Menjadi Muslim yang Akuntabel Melalui Spirit Puasa Ramadhan

Publish

21 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
79
Foto Imam Harjono Um Bandun

Foto Imam Harjono Um Bandun

Menjadi Muslim yang Akuntabel Melalui Spirit Puasa Ramadhan

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Kaprodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Bandung Iman Harjono menyampaikan bahwa filosofi akuntansi dapat dimaknai sebagai sarana audit diri yang mendalam bagi setiap insan. Khususnya pada bulan Ramadhan yang sarat dengan refleksi spiritual.

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai utama dalam profesi akuntan seperti integritas, transparansi, dan akuntabilitas memiliki keselarasan yang kuat dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi momentum penting untuk menghidupkan nilai tersebut, tidak hanya dalam profesi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Iman, akuntansi tidak semata-mata berbicara tentang angka dan laporan keuangan, melainkan juga dapat menjadi metafora kehidupan. Setiap manusia, sebagaimana akuntan, sejatinya memiliki “laporan amal” yang kelak akan diperiksa secara rinci tanpa adanya toleransi revisi.

“Sebagaimana laporan keuangan harus jujur dan akurat, demikian pula hidup manusia akan diperiksa Allah dengan catatan yang sempurna, tanpa ada yang terlewat,” ujarnya saat mengisi Kajian Ramadhan di YouTube UM Bandung pada Jumat (20/02/2026).

Ia mengaitkan hal tersebut dengan pesan Al-Qur’an yang menggambarkan pencatatan amal secara menyeluruh, baik yang kecil maupun besar. Kesadaran ini, lanjutnya, seharusnya menumbuhkan sikap kehati-hatian dalam bertindak karena setiap ucapan dan perbuatan memiliki konsekuensi spiritual.

Lebih jauh, Ramadhan diposisikan sebagai audit internal spiritual sebelum tibanya hari hisab di akhirat. Dalam praktik perusahaan, audit internal dilakukan untuk memastikan kesiapan sebelum audit eksternal, dan prinsip serupa berlaku dalam kehidupan manusia selama Ramadhan.

Dalam refleksi akuntansi kehidupan, Iman memperkenalkan konsep neraca amal, di mana aset diibaratkan sebagai salat, sedekah, ilmu yang bermanfaat, kejujuran, dan amanah. Sebaliknya, liabilitas berupa dosa lisan, kelalaian, manipulasi, dan kurangnya amanah menjadi beban yang mengurangi nilai amal.

Menutup refleksinya, Iman menekankan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau prestasi duniawi, melainkan oleh kualitas amal dan integritas yang dijaga sepanjang hidup. Ia berharap Ramadhan benar-benar menjadi momentum untuk menambah aset amal, mengurangi liabilitas dosa, dan mempersiapkan diri menghadapi pertanggungjawaban akhir di hadapan Allah. (FA)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Mengawali tahun ajaran 2023/2024, Prodi PAI UM Bandung melepas d....

Suara Muhammadiyah

2 October 2023

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Kudus(UMKU) menyelenggaraan Workshop Penyempurn....

Suara Muhammadiyah

14 July 2024

Berita

BEKASI, Suara Muhammadiyah - PCM Rawalumbu Kota Bekasi Kembali akan menggelar Program Pemberdayaan E....

Suara Muhammadiyah

5 May 2024

Berita

SEMARANG , Suara Muhammadiyah – Sabtu (13/9/2025), menjadi momentum bersejarah bagi dakwah Muh....

Suara Muhammadiyah

13 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah  – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Universi....

Suara Muhammadiyah

18 January 2024