Menjemput Cahaya di Tengah "Lubang Hitam" Literasi Bangsa
Penulis: Roehan Ustman, Pengasuh PP Ibnul Qoyyim Yogyakarta, Anggota Muhammadiyah Gunungkidul
Konsep Iqro' (اقْرَأ), yang berarti "Bacalah", adalah wahyu pertama yang diturunkan dalam Islam (QS. Al-Alaq: 1-5). Lebih dari sekadar perintah membaca teks, "Iqro" adalah seruan untuk literasi, pengamatan, penelitian, dan pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat Allah—baik ayat qouliyah (Al-Qur'an) maupun kauniyah (alam semesta dan fenomena sosial). Konsep ini memiliki hubungan yang erat dengan kebebasan (al-hurriyyah) dalam Islam, terutama kebebasan berpikir, berilmu, dan berinovasi.
Hubungan antara konsep Iqro' dan kebebasan:
1. Iqro' sebagai Landasan Kebebasan Berpikir dan Literasi
Kebebasan Memahami Tanda: Perintah Iqro' mendorong manusia untuk meneliti, menelaah, dan mengetahui ciri-ciri sesuatu. Ini memberikan kebebasan intelektual untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan tanpa paksaan dogma yang kaku, selama tujuannya memahami kebesaran Sang Pencipta. Pembebasan dari Kebodohan: Iqro' adalah awal wahyu yang menandai dimulainya kebebasan manusia dari belenggu kebodohan (jahiliyyah) dan ketidaktahuan. Melek Informasi : Perintah ini bertujuan agar umat Islam melek huruf dan informasi, sehingga mampu "menggenggam dunia" melalui pengetahuan.
2. Kebebasan Akademik dalam Islam
Etos Keilmuan: Islam sangat menghargai budaya akademik. Perintah membaca (Iqro') adalah dasar dari tradisi intelektual yang mendorong penelitian dan inovasi. Kebebasan Berpendapat (Bertanggung Jawab) : Dalam Islam, kebebasan berekspresi diakui dan dihormati sebagai bagian dari pencarian kebenaran, namun dibatasi oleh etika untuk mencegah fitnah, hoaks, dan perpecahan. Iqro' dan Inovasi: Hasil dari olah pikir kritis (Iqro') merupakan bentuk syukur, yang mendorong manusia untuk berinovasi bagi kemaslahatan umum.
3. Kebebasan dalam Konteks "Iqro' Bismi Rabbik"
Kebebasan yang Terarah: Perintah Iqro' diikuti dengan kata bismi rabbik (dengan nama Tuhanmu). Ini bermakna kebebasan dalam Islam bukan kebebasan mutlak tanpa batas (liberal), melainkan kebebasan yang bertanggung jawab kepada Allah, bertujuan untuk kebaikan, dan tidak merusak. Objektivitas: Membaca (Iqro') dengan nama Tuhan artinya mencari kebenaran dengan objektif dan penuh hikmah.
Konsep Iqro' menjadikan kebebasan berpikir sebagai fondasi penting dalam Islam. Manusia dibebaskan untuk mempelajari alam dan ilmu pengetahuan, dengan tujuan untuk meningkatkan keimanan dan membawa kemaslahatan bagi kemanusiaan.
Dunia sedang berlari kencang menuju masa depan, namun Indonesia seolah terpaku dalam sebuah "lubang hitam" intelektual. Lupakan sejenak ancaman bencana alam; ada bencana yang jauh lebih mematikan karena bekerja dalam senyap: Bencana Literasi.
Data yang Menampar Wajah Bangsa
Data UNESCO memberikan tamparan keras; minat baca kita hanya 0,001%. Secara sosiologis, fenomena ini berkaitan dengan konsep "Aliterasi", yaitu kondisi di mana seseorang memiliki kemampuan untuk membaca namun memilih untuk tidak melakukannya. Akibatnya, terjadi stagnasi intelektual yang masif di tengah ledakan informasi.
Ketika Kebodohan Memakan Korban: Sebuah Tinjauan Teoritis
Rendahnya literasi adalah mesin pembunuh massal di era digital. Tanpa kecakapan literasi, masyarakat kita terjebak dalam:
- Matinya Kepakaran (The Death of Expertise): Sebagaimana dijelaskan oleh Tom Nichols, rendahnya literasi membuat orang merasa pendapat pribadinya setara dengan fakta ilmiah. Inilah yang memicu wabah hoaks dan fitnah.
- Tragedi Brain Rot & Dangkalnya Kognisi: Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows menjelaskan bahwa konsumsi konten digital yang fragmentaris (potongan-potongan kecil) mengubah struktur otak kita. Kita kehilangan kemampuan "Deep Reading" (membaca mendalam) dan beralih ke pola pikir superfisial yang sulit fokus.
- Manipulasi Massal: Tanpa Literasi Kritis, rakyat menjadi pion yang mudah digerakkan. Kita kehilangan daya analisis untuk membedakan propaganda dari kebenaran, membuat masa depan bangsa mudah dirampas oleh pihak yang menguasai narasi.
Gadget: Jendela Dunia atau Penjara Pikiran?
Kita memegang gawai lebih dari 5 jam sehari, namun literasi fungsional kita nol besar. Secara psikologis, layar gawai menciptakan "Skimming Effect". Kita terbiasa memindai informasi dengan cepat tanpa memprosesnya di memori jangka panjang. Berbeda dengan buku fisik yang melatih kesabaran kognitif, gadget seringkali justru mematikan daya konsentrasi melalui dopamin instan dari konten "receh". Teori Cultural Lag (Ketertinggalan Budaya - William Ogburn) menjelaskan kondisi kita. Cultural lag terjadi ketika budaya material (gadget, internet cepat, infrastruktur) berkembang jauh lebih pesat daripada budaya non-material (norma, cara berpikir, literasi). Kita memiliki alatnya, tapi tidak memiliki kesiapan mental untuk menggunakannya secara bijak. Akibatnya, gadget bukan mencerdaskan, malah menciptakan kekacauan sosial.
Modernisasi bukan hanya soal membangun infrastruktur fisik, tetapi tentang manusia yang memiliki karakteristik "modern": terbuka pada pengalaman baru, independen dalam berpendapat, dan percaya pada ilmu pengetahuan. Tanpa literasi, Indonesia gagal memenuhi syarat Modernitas Mental. Kita hanya menjadi konsumen teknologi, bukan pemain dalam perubahan global, karena modal manusia (human capital) kita tidak memiliki kedalaman intelektual untuk bersaing.
Menghidupkan Ruang yang "Mati"
Perpustakaan yang sunyi adalah manifestasi dari "Ruang Publik yang Terabaikan". Jika meminjam pemikiran Jurgen Habermas, perpustakaan seharusnya menjadi ruang publik tempat diskusi rasional terjadi. Kosongnya ruang ini adalah cermin dari kosongnya dialektika di tengah masyarakat kita.
Mengatasi bencana ini adalah tanggung jawab kolektif melalui pendekatan Literasi Multi-dimensi:
- Restorasi Budaya Baca: Mengembalikan buku sebagai simbol status intelektual di keluarga.
- Literasi Digital & Media: Membangun pertahanan kognitif agar tidak hanya menjadi konsumen data tapi penyaring informasi yang bijak.
- Aktivasi Ruang Ketiga: Mengubah perpustakaan dari sekadar gudang buku menjadi pusat inovasi dan diskusi yang hidup.
Dalam kacamata sosiologi, perubahan sosial seharusnya membawa masyarakat bergerak dari tahap teologis (mistis) menuju tahap positivistik (ilmiah/rasional). Bencana literasi di Indonesia menunjukkan adanya "Evolusi Terhambat". Ketika masyarakat lebih percaya hoaks daripada data ilmiah, kita sebenarnya sedang mengalami kemunduran peradaban (regresi), di mana teknologi kita berada di abad ke-21, namun pola pikir kita kembali ke era pra-ilmiah.
Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh ketajaman akal budi rakyatnya. Mari kita tutup celah "bencana" ini dengan membuka kembali lembaran buku. Karena setiap satu buku yang dibaca adalah satu langkah menjauh dari kebodohan.
Bulan Ramadlan adalah bulan pelatihan yang aksinya pada sebelas bulan yang tersisa, maka alangkah eloknya semangat “ iqro “ tidak hanya berhenti setelah selesai Ramadlan.
Mari kita membaca. Agar kita tidak hanya ada, tetapi juga bermakna.

