Muhasabah sebagai Tajdid dari Diri

Publish

19 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
66
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Muhasabah sebagai Tajdid dari Diri

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Ada saat-saat ketika manusia begitu sibuk menghitung banyak hal, pendapatan, jabatan, capaian, pengaruh, pengikut, agenda, aset, dan rencana masa depan. Kita menghitung angka-angka dunia dengan sangat teliti, tetapi sering lupa menghitung sesuatu yang paling menentukan keselamatan kita, keadaan diri di hadapan Allah. Kita rajin mengevaluasi pekerjaan, organisasi, laporan, dan program, tetapi kadang terlalu jarang duduk hening menatap batin sendiri sambil bertanya, sudah sejauh mana hidup ini mendekatkan diri kepada-Nya?

Di sinilah muhasabah menemukan maknanya yang terdalam. Muhasabah bukan sekadar mengingat kesalahan masa lalu, lalu berhenti pada rasa bersalah. Muhasabah adalah keberanian ruhani untuk berdiri jujur di hadapan diri sendiri sebelum kelak berdiri di hadapan Allah. Ia adalah seni membaca arah hidup, apakah langkah kita sedang menuju ridha Allah atau hanya berputar-putar dalam lingkaran ambisi, kesibukan, dan pembenaran diri.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” Ayat ini tidak hanya memerintahkan manusia melihat masa depan, tetapi juga memeriksa bekal yang sedang ia kirimkan ke sana. Hari esok dalam ayat itu bukan sekadar esok kalender, melainkan esok yang abadi, akhirat. Maka pertanyaan terpenting bukan hanya, “Apa yang akan saya miliki?” melainkan, “Apa yang akan saya bawa ketika semua yang saya miliki harus saya tinggalkan?”

Bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah, muhasabah seharusnya menjadi bagian dari napas tajdid. Selama ini tajdid sering dipahami sebagai pembaruan pemikiran, pembaruan pendidikan, pembaruan amal usaha, atau pembaruan strategi dakwah. Semua itu benar dan penting. Tetapi ada satu tajdid yang tidak boleh tertinggal, tajdid dari dalam diri, yaitu pembaruan hati, niat, akhlak, dan orientasi hidup. Sebab gerakan yang besar hanya akan tetap mencerahkan jika ditopang oleh jiwa-jiwa yang terus diperbarui.

Muhammadiyah lahir dan tumbuh bukan semata karena kemampuan mengelola organisasi, tetapi karena kekuatan iman yang melahirkan amal. Ia bukan hanya gerakan rapat dan keputusan, tetapi gerakan shalat, ilmu, pelayanan, pengorbanan, dan keberpihakan kepada kaum lemah. Karena itu, muhasabah bagi warga Muhammadiyah bukanlah aktivitas pribadi yang terpisah dari gerakan. Muhasabah adalah cara menjaga agar Persyarikatan tetap menjadi gerakan dakwah dan tajdid, bukan sekadar institusi besar yang kehilangan kehangatan ruhani.

Kita patut bersyukur bahwa Muhammadiyah memiliki amal usaha yang luas, sekolah, kampus, rumah sakit, panti, lembaga sosial, masjid, majelis, ortom, dan berbagai bentuk pelayanan umat. Tetapi rasa syukur harus ditemani muhasabah. Jangan sampai kebesaran amal usaha membuat kita lupa bertanya tentang kebesaran jiwa. Jangan sampai banyaknya bangunan membuat kita kurang memperhatikan bangunan iman. Jangan sampai ramainya kegiatan membuat kita luput menilai apakah kegiatan itu benar-benar menghidupkan tauhid, menumbuhkan akhlak, membela mustadh‘afin, dan menghadirkan Islam yang mencerahkan.

Muhasabah mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan dakwah tidak cukup dilihat dari banyaknya acara, jumlah peserta, indahnya spanduk, atau panjangnya laporan. Semua itu penting sebagai sarana, tetapi bukan tujuan akhir. Ukuran yang lebih dalam adalah, apakah setelah acara itu iman bertambah? Apakah akhlak membaik? Apakah yang lemah terbantu? Apakah yang bodoh tercerahkan? Apakah yang jauh dari masjid menjadi dekat? Apakah yang selama ini terpinggirkan merasakan kehadiran dakwah sebagai rahmat?

Muhasabah dalam konteks gerakan adalah ia bukan hanya mengoreksi dosa personal, tetapi juga mengoreksi arah kolektif. Ia bertanya bukan hanya, “Apa salah saya?” tetapi juga, “Apakah amal bersama kita masih setia kepada niat awal?” Ia bertanya bukan hanya, “Apakah saya sudah baik?” tetapi juga, “Apakah kebaikan saya melahirkan manfaat sosial?” Sebab Islam tidak mengajarkan kesalehan yang berhenti pada rasa tenteram pribadi. Islam menghendaki kesalehan yang bergerak, menyapa, menolong, membangun, dan membebaskan.

Muhasabah juga menuntut keberanian untuk memeriksa niat. Dalam dakwah, niat adalah pusat gravitasi. Amal yang besar dapat mengecil nilainya ketika digerakkan oleh riya, gengsi, kepentingan, atau hasrat ingin diakui. Sebaliknya, amal yang tampak sederhana dapat menjadi agung bila lahir dari keikhlasan. Maka seorang aktivis Persyarikatan perlu sering bertanya kepada dirinya, apakah saya beramal karena Allah atau karena ingin terlihat berjasa? Apakah saya melayani umat atau sedang melayani nama sendiri? Apakah saya membesarkan dakwah atau sedang membesarkan ego melalui dakwah?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terasa tajam, tetapi justru di sanalah letak rahmatnya. Jiwa yang tidak pernah ditegur akan mudah sombong. Organisasi yang tidak pernah mengevaluasi diri akan mudah merasa selalu benar. Amal yang tidak pernah diperiksa akan mudah berubah menjadi rutinitas. Karena itu, muhasabah bukan tanda kelemahan. Muhasabah adalah tanda kedewasaan iman. Orang yang kuat bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang berani mengakui kesalahan, lalu bangkit memperbaikinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, muhasabah dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana tetapi mendasar. Sebelum tidur, tanyakan kepada diri, hari ini, apakah shalatku lebih khusyuk atau hanya gugur kewajiban? Apakah lisanku lebih banyak menenangkan atau melukai? Apakah mataku lebih banyak melihat yang bermanfaat atau yang mengeraskan hati? Apakah pekerjaanku menjadi ibadah atau sekadar rutinitas mencari penghasilan? Apakah ilmuku bertambah rendah hati atau justru membuatku merasa lebih tinggi dari orang lain?

Bagi dosen, guru, dokter, pegawai, pengusaha, kader, mubaligh, pimpinan, dan warga Persyarikatan di mana pun berada, muhasabah memiliki medan yang khas. Seorang pendidik bermuhasabah, apakah ilmunya menyalakan akal dan adab peserta didik? Seorang dokter bermuhasabah, apakah pasien diperlakukan sebagai amanah kemanusiaan, bukan sekadar antrean layanan? Seorang pengelola amal usaha bermuhasabah, apakah efisiensi tetap berjalan bersama empati? Seorang pimpinan bermuhasabah, apakah kekuasaan kecil yang ia pegang menjadi jalan pelayanan atau berubah menjadi alat pengendalian?

Muhasabah yang benar tidak berhenti pada tangisan, tetapi berlanjut menjadi tindakan. Ia tidak cukup berkata, “Saya menyesal,” tetapi harus melangkah menuju, “Saya akan memperbaiki.” Ia tidak berhenti pada istighfar lisan, tetapi bergerak menjadi perubahan kebiasaan. Jika selama ini lalai shalat berjamaah, maka mulai dijaga. Jika selama ini mudah marah, maka mulai dilatih menahan diri. Jika selama ini rapat-rapat dakwah kehilangan adab, maka mulai diperbaiki cara bicara. Jika selama ini program berjalan tanpa evaluasi dampak, maka mulai dibangun budaya mengukur manfaat.

Di sinilah muhasabah memiliki energi perubahan. Ia mengubah rasa bersalah menjadi taubat. Ia mengubah taubat menjadi komitmen. Ia mengubah komitmen menjadi amal baru. Ia mengubah amal baru menjadi budaya. Dan ketika budaya muhasabah tumbuh dalam diri warga Persyarikatan, maka Muhammadiyah akan semakin kuat bukan hanya secara organisasi, tetapi juga secara ruhani.

Kita membutuhkan warga Persyarikatan yang tidak hanya pandai menyusun program, tetapi juga pandai menyucikan niat. Tidak hanya cakap berbicara tentang umat, tetapi juga hadir merasakan luka umat. Tidak hanya bangga pada sejarah besar Muhammadiyah, tetapi juga bertanya, kontribusi apa yang sedang saya tambahkan hari ini untuk melanjutkan sejarah itu? Sebab mencintai Muhammadiyah bukan hanya dengan menyebut namanya, tetapi dengan menghidupkan nilai-nilainya dalam akhlak, kerja, pelayanan, ilmu, dan keberpihakan.

Pada akhirnya, muhasabah adalah cermin. Ia tidak selalu menampilkan wajah yang kita sukai, tetapi menampilkan wajah yang perlu kita perbaiki. Kadang ia memperlihatkan noda yang selama ini kita tutupi dengan kesibukan. Kadang ia menunjukkan retak yang selama ini kita sembunyikan dengan pencapaian. Namun justru karena itu muhasabah menjadi anugerah. Selama seseorang masih mampu merasa kurang di hadapan Allah, masih ada harapan baginya untuk bertumbuh. Selama sebuah gerakan masih berani mengevaluasi dirinya, masih ada peluang baginya untuk semakin mencerahkan.

Maka marilah kita menghidupkan muhasabah sebagai kebiasaan pribadi dan budaya gerakan. Menghisab diri sebelum dihisab. Menimbang amal sebelum amal itu ditimbang. Memperbarui niat sebelum amal menjadi sia-sia. Memperbaiki langkah sebelum jalan terlalu jauh menyimpang. Sebab kehidupan ini terlalu singkat untuk dijalani dalam kelalaian, dan akhirat terlalu agung untuk disambut dengan bekal seadanya.

Muhasabah bukan sekadar menoleh ke belakang. Ia adalah cara paling jernih untuk melangkah ke depan. Ia membuat kita lebih rendah hati kepada Allah, lebih lembut kepada sesama, lebih jujur dalam berorganisasi, lebih ikhlas dalam berdakwah, dan lebih sungguh-sungguh menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan.

Semoga dari ruang-ruang sunyi muhasabah lahir manusia-manusia baru, lebih ikhlas, lebih bersih, lebih berani memperbaiki diri, dan lebih kuat menggerakkan kebaikan. Dan semoga dari jiwa-jiwa yang terus memperbarui diri itulah Persyarikatan ini semakin menjadi rumah tajdid, rumah ilmu, rumah amal, dan rumah pencerahan bagi umat dan bangsa.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Maulid dan Transformasi Profetik: Agenda Indonesia Beradab Abdur Rauf Labib Ramdhany, M.Si, Dosen A....

Suara Muhammadiyah

4 September 2025

Wawasan

Konflik Israel-Palestina: Yahudi Sudah Terpecah!Oleh Mu’arif Sebuah pemandangan unik: sekelom....

Suara Muhammadiyah

16 October 2023

Wawasan

Ketika Idul Fitri Diuji Bukan Oleh Kemiskinan, Tapi Cara Kita Meminta Oleh: Nashrul Mu'minin ....

Suara Muhammadiyah

27 March 2026

Wawasan

Kebijaksanaan Digital Muhammadiyah Oleh: Sukron Abdilah, Peneliti Pusat Studi Media Digital UM Band....

Suara Muhammadiyah

29 October 2025

Wawasan

Amankah Menitipkan Anak di Daycare?  Belajar Dari Kasus Penganiayaan Yang Mengguncang Publik ....

Suara Muhammadiyah

18 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah