Salat Jum'at di Masjid Huaisheng
Oleh: Khafid Sirotudin
Di tengah kompleks makam sahabat Nabi saw. seluas 5 hektar di Guangzhou berdiri bangunan masjid Huaisheng. Bangunan masjid ini sering disebut juga sebagai masjid Xianxian atau masjid Saad bin Abi Waqqas. Masjid Agung Guangzhou ini diyakini sebagai masjid tertua ke 6 dari 10 masjid tertua se dunia. Berdiri setelah masjidil Haram di Makkah; masjid Al-Aqsha di Palestina; serta masjid Quba, masjid Nabawi dan Qiblatain di Madinah Saudi Arabia. Masjid Huaisheng dibangun tahun 627-M pada masa Dinasti Tang.
Masjid bergaya arsitek China Klasik ini memiliki 2 lantai, bangunan utama di lantai 1 dan ground-floor (ruang bawah tanah) menyesuaikan landscape kontur tanah. Ruang wudhu dan toilet berada di sisi kanan bangunan masjid melewati jalan bertangga ke arah bawah. Toilet dan tempat wudhu bagi jamaah laki-laki terpisah dengan perempuan yang berada di bangunan sebaliknya. Yang berbeda dengan fasilitas toilet umum pada bandara, stasiun, pabrik, restoran dan hotel berbintang di China, yaitu adanya jet shower/bidet spray atau semprotan cebok di toilet masjid. Oleh karena itu, menyediakan sebungkus tisu basah di tas jinjing untuk keperluan taharah (bersuci) dari hadas atau najis kecil ketika berkunjung ke Tiongkok adalah sebuah keharusan.
Shaf salat bagi jamaah perempuan ditempatkan di sisi kiri-belakang ruang utama masjid lantai 1, dibatasi sketsel kain sebagai hijab (pemisah), sebagaimana umumnya masjid dan mushola di Indonesia.
Sebelum para imam masjid atau khatib hadir menempati shaf depan di samping kiri mimbar khotbah, ada selasar jalan selebar 1 meter dari pintu utama masuk masjid hingga ruang pengimaman. Ditandai dengan karpet berwarna dan bermotif berbeda dibandingkan karpet yang menutupi ruang utama salat.
Setiap Jumat, masjid yang mampu menampung 400-500 orang jamaah ini menambah shaf di halaman. Terlihat 3 tenda knockdown telah disiapkan bagi jamaah yang datang belakangan dan tidak tertampung di dalam masjid. Lengkap dengan karpet dan tikar sebagai alas shaft bagi 200-an jamaah laki-laki. Yang menarik perhatian saya dari salat Jumat di masjid Saad bin Abi Waqqas, yaitu:
Pertama, salat Jumat dimulai pukul 13.00 waktu setempat. 45 menit lebih lambat dari waktu salat zuhur tiba. Sebuah budaya keagamaan yang luwes dan tidak “zakelijk” (saklek) terkait jadwal waktu salat Jumat. Laku kontekstual budaya keberagamaan terhadap sebuah ajaran yang menyatakan, “Salatlah kamu tepat pada waktunya”. Artinya salat zuhur dilaksakan tepat di waktu zuhur, salat maghrib di waktu maghrib, dan salah subuh di waktu subuh. Tidak harus selalu di menit pertama saat waktu salat fardhu tiba.
Saya pernah mengusulkan salat Jumat di sebuah masjid untuk dilaksanakan pada pukul 12.00 atau 12.15 WIB. Usulan saya berdasarkan hasil analisa sosial atas situasi dan kondisi lingkungan sekitar masjid dan masyarakat setempat. Tetapi sayangnya ditolak takmir masjid yang memiliki otoritas mengatur jadual waktu, imam dan khatib. Sebuah alasan menolak dikemukakan: salat fardhu harus dilaksanakan pada “awal waktu”. Sebenarnya saya cuma mengusulkan jadwal salat Jumat agar ‘diundurkan atau dilambatkan’ 30 menit dari waktu awal. Memberi kesempatan kepada muslim laki-laki yang bekerja di kantor/bank/kospin/industri/pasar tradisional–saat istirahat jam 12.00-13.00 WIB–agar dapat menjalankan serangkaian ibadah salat Jumat dengan baik.
Kami pernah menyaksikan salat Jumat berjamaah dilaksanakan dalam 2 sesi di sebuah masjid pada sebuah kawasan industri di Turki. Menyesuaikan jadual waktu kerja shift pagi dan siang para pekerja industri di sana. Dimana pekerja shift siang melaksanakan salat Jumat lebih dahulu dari pekerja shift pagi. Saya jadi bertanya, sudahkah umat muslim dan warga persyarikatan siap memasuki era industri, dimana mesin pabrik tidak mungkin berhenti di saat waktu salat zuhur tiba.
Kedua, rangkaian ibadah Jumat diawali dengan pengajian oleh mubaligh muda. Kurang lebih setengah jam sebelum khotbah Jumat dimulai. Walaupun saya tidak paham materi yang disampaikan dalam bahasa Mandarin, tetapi setidaknya dapat menangkap pesan dari nukilan ayat Al-Quran dan hadits yang disampaikan.
Ketiga, khotbah Jumat disampaikan singkat –7 sampai 10 menit–dengan menggunakan bahasa Arab. Mengingatkan saya pada suatu ketika pernah mengikuti salat Jumat di sebuah masjid kecil salah satu kampung di ujung desa kabupaten Kendal. Khatib (pengkhotbah) sama sekali tidak menggunakan bahasa Indonesia atau basa Jawa, tetapi memakai bahasa Arab.
Keempat, imam mengajak jamaah melaksanakan salat ghaib (salat jenazah) seusai salat Jumat bagi para korban kekejaman zionis di Gaza Palestina dan korban bencana alam di Indonesia.
Sebuah laku ritual keagamaan warga muslim di Tiongkok dalam merespon berbagai kejadian bencana dan krisis kemanusiaan universal. Mengingatkan sebuah mahfudzat (kata-kata bijak dalam bahasa Arab) dari Ali bin Abi Thalib ra: “Senjataku hanyalah doa dan tangisan di hadapan Allah”. Hakekat salat (fardhu dan sunah) berisi ketulusan melafadzkan doa kepada Allah Tuhan sekalian alam.
Kelima, banyak pengemis atau peminta-peminta di pinggir jalan keluar kompleks makam.
Sesuatu yang terlihat sangat lazim di Indonesia. Puluhan pelaku usaha mikro, penjual berbagai makanan/jajanan/buah memakai gerobak dan “tumbu/tenggok” (keranjang dari bambu) turut menjajakan dagangannya. Sebuah pemandangan yang biasa terjadi di pintu gerbang masjid Agung atau masjid Raya di Indonesia. Bedanya, para pengemis di China telah melengkapi diri dengan papan dari kertas (kardus) ukuran A4 yang dikalungkan di dada bertuliskan “Barcode atau QR Code” nomor rekening bank miliknya.
Keenam, jamaah Jumat berasal dari berbagai kewarganegaraan, etnis/suku dan lintas peradaban (multi-kultural).
Bisa jadi mereka turis asing seperti kami, atau diaspora pekerja industri di Guangzhou yang sedang menikmati istirahat siang. Melihat saya berbaju batik dengan motif logo Muhammadiyah, ada seorang jamaah menyapa, “Assalamualaikum, bapak dari Indonesia? kenalkan saya Andi dari Makasar”. Btw, memakai kemeja batik bermotif logo persyarikatan merupakan satu cara dan usaha mengenalkan persyarikatan kepada dunia (internasionalisasi Muhammadiyah) ketika berkunjung ke luar negeri. Wallahu’alam.
Duren Sawit, 30 November 2025
Khafid Sirotudin, Ketua LP-UMKM PWM Jawa Tengah

