Merawat Cahaya di Negeri Jiran

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
352
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Merawat Cahaya di Negeri Jiran

Oleh: Mega Ardina, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Ada momen ketika percakapan sederhana justru meninggalkan jejak yang begitu dalam. Salah satunya karena keikhlasan dan ketulusan itu bisa dirasakan, tidak hanya dari apa yang diucapkan, tetapi juga dari cara ia disampaikan. Kadang hadir lewat tatapan, jeda, atau nada suara yang pelan namun penuh makna.

Saya merasakannya saat berbincang dengan para pengelola dan pengajar yang mendampingi anak-anak di dua Sanggar Bimbingan (SB) di negeri jiran, yaitu SB Muhammadiyah Kepong dan SB Aisyiyah Kampung Pandan. Di SB Muhammadiyah Kepong, saya berbincang dengan Bapak Rosuli Aqil dan Ibu Salimah sebagai pengelola. Sementara di SB Aisyiyah Kampung Pandan, saya berbincang dengan Ibu Nuriyatun Nafi’ah sebagai pengelola dan Ustadz Ahmad sebagai pengajar.

Percakapan itu berlangsung hangat. Para pengelola dan pengajar berbagi kisah tentang perjuangan dan keseharian mereka. Tidak ada sesuatu yang berlebihan, tidak ada juga cerita yang dibingkai agar tampak istimewa. Mereka hanya berbagi kisah tentang anak-anak yang belajar membaca, menulis, mengaji, dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, dari kesederhanaan itulah tampak sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu sebuah ketulusan.

Kesan tersebut semakin menguat ketika saya berkesempatan berkunjung langsung. Apa yang sebelumnya hanya saya dengar, kini hadir nyata di hadapan saya. Kunjungan saat itu memperlihatkan suasana yang jauh dari kesan kaku. 

Kehidupan terasa mengalir dengan hangat. Ada sejumlah anak yang sedang berlatih menari. Gerakan dan ekspresi mereka memperlihatkan rasa percaya diri dan kesungguhan untuk belajar. Wajah-wajah itu juga memancarkan kegembiraan yang tulus. Tawa kecil mengisi ruangan, menghadirkan rasa aman yang sederhana namun berarti. 

Beberapa saat kemudian, suasana berubah menjadi lebih hening. Anak-anak mengambil air wudhu dan berbaris rapi untuk menunaikan sholat berjamaah. Dalam barisan sholat itu, tersimpan makna yang mendalam. Anak-anak itu telah diajarkan untuk mendekat dengan sang Pencipta.

Kesempatan berikutnya membawa saya lebih dekat untuk terlibat. Saya mencoba mengambil peran kecil, dengan menyesuaikan pada bidang ilmu yang saya miliki. Niatnya sederhana, hanya ingin berbagi. Alhamdulillah, sambutan anak-anak begitu hangat. Mereka mendekat, memperhatikan, mencoba menjawab, bertanya, dan sesekali tertawa gembira. Sorot mata mereka memancarkan rasa ingin tahu yang hidup, dan semangat mereka hadir tanpa paksaan.

Pengalaman tersebut menyadarkan saya pada satu hal penting. Mereka bukan tidak mampu, mereka bukan berbeda, mereka hanya membutuhkan ruang dan kesempatan. Kesempatan yang ketika hadir sekecil apa pun bentuknya, akan disambut dengan sepenuh hati. Harapan terlihat jelas di mata mereka. Harapan untuk belajar, berkembang, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Di sanggar bimbingan itu, para pengelola dan pengajar menjalankan peran dengan penuh kesabaran. Mereka mendengarkan, memotivasi, dan memberi ruang bagi setiap anak untuk tumbuh dengan caranya sendiri. Sebagian anak datang dengan tantangan yang tidak ringan. Ada yang masih menyimpan rasa takut, ada yang belum punya kemampuan membaca dan menulis di usia yang tidak lagi kecil, dan ada pula yang membawa cerita yang tidak mudah diungkapkan. Pendekatan yang penuh empati menjadi kunci, karena setiap anak punya hak untuk dipahami sebagai pribadi yang utuh.

Peran tersebut juga menjangkau keluarga. Komunikasi dengan orang tua terus dibangun oleh pengelola dan pengajar, agar dukungan terhadap anak-anak berjalan selaras. Pendidikan itu menjadi tanggung jawab bersama yang dijaga dengan kesadaran. Gambaran ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak semata soal akademik. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Upaya untuk menjaga harapan tetap hidup, bahkan di tengah keterbatasan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan…” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Nilai itu tampak nyata dalam setiap langkah yang dijalankan dengan tulus. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Makna tersebut terasa hidup dalam tindakan sehari-hari. Selain itu, semangat ini sejalan dengan pesan K.H. Ahmad Dahlan, bahwa Islam harus diwujudkan dalam amal nyata, dan pendidikan menjadi jalan penting untuk menghadirkan pencerahan bagi umat.

Pengalaman tersebut perlahan berubah menjadi refleksi. Apa yang terlihat bukan sekadar kisah tentang mereka yang berjuang di sana, melainkan cermin bagi kita semua. Di ruang-ruang sederhana itu, ada orang-orang yang telah lebih dahulu melangkah, memberikan waktu, tenaga, dan perhatian mereka. 

Namun, ruang untuk berkontribusi sesungguhnya selalu terbuka. Kehadiran fisik bukan satu-satunya cara untuk peduli. Kepedulian dapat hadir dalam berbagai bentuk, melalui doa yang tulus, perhatian yang sederhana, serta dukungan yang mungkin tampak kecil namun dapat memberikan dampak yang besar.

Merawat cahaya bukanlah tugas segelintir orang, karena ini adalah panggilan bersama. Di balik tawa anak-anak itu, tersimpan harapan yang ingin dijaga. Di balik kesederhanaan ruang belajar itu, tumbuh mimpi-mimpi yang menunggu untuk dirawat. Mereka tidak meminta banyak, hanya kesempatan untuk belajar, untuk tumbuh, dan untuk percaya bahwa masa depan masih terbuka bagi mereka.

Barangkali, kita tidak selalu menyadari bahwa kebaikan yang sederhana dapat menjelma menjadi arti yang begitu besar bagi orang lain. Satu langkah kecil yang diambil hari ini, bisa menjadi awal dari perubahan panjang yang tak terduga. Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Malaysia telah menyalakan cahaya itu. Kini, ia menunggu untuk dirawat dan dibangun bersama, agar apa yang telah dimulai tetap hidup dan terus menjadi cahaya bagi sesama.

 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Alif Syarifuddin Ahmad (ASA), Koordinator PPTQ Subulussalam kelas Masa Keemasan/Lansia Kota Te....

Suara Muhammadiyah

15 January 2024

Wawasan

Puasa Moment Release Stres Tanpa Vape, Bonus Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Oleh: Sri Sunarti, MPH, ....

Suara Muhammadiyah

26 February 2026

Wawasan

Cerita di Balik Hari Lebaran Bersama KeluargaOleh: Rumini Zulfikar/Penasehat PRM Troketon Setiap mo....

Suara Muhammadiyah

7 April 2025

Wawasan

Tentang Sukatani dan Kerinduan akan Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur Oleh: Nia nur Pratiwi,S.Pd....

Suara Muhammadiyah

27 February 2025

Wawasan

Ikhlas Bukan Menyerah: Memurnikan Niat, Menguatkan Ikhtiar Oleh: Nur Amalia, Dosen Pendidikan Bahas....

Suara Muhammadiyah

18 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah