. Pada fase yang lebih tinggi, mereka dapat diarahkan pada kegiatan pengabdian masyarakat, pendampingan adik kelas, dan proyek kepemimpinan.

Dengan demikian, HW tidak berdiri sendiri sebagai kegiatan tambahan setelah jam pelajaran. HW menjadi bagian dari ekosistem pendidikan Muhammadiyah.

Tentu saja, semua itu membutuhkan keberanian untuk bergerak bersama. Majelis membutuhkan kebijakan yang jelas. Kwarda membutuhkan revitalisasi. Sekolah dan madrasah membutuhkan pembina. Guru membutuhkan pelatihan. Dan anak-anak membutuhkan pengalaman HW yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Peta implementasi HW di madrasah yang masih belum optimal adalah sebuah cermin. Kita tidak perlu menutup mata terhadap pekerjaan rumah yang masih ada. Namun, kita juga tidak perlu melihatnya sebagai kegagalan. Justru dari kesadaran terhadap masalah itulah perubahan dapat dimulai.

Menghidupkan kembali HW bukan sekadar melanjutkan program masa lalu. Ini adalah ikhtiar mempersiapkan generasi Muhammadiyah untuk masa depan.

Kita membutuhkan anak-anak yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, mandiri, mampu bekerja sama, memiliki kepedulian sosial, berani mengambil tanggung jawab, dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai Islam berkemajuan. HW memiliki modal untuk membentuk semua karakter tersebut.

Karena itu, sudah saatnya halaman sekolah dan madrasah Muhammadiyah kembali menjadi ruang tumbuh bagi Pandu HW.

HW bukan sekadar seragam. HW bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. HW adalah bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk menanamkan karakter, kepemimpinan, kemandirian, dan semangat pengabdian kepada generasi penerus.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Jangan Menaruh Musang dan Ayam dalam Satu Kandang: Memperingati Hari UMKM Nasional 2024 Oleh: Khafi....

Suara Muhammadiyah

13 August 2024

Wawasan

Spirit Fastabiqul Khairat Oleh: Muhammad Zaini, SHI. MSI., Ketua Majelis Tabligh PDM Pamekasan Jar....

Suara Muhammadiyah

23 April 2024

Wawasan

Menelaah Gerakan Ilmu dalam Gerakan Islam Berkemajuan  Oleh: Sutopo Ibnoris, PC IMM AR Fakhrud....

Suara Muhammadiyah

8 May 2024

Wawasan

Trade-Off antara Utang dan Dana Sendiri dalam Mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

11 October 2023

Wawasan

Pendidikan dan Kemerdekaan dalam Perspektif Islam  Oleh: Bayu Dwi Cahyono, M.Pd.  Pendid....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah