DEPOK, Suara Muhammadiyah – Kepemimpinan yang sukses adalah kepemimpinan yang bersifat fleksibel. Dikemukakan Abdul Mu’ti, secara universal, kepemimpinan seperti itu dimaknai mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Kalau pemimpin yang kaku itu mudah patah. Makanya jangan kaku-kaku memimpin itu,” tegas Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, menambahkan jangan pula lemas.
“Kalau terlalu lemas, ini memimpin tidak pemimpin kok terlalu lemas,” ujarnya saat Kajian Subuh di Masjid Al-Hijri Kompleks BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata Ciputat, Bojongsari Baru, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (30/9) dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul dengan tema “Merawat Keunggulan dan Daya Saing Global.”
Menukil pandangan Abdul Malik Fadjar, dilukiskan sosok pemimpin itu harus luas dan luwes. Demikian tekan Malik, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2010 dan 2010-2015.
“Luas itu artinya pemimpin harus punya jaringan yang kuat, harus punya banyak teman, harus punya jejaring (network),” terang Mu’ti, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Yang hal demikian itu mesti disokong dengan wawasan dan pengetahuan. “Itu berkorelasi dengan luasnya pergaulan kita,” tambahnya.
Di samping itu, pemimpin itu harus luwes. Mu’ti menyebut, kata luwes di sini sebagai penjelmaan pemimpin yang tidak kaku dalam menghadapi realita kehidupan di akar rumput.
“Jangan pokoke, jangan kaku. Kalau itu jadinya robot,” ucapnya. Tapi yang dimaksudkan di situ seorang pemimpin harus punya visi. “Luwes, tapi jangan lemes,” tekannya. Karenanya visi itu harus dimiliki oleh setiap pemimpin.
“Yang dia berusaha untuk mewujudkan visi itu, tetapi dalam mencapainya itu tidak seperti robot; semua ditabrak,” sambungnya.
Selain berpokok pangkal pada tesmak Malik tadi, dapat dipertimbangkan pula untuk menjadi pemimpin, bisa belajar dari buku dan orang-orang yang berhasil dalam memimpin.
“Dalam kaitan ini, kita di Muhammadiyah perlu belajar. Kiai Dahlan sebagai pemimpin, itu juga banyak belajar beliau,” ujarnya.
Menurut Mu’ti, banyak tajdid (pembaruan) yang dicetuskan pendiri Muhammadiyah itu, lebih-lebih dalam konteks pendidikan. Yang disebutnya Kiai Dahlan belajar dari best practice yang dilakukan orang lain, bahkan mereka berbeda agama sekalipun.
“Jadi kita harus belajar dari mana saja. Karena belajar dari banyak orang itu bisa memberi kita rasa percaya diri, tetapi juga bisa memberi kita inspirasi,” tegas Mu’ti. (Cris)

