Parenting Iqra’: Dari Mushaf Menuju Ensiklopedia

Publish

26 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
90
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Parenting Iqra’: Dari Mushaf Menuju Ensiklopedia

Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd, Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga

Di era digital saat ini, tantangan terbesar orang tua bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan banjir informasi yang mendegradasi kemampuan fokus anak. Gawai dengan algoritma short-form video telah mengikis daya tahan membaca (reading stamina) generasi muda. Anak-anak tumbuh menjadi pembaca sekilas yang gagap memahami kedalaman makna.

Di tengah krisis literasi ini, Prophetic Parenting menawarkan solusi yang revolusioner namun berakar kuat pada tradisi: membangun kebiasaan membaca buku yang diawali dan berpusat pada membaca Al-Qur'an. Ini bukan sekadar dogma teologis, melainkan sebuah strategi pedagogis yang kritis dan mendalam untuk membangun struktur kognitif, spiritual, dan intelektual anak sejak dini.

Iqra’: Proklamasi Literasi Holistik

Perintah pertama yang turun dalam Islam bukanlah perintah untuk menyembah, melainkan perintah untuk membaca. Allah SWT berfirman dalam wahyu pertama-Nya:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Secara kritis, kata Iqra’ (bacalah) dalam ayat ini tidak memiliki objek spesifik (maf'ul bih). Allah tidak mengatakan "bacalah Al-Qur'an" atau "bacalah kitab". Ketiadaan objek ini menunjukkan bahwa perintah membaca bersifat semesta: membaca ayat qauliyah (teks wahyu) sekaligus membaca ayat kauniyah (alam semesta, fenomena sosial, dan ilmu pengetahuan).

Namun, mengapa pembiasaan ini harus dimulai dari Al-Qur'an? Karena Al-Qur'an adalah fondasi epistemologis seorang Muslim. Membaca Al-Qur'an melatih anak untuk melihat dunia melalui sudut pandang ketuhanan (Rabbani). Ketika anak terbiasa berinteraksi dengan teks Al-Qur'an, ia sedang membangun jangkar spiritual agar kelak saat ia membaca buku-buku dunia, ia tidak kehilangan arah moralnya.

Transformasi Kognitif dan Linguistik Melalui Al-Qur'an

Secara neurosains dan psikologi perkembangan, membiasakan anak membaca Al-Qur’an sejak dini memberikan stimulasi otak yang luar biasa. Bahasa Al-Qur'an memiliki karakteristik linguistik yang kaya, rima yang ritmis, dan struktur gramatikal yang kompleks.

Ketika seorang anak belajar mengeja, melafalkan makhraj huruf, dan mematuhi hukum tajwid, struktur kognitifnya sedang dilatih untuk fokus dan presisi. Ini adalah latihan critical thinking tahap awal. Anak yang terbiasa membaca Al-Qur'an dengan tertil secara otomatis akan memiliki ketahanan membaca yang lebih tinggi saat menghadapi buku-buku teks pelajaran atau sains yang tebal.

Rasulullah SAW menekankan pentingnya interaksi dengan Al-Qur'an dalam sebuah hadits:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ 

"Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an adalah seperti buah utrujjah; baunya harum dan rasanya enak..." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini secara mendalam mengisyaratkan bahwa membaca Al-Qur'an mengubah "kualitas" diri anak. Harum baunya mencerminkan karakter sosial dan lisannya yang baik, sementara enak rasanya mencerminkan kedalaman intelektual dan spiritual di dalam dirinya.

Kesalahan sebagian pola asuh konvensional adalah memisahkan secara dikotomi antara "bacaan agama" dan "bacaan umum". Di sinilah letak pentingnya peran orang tua sebagai jembatan pembimbing. Setelah anak distimulasi dengan keindahan lafal Al-Qur'an, orang tua harus menuntun mereka untuk menjelajahi makna-makna di dalamnya melalui buku bacaan lain.

Al-Qur'an dipenuhi dengan kisah-kisah kaum terdahulu, fabel (seperti kisah semut Nabi Sulaiman atau burung gagak Qabil), serta fenomena alam (bintang, laut, gunung). Orang tua yang kritis akan menggunakan narasi Al-Qur'an ini sebagai pintu masuk untuk membelikan anak buku-buku ensiklopedia sains, buku sejarah, atau buku cerita bergambar yang relevan.

Sebagai contoh, saat membaca surah An-Nahl tentang lebah, orang tua dapat melanjutkan pembelajaran dengan membaca buku sains tentang bagaimana koloni lebah bekerja dan memproduksi madu. Dengan demikian, Al-Qur'an berfungsi sebagai framework besar yang memicu rasa ingin tahu (curiosity) anak untuk melahap buku-buku pengetahuan lainnya.

Desain Lingkungan Terencana di Rumah

Membiasakan membaca tidak bisa tumbuh dari sekadar instruksi verbal; ia lahir dari kultur yang didesain secara sengaja di rumah. Orang tua tidak bisa menuntut anaknya meletakkan gawai dan membuka buku, jika ruang tamu mereka hanya dipenuhi oleh suara televisi.

Keteladanan (Uswah): Anak adalah peniru ulung. Mereka harus melihat orang tuanya duduk memegang Al-Qur'an dan membaca buku secara konsisten.

Ritual Waktu Utama: Tetapkan waktu sakral di rumah di mana semua anggota keluarga melepas gawai. Waktu terbaik adalah antara Maghrib dan Isya, atau setelah Subuh. Mulailah dengan tilawah Al-Qur'an bersama, lalu dilanjutkan dengan sesi membaca buku bacaan masing-masing selama 15–20 menit.

Pojok Baca Rabbani: Sediakan sudut khusus di rumah yang nyaman, bersih, dan diisi dengan mushaf Al-Qur'an serta buku-buku bermutu yang mudah dijangkau oleh tangan anak.

Membiasakan anak membaca yang berakar dari Al-Qur'an adalah upaya menjemput janji Allah tentang pengangkatan derajat manusia. Allah SWT berfirman:

 ... يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ ...

"...Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah: 11).

Keimanan dibangun dengan Al-Qur'an, dan ilmu pengetahuan diperluas dengan membaca buku. Ketika kedua sayap ini terpasang kokoh pada diri seorang anak, kita tidak hanya sedang membesarkan anak yang pintar secara akademis, melainkan sedang mempersiapkan generasi emas penentu masa depan peradaban yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan berjiwa Lillah.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengurai Kemuliaan Ibu dari Ayat-Ayat Penciptaan Oleh: Wakhidah Noor Agustina, S.Si., Sekretaris Ma....

Suara Muhammadiyah

13 December 2025

Wawasan

Infaq dan Shadaqah sebagai Pilar Pertumbuhan EkonomiOleh:Tanzil Huda, Dosen Universitas Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

3 November 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Mari kita lepaskan sejenak pand....

Suara Muhammadiyah

4 October 2024

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (16)  Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra ....

Suara Muhammadiyah

21 December 2023

Wawasan

Intelektual Tanpa Nurani Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  Di tengah gegap gempita ....

Suara Muhammadiyah

23 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah