Ngabuburit Para Ibu

Publish

25 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
77
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ngabuburit Para Ibu

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Ngabuburit yang dijamin berpahala sangat banyak. Amalan yang mendatangkan keutamaan sangat tinggi adalah tadarus Al-Qur’an. Sangat wajar jika pada bulan Ramadhan banyak muslim yang menambah waktu tadarusnya. Lebih-lebih pada era gawai, tadarus dapat dilakukan dengan membuka gawai.

Gawai dapat disimpan di tas tangan, bahkan, di saku. Oleh karena itu, kotak ajaib itu dapat dibawa ke mana saja dan ringan. Jika ingin tadarus, orang tinggal membuka aplikasi Al-Qur’an yang sudah diunduhnya. Jika ingin mendengarkan bacaan qari terkenal untuk perbaikan bacaannya, dia pun tinggal mengklik qari yang diinginkannya. 

Kemudahan yang demikian menjadi alasan banyak muslim yang menggunakannya. Malahan, muslim berusia lima tahun lebih pun cukup banyak yang menggunakannya. 

Tentu saja ada juga muslim yang lebih memilih membaca Al-Qur’an yang dalam bentuk kitab. Mereka memperlakukannya sejak mengambil, membawa, membaca hingga meletakkannya kembali dengan penuh penghormatan. Tambahan lagi, muslim yang uzur kesehatan matanya dapat menggunakan Al-Qur’an dengan huruf yang berukuran sesuai dengan kebutuhannya.

Mengikuti Taklim

Banyak takmir masjid dan takmir musala yang menyelenggarakan taklim menjelang berbuka. Hakikatnya aktivitas ini pun merupakan tadarus. Apalagi, jika pematerinya mengajak jamaah taklim untuk bersama-sama membaca ayat-ayat yang dikaji, hal itu sangat bagus.

Agar benar-benar menjadi ngabuburit yang berpahala dan tidak mengurangi pahala berpuasa, takmir masjid dan takmir musala dituntut mampu memilih pemateri secara tepat. Pemateri yang fasih berbahasa Arab, hafal ayat dan hadis sangat bagus. Namun, pemateri yang bagus akhlaknya juga sangat penting. Mengapa demikian? Pemateri yang akhlaknya buruk tidak memperhatikan aspek psikologis jamaah.

Ada di antara mereka  yang merujuk kepada penggalan dari HR Ahmad berikut ini, tetapi tidak membaca syarahnya.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ أَمَرَنِى خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- بِسَبْعٍ أَمَرَنِى بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِى أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِى وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِى وَأَمَرَنِى أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أَسْأَلَ أَحَداً شَيْئاً وَأَمَرَنِى أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أَخَافَ فِى اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ وَأَمَرَنِى أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ

Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku, yaitu (1) mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintah agar melihat pada orang di bawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan padaku untuk menyambung tali silaturahim (hubungan kerabat) walau kerabat tersebut bersikap kasar, (4) beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun, (5) beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit, (6) beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwah di jalan Allah, dan (7) beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (‘Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah’) karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” 

Muhammad Abduh Tuasikal di dalam artikelnya “Katakanlah Kebenaran Walau itu Pahit” menyarikan penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin tentang hadis tersebut. Di dalam penjelasannya, ada tiga contoh yang dikemukakan oleh Imam an-Nawawi yang dipaparkannya. Salah satu contoh itu adalah meluruskan shaf dalam shalat berjamaah. Banyak orang awam yang mengingkari hal ini. 

Ketika disuruh maju atau mundur sedikit supaya lurus, ada yang mengingkari. Ada pula yang marah gegara disuruh meluruskan shaf. Namun, imam harus tetap mengajarkan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepada para jamaah. Ia harus sabar membimbing mereka yang bersikap tidak baik. Begitulah penjelasan Imam an-Nawawi.

Semestinya, contoh tersebut dipahami secara utuh. Pada bagian akhir penjelasan itu terdapat nasihat agar imam bersabar. Cara menyeru kepada kebenaran demikianlah yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tuntunan agar kita menyeru kepada yang benar dengan cara yang baik sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat al-Nahl (16):125,

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya, Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.”

Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menyeru kepada kebenaran dengan cara yang baik terdapat pula di dalam Al-Qur’an surat Thaha (20):43-44,

اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ

“Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut. Mudah-mudahan dia sadar atau takut.”

Jika kebenaran disampaikan dengan cara yang tidak baik, justru dapat menyebabkan ketersinggungan jamaah. Akibatnya, mereka enggan hadir. Keengganan hadir merupakan reaksi yang sangat sopan. Jika banyak jamaah yang tersinggung, kiranya tidak tertutup kemungkinan timbul kegaduhan sehingga tujuan penyelenggaraan taklim tidak tercapai. Arifkah jika kita menyalahkan jamaah?  
 
Takmir masjid dan takmir musala perlu pula menyiapkan topik yang benar-benar mencerdaskan, mencerahkan, dan memajukan umat Islam. Topik yang disiapkan tidak sekadar mengulang tahun-tahun sebelumnya. 

Jika topik tidak disiapkan oleh takmir, dapat terjadi topik yang sama disampaikan oleh pemateri yang berbeda. Dengan kata lain, terjadi ketumpangtindihan. Hal itu perlu dihindari karena dapat berpengaruh buruk terhadap semangat jamaah menambah ilmu. 

Ngabuburit di Dapur

Di antara ibu-ibu pasti ada yang tidak dapat hadir di majelis taklim karena menyiapkan segala sesuatu untuk berbuka. Mereka sejak selepas shalat asar sangat sibuk di dapur. Hal ini menyebabkan ada di antara mereka yang merasa kehilangan kesempatan memperoleh pahala. 

Ada lagi ibu-ibu yang juga merasa kehilangan kesempatan memperoleh pahala. Mereka adalah ibu muda dengan tiga orang anak. Di antara ibu-ibu itu ada yang membantu suaminya menjemput rezeki sejak pukul 07.00-pukul 16.00. 

Anak sulung berusia 15 tahun. Dia sudah sering berpuasa, bahkan, tidak hanya pada bulan Ramadhan. Anak kedua berumur 11 tahun. Dia sudah lima kali berpuasa Ramadhan. Anak ketiga berusia 9 tahun. Dia sudah tiga kali berpuasa Ramadhan. 

Sementara itu, suami berangkat ke tempat bekerja pukul 05.30 dan baru tiba kembali di rumah pukul 18.00. Dia tidak dapat menghadiri majelis taklim, kecuali pada hari libur. Tidak ada waktu untuk membersamai anak-anak ngabuburit dengan menghadiri majelis taklim, kecuali pada hari libur. 

Kesibukannya makin bertambah karena ibu muda iru tinggal satu rumah dengan mertua. Mertuanya lansia dan uzur kesehatannya. Namun, mereka bersemangat berpuasa. 

Tidak perlu galau. Kesibukannya di dapur menyiapkan segala sesuatu untuk berbuka berpahala juga. Lebih-lebih lagi, kesempatan itu digunakan untuk mendidik dan melatih anak-anaknya membantu melakukannya. Bahkan, sesungguhnya, segala yang dilakukannya di rumah itu merupakan salah satu wujud pengamalan hasil taklim. Jadi, tidak perlu merasa kehilangan kesempatan beroleh pahala.

Sebagai ganti hadir di majelis taklim, mereka dapat mengikuti taklim di radio. Media ini dapat digunakan karena memanfaatkan indra dengar. Jadi, mereka tetap dapat mengikuti taklim dan menyiapkan segala sesuatu untuk berbuka.

Rasulullah shallalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam HR at-Tirmizi, HR Ibnu Majah, dan HR Ahmad

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ
 غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” 

Para ibu dapat pula ngabuburit di dapur dengan menyiapkan segala sesuatu untuk berbuka sambil berzikir. Amalan ini pun berpahala.

Bismillah!


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ujian Idul Fitri: Mencari Makna dalam Perayaan Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univ....

Suara Muhammadiyah

30 March 2025

Wawasan

Merawat Kemabruran Haji Oleh: Mohammad Fakhrudin Bagi setiap muslim, cita-cita dapat menunaikan li....

Suara Muhammadiyah

12 July 2024

Wawasan

Oleh: Mahli Zainuddin Tago Kampleks  BBGP, Jalan Kaliurang-Jogja, Jumat 9 Febr 2024. Suasana s....

Suara Muhammadiyah

16 February 2024

Wawasan

Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113: Dakwah Mencerahkan di Tingkat Nasional dan Internasional Oleh: ....

Suara Muhammadiyah

18 November 2025

Wawasan

Refleksi Milad ke-60, Menuju IMM Progresif di Masa Depan Oleh: Muhammad Ikhlas Prayogo, Sekertaris ....

Suara Muhammadiyah

17 March 2024