Perempuan Bercadar

Suara Muhammadiyah

19 September 2026

53
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Perempuan Bercadar

Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul) Penasehat PRM Troketon, Pedan Klaten.

"Menutup aurat sebuah kewajiban setiap umat manusia"

Judul di atas merupakan sebuah privasi dan itu semuanya mempunyai dasar dan keyakinan setiap insan manusia lebih-lebih bagi kaum hawa yang mana itu merupakan wilayah privasi karena batas-batasan sudah diatur dalam Agama yang diyakininya.

Beberapa pekan yang lalu ketika penulis sedang duduk di kursi sambil menikmati secangkir kopi berserta camilan di ruangan dapur, tiba-tiba Android-nya penulis ada pesan WhatsApp. Dan setelah dilihat pesan itu dari seorang perempuan janda muda yang mana beberapa tahun yang lalu sang suami meninggal dunia. Dan saat ini merawat dua anak laki-laki. Yang satu sudah kuliah dan yang kecil saat ini sudah di bangku sekolah SMP.

Dalam isi pesan WhatsApp tersebut Sang perempuan tadi sebut saja Ibu Dina, menanyakan tentang peringatan Maulid Nabi. Adapun isi dalam percakapannya yaitu adalah.

Bu Dina: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, mas jenengan ya merayakan Peringatan Maulid Nabi tho mas.

Penulis: Lha kenapa tho Bu?

Bu Dina: Lha kan Jenengan kan Muhammadiyah Mas.

Penulis: Oh begitu ya Bu, begini Bu bahwa kita sebagai umat Islam dan mempunyai figur yang teladan yaitu Kanjeng Nabi Muhammad akan kepribadiannya yang amanah, sidiq, fatonah, tabligh. Yang berakhlakul karimah mbak.

Bu Dina: Oh begitu ya Mas!

Penulis: Karena yang harus kita ambil dari sebuah peringatan Maulid Nabi itu akan nilai-nilai yang ada dalam diri Kanjeng Muhammad Bu! Jadi semuanya umat Islam harus meneladaninya entah itu yang berbaju Muhammadiyah, NU, MTA dan lain sebagainya.

Bu Dina: Ya Mas, saya mengikuti di masjid sebelah Mas, soalnya sini kebanyakan tidak ada acara Maulid Mas. Lha jenengan dalam story di medsos lebih banyak mengungkap budaya Jawa he Mas.

Penulis: Lha saya lahir ceprot no Jawa Bu, jadi yo Njawani walaupun belum bisa semuanya apa lagi dalam tutur kata dengan bahasa Jawa krama (Jawa halus) sambil senyum.

Bu Dina: Begitu ya Mas, jenengan iku nek pakaian blangkon cocok alias pantes he Mas.

Penulis: Biasa mawon Bu.

Dari obrolan ringan sampai sharing problematika

Di tengah obrolan ringan tentang Maulid tiba Bu Dina mengutarakan masalah atau problemnya baik itu dengan bapak dari almarhum suaminya kebetulan tinggal rumah yang mana sang bapak tinggal di bawah dan Bu Dina lantai atas, maupun dengan sang tukang angkringan di depan tokonya.

Bu Dina: Saya saat ini baru punya problem Mas dengan bapak mertua saya Mas. Yang mana semenjak suami saya meninggal bapak dan keluarganya terhadap saya kurang begitu menerima, makanya Mas suami saya itu lebih nyaman di kota tempat asal saya Mas di Salatiga.

Penulis: Maaf lha sebenarnya ada masalah apa tho Mbak?

Bu Dina: Begini Mas, akhir-akhir ini saya difitnah seseorang kalau saya itu keluar rumah pasti ada hal-hal yang tidak baik begitu Mas menurut mereka Mas, dan sempat difoto segala, Mas!

Penulis: Yang sabar ya Mbak! Yang penting jenengan tidak melakukan apa yang disangkakan Mbak.

Bu Dina: Dan kemarin Mas sempat keluarga dari Salatiga itu datang kemarin hanya gara-gara itu Mas.

Bu Dina: Kemungkinan besok saya dan anak pindah dan tinggal di Salatiga Mas.

Penulis: Lha kenapa Mbak kok tinggal di sana Mbak?

Bu Dina: Lha sama Bapak, apa yang kemarin yang telah dikasihkan sama suami saya diminta sama Bapak.

Penulis: Lha kan Almarhum juga punya hak atas warisan tho Mbak, dan masalah warisan itu memang sangat begitu sensitif dan harus hati-hati Mbak dan yang perlu diperhatikan kemarin bapaknya suami Mbak itu apakah memberikan dalam bentuk hibah, hadiah atau warisan Mbak, karena itu harus hati-hati.

Bu Dina: Suami saya dapat sertifikat Mas.

Penulis: Oh begitu ya Mbak.

Bu Dina: Ya memang kenyataan seperti itu Mas kalau mertua sudah tidak senang itu ibarat kata sepah dibuang apa-apa ora kepeneran Mas, contoh kalau nyuruh beli obat untuk beliaunya itu walaupun yang anak-anak saya yang belikan tapi ya kurang begitu kesannya tapi kalau dibelikan orang lain, bilangnya ini tadi yang belikan si Kasman. Bla bla begitu Mas.

Penulis: Ketika menerima curhatan lewat chatingan WA tersebut ya memberi support dalam menghadapi karena ini masalah sensitif dan hanya baru satu pihak jadi tidak bisa mendeklar pihak mana yang salah dan pihak yang benar.

Wasiat dari Sang Suami

Bu Dina: Dulu suami saya memberi wasiat pada saya Mas, yaitu pakai cadar Mas, dan semenjak suami ndak ada itulah saya mengenakan hijab dan cadar Mas, kalau dulu sewaktu suami saya masih ada ndak pakai cadar Mas.

Penulis: Oh Njih Mbak karena kalau masalah itu kan keyakinan dan pemahaman yang diyakininya Mbak.

Bu Dina: Kebetulan Mas ada sahabat salafi yang mendukung dan mendorong saya mengenakan cadar Mas, bahkan saya dikasih dan tidak bayar.

Penulis: Monggo Mbak kalau itu wasiatnya sang suami dan jenengan melakukannya dengan niat ibadah Mbak, bismillah Mbak. Karena kalau kita berbicara tentang bercadar itu masalah furu'iyah (cabang) dalam menyikapi itu antara pendapat ulama yang satu dengan lainnya berbeda, dan jika kalau kita pemahaman konteks Muhammadiyah wajah perempuan boleh kelihatan, selama tidak bertentangan nilai-nilai agama itu sendiri.

Setelah kurang 20 menitan obrolan Bu Dina bilang terima kasih sudah mendengar cerita dan setelah mohon undur diri karena kegiatan yang lainnya dan bagi penulis apa yang didengar itu bagian sebuah pelajaran yang memberikan hikmah yang begitu dalam.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah -Di balik sorot matahari yang tak kenal ampun, keluarga PT Syarikat C....

Suara Muhammadiyah

11 September 2023

Humaniora

Oleh: Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si Tahu Karna sang Raja Angga? Dia kestria digdaya. Anak Dewi K....

Suara Muhammadiyah

28 October 2024

Humaniora

Doa Terakhir Nenek Menjelang Ajal Cerpen Soegiyono MS Umi Salamah seorang nenek tua renta hidup se....

Suara Muhammadiyah

29 November 2024

Humaniora

Sakit Cerpen Affan Safani Adham Tangan kananku masih memegang bor cordless ketika jarum jam suda....

Suara Muhammadiyah

23 January 2026

Humaniora

Harapan dalam Tiap Proses Hidup  Amalia Irfani, LPPA PWA Kalbar  Ma fil aba, fil abna, &....

Suara Muhammadiyah

22 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah