Santri Muhammadiyah di Tengah Tantangan Kecerdasan Buatan
Catatan dari kunjungan Wakil Menteri Dikdasmen ke Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen
Oleh: M. Saifudin (PPM Sangen)
Kemajuan teknologi menghadirkan kemudahan yang belum pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bahkan mampu membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan. Namun, apakah semakin mudah seseorang memperoleh informasi, semakin baik pula kemampuan berpikirnya?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pokok pembicaraan dalam kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., ke Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen, Sukoharjo, Sabtu (24/10/2026). Di sela agenda menghadiri milad Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan peresmian Pondok Sobron, beliau menyempatkan diri mengunjungi PPM Sangen bersama istri.
Pertemuan selepas Asar hingga menjelang Magrib itu dikemas dalam bentuk talk show yang dipandu Mudir PPM Sangen. Hadir Pembina Pondok Sangen, Dr. Ir. M. Bakrun Dahlan, M.M., Ketua PDM Sukoharjo, pimpinan harian PCM Weru, pimpinan Aisyiyah Cabang Weru, pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah Ranting Krajan, tokoh masyarakat, ketua RT dan RW sekitar pondok, para kepala madrasah dan sekolah Muhammadiyah se-Kecamatan Weru, serta santri dan asatidz.
Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi keluarga besar Muhammadiyah untuk menyimak gagasan pendidikan dan pengalaman seorang kader yang mengemban amanah di tingkat nasional.
Salah satu pesan penting Wakil Menteri ialah bahwa kepintaran tidak cukup diukur dari banyaknya pengetahuan. Kemampuan berpikir kritis diperlukan untuk memahami persoalan, menguji informasi, dan mengambil keputusan secara tepat.
Mesin pencari dan AI dapat memberikan jawaban dengan cepat, tetapi jawabannya tidak selalu benar atau lengkap. Karena itu, pelajar tetap perlu membaca, memeriksa sumber, membandingkan pendapat, dan menyusun kesimpulan secara mandiri.
Beliau juga mengingatkan gejala cognitive offloading, yaitu kecenderungan menyerahkan sebagian pekerjaan berpikir kepada alat bantu eksternal. Teknologi memang dapat mendukung pembelajaran, tetapi ketergantungan berlebihan berisiko melemahkan kebiasaan menganalisis dan memecahkan persoalan sendiri.
Pesantren dan sekolah Muhammadiyah perlu menjadikan teknologi sebagai alat pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir. Santri harus dibiasakan berdiskusi, membaca kitab dan buku, mengajukan pertanyaan, menyampaikan argumentasi, serta mempertanggungjawabkan pendapatnya.
Akhlak sebagai Fondasi Pendidikan
Pendidikan tidak cukup menghasilkan orang yang cakap secara akademik. Pendidikan juga harus membentuk pribadi dengan akhlaqul mahmudah, tanggung jawab, ketangguhan, serta kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.
Penggunaan teknologi harus disertai kesadaran moral. Santri perlu memahami pentingnya memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, menghormati karya orang lain, menjaga kejujuran akademik, dan tidak menyerahkan seluruh proses belajar kepada AI.
Di pesantren, karakter dibangun melalui pembiasaan ibadah, kedisiplinan, kehidupan bersama, dan pelaksanaan amanah. Tanggung jawab tumbuh ketika santri dipercaya mengurus kegiatan, menjaga kebersihan, membantu teman, dan menyelesaikan tugas. Dengan demikian, pengembangan ilmu dan keterampilan harus berjalan seiring dengan pembentukan akhlak.
Dr. Fajar Riza Ul Haq juga memiliki pengalaman belajar di pesantren, antara lain Darussalam Sukabumi Ciamis dan Pesantren Mahasiswa Hajah Nuriyah Sobron. Perjalanan beliau menjadi pengingat bahwa pendidikan pesantren bukan penghalang untuk berkembang dan mengambil peran di masyarakat, termasuk pada tingkat nasional.
Keberhasilan tentu tidak semata-mata ditentukan oleh tempat seseorang belajar. Kesungguhan, kemauan untuk terus belajar, kesempatan, dan pertolongan Allah Ta'ala turut berperan dalam perjalanan hidup.
Santri tidak perlu rendah diri ketika berhadapan dengan pelajar dari sekolah lain. Mereka memiliki modal berupa pembiasaan ibadah, kedisiplinan, kemandirian, kehidupan kolektif, dan penguatan ilmu agama. Modal tersebut perlu dipadukan dengan wawasan luas, penguasaan teknologi, kemampuan komunikasi, dan keberanian menghadapi perubahan.
Membatasi penggunaan gawai dan media sosial juga bukan sesuatu yang memalukan. Pembatasan dapat membantu menjaga konsentrasi dan kebiasaan belajar. Yang diperlukan bukan menolak kemajuan, melainkan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dan tetap berpikir mandiri.
Muhammadiyah sebagai Wasilah Pengabdian
Kesuksesan merupakan proses yang membutuhkan kesungguhan, pengalaman, dan ketekunan. Keterbatasan bukan selalu jalan buntu. Dengan ikhtiar dan pertolongan Allah Ta'ala, selalu ada kemungkinan untuk berkembang.
Bagi kader Muhammadiyah, persyarikatan merupakan wasilah pengabdian. Keterlibatan dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan organisasi otonom lainnya menjadi sarana belajar kepemimpinan, komunikasi, tanggung jawab, serta kerja kolektif.
Berorganisasi tidak seharusnya berhenti pada jabatan atau kegiatan seremonial. Organisasi perlu menjadi tempat menempa diri, memperluas wawasan, dan menyiapkan kader yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kunjungan ke PPM Sangen juga memperlihatkan pentingnya hubungan antara pimpinan persyarikatan, amal usaha pendidikan, pesantren, dan masyarakat. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Dukungan organisasi dan masyarakat diperlukan agar pesantren mampu menjalankan perannya secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, pendidikan pesantren Muhammadiyah harus melahirkan generasi yang kokoh imannya, mulia akhlaknya, luas ilmunya, serta kritis dan terampil menghadapi perubahan zaman. Santri tidak dituntut mengetahui segala hal, tetapi harus memiliki semangat belajar sepanjang hayat, keberanian menguji informasi, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Kemajuan teknologi akan terus berkembang, tetapi ilmu harus tetap dituntun oleh iman dan akhlak. Di sinilah peran strategis pesantren dalam menyelenggarakan pendidikan yang memadukan pendalaman ilmu agama, penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan pengabdian kepada masyarakat. Sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah, pendidikan bukan semata-mata upaya mencerdaskan pikiran, melainkan juga membentuk manusia beriman, berakhlak mulia, berkemajuan, dan bermanfaat bagi sesama.
Karena itu, santri tidak perlu minder menghadapi siapa pun. Dengan bekal ilmu, akhlak, kemandirian, dan semangat berorganisasi, mereka harus percaya diri sekaligus terus memperbaiki diri. Tantangan masa depan bukan hanya membutuhkan orang yang mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga pribadi yang mampu berpikir kritis, mencari kebenaran, memegang teguh prinsip, dan mengamalkan ilmunya untuk kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan. Nashrumminallahi wafathun qarib