Sayap Kertas

Publish

19 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
86
Ilustrasi

Ilustrasi

Sayap Kertas

Cerpen Syakira Vita Sasmaya

Di sebuah kota kecil di London, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Charlie. Charlie berusia 9 tahun dan tinggal bersama nenek serta orang tuanya. Namun, ayahnya pergi berperang, meninggalkannya dengan ketidakpastian tentang kapan ia akan kembali. Sementara itu, ibunya telah terbaring sakit selama bertahun-tahun.

Hari demi hari, Charlie menghabiskan sebagian besar waktunya melamun di dekat jendela, memperhatikan jalanan dan orang-orang yang berlalu-lalang. Ia terlalu takut untuk berharap bahwa ayahnya akan kembali.

“Charlie, makanlah makan malammu” pinta neneknya, Emma. Charlie menggeleng pelan. Matanya tetap menatap ke luar jendela, mengabaikan perkataan Emma.

“Bukannya kamu suka kentang tumbuk?” tanya Emma sambil membawa mangkuk makan malam Charlie ke dekat jendela.

“Aku bilang, aku tidak mau!” teriak Charlie, mendorong mangkuk itu menjauh. Emma menatapnya dengan wajah terkejut.

“Baiklah kalau begitu. Jangan makan sampai besok pagi!” kata Emma sambil memukul lengan Charlie. Mata Charlie mulai berkaca-kaca. Saat Emma kembali ke kamarnya, Charlie duduk di sofa tua di bawah jendela. Ia memeluk lututnya dan menangis. Ini bukan pertama kalinya ia mengalami kekerasan fisik dari Emma, tangan dan kakinya penuh dengan bekas luka dan memar. Emma tak pernah ragu melakukannya ketika Charlie tidak menuruti perintahnya. Dan Charlie tak pernah tahu mengapa neneknya berbuat seperti itu.

Dengan tangan gemetar, ia meraih beberapa lembar kertas dan sebuah pensil kecil yang patah. Ia mulai menulis catatan untuk ayahnya dengan tulisan berantakan. Sambil menulis, ia menggumamkan isi surat seolah berbicara langsung kepada ayahnya.

“Kau tahu, Ibu sekarang jauh lebih jarang bicara. Aku berharap Ayah ada di sini untuk melihat keadaannya.”

Setelah beberapa lembar kertas terisi, ia melipat masing-masing catatan menjadi pesawat kertas. Alih-alih mengirimkannya lewat pos kepada ayahnya, ia melempar pesawat-pesawat kertas itu keluar jendela. “Mungkin angin akan membawanya ke langit,” gumam Charlie.

Hari demi hari, ia terus menulis catatan dan surat untuk ayahnya, namun tak satu pun yang pernah sampai.

Beberapa tahun kemudian

Dari luar jendela, suara klakson mobil terdengar tanpa henti. Carmen menutup jendela dengan kesal.

“Kenapa aku harus membantu Nenek di hari libur begini? Aku baru saja mengecas tabletku,” keluhnya.

“Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau,” kata neneknya sambil membersihkan debu di langit-langit loteng. “Ya sudah. Ih!” gerutu Carmen, lalu mulai membantu neneknya membawa beberapa kotak. Kotak-kotak itu berisi banyak barang lama milik kakek-neneknya.

Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah kotak besi berukuran sedang yang tampak sangat berkarat.

“Nek, ini apa?” tanya Carmen sambil mengangkat kotak besi itu tinggi-tinggi, namun tak ada jawaban. “Nek? Nenek dimana?” Carmen keluar dari tumpukan kardus, masih memegang kotak besi itu. Matanya mencari-cari neneknya yang tak terlihat.

“Mungkin dia di bawah,” pikir Carmen. Ia menatap kotak besi itu dan berkata, “Kurasa aku bisa membukanya sendiri.”

Beberapa menit kemudian, kotak besi itu berhasil dibuka. Carmen mengernyitkan dahi. Di dalamnya, ia menemukan banyak pesawat kertas. Ia mulai membuka lipatan satu per satu dan mendapati bahwa di dalamnya tertulis surat-surat. Ia membaca surat-surat itu satu per satu. Hatinya terasa hangat seiring ia terus membaca.

“Apa itu yang ada di tanganmu, Carmen?” Neneknya muncul sambil membawa alat-alat kebersihan.

“Aku tidak tahu, aku menemukan ini di dalam kotak besi tua. Ini milik Nenek? Ada surat-surat di dalam pesawat kertas ini,” jawab Carmen.

“Hm… bukan, itu bukan milikku. Aku tidak ingat milik siapa pesawat kertas itu.”

Nenek mengambil salah satu pesawat kertas dengan lembut. Jari-jarinya yang keriput menelusuri tinta yang mulai pudar. Matanya melembut saat membaca beberapa baris tulisan tangan yang gemetar, kerinduan seorang anak tertuang di setiap kata. Lalu, tangannya bergetar.

“Tunggu… Charlie,” bisiknya dengan suara terbata. Carmen berkedip.

“Charlie? Siapa Charlie?”

Mata neneknya dipenuhi air mata. “Kakekmu. Sebelum dia pindah ke sini, sebelum perang berakhir… dialah yang menulis semua ini.”

Carmen terkejut. Ia kembali menatap surat-surat rapuh di pangkuannya, menyadari bahwa semuanya ditulis oleh kakeknya sendiri saat ia masih kecil.

Malam itu, Carmen tak bisa tidur. Keesokan paginya, ia memutuskan untuk mengunjungi kota tempat kakeknya tumbuh. Ia membawa kotak besi itu bersamanya.

Saat tiba, ia mendapati rumah tua itu masih berdiri, meski telah dimakan waktu. Di sana, seorang tetangga tua menyambutnya dengan ramah.

“Kamu pasti cucu Charlie,” kata pria itu, mengenali sorot mata yang sama. “Dulu dia selalu berdiri di jendela itu setiap hari, menulis catatan kecil untuk ayahnya. Katanya, dia mengirim pesan lewat angin.” Carmen tersenyum. “Memang begitu.”

Saat mereka berbincang, Carmen membuka salah satu pesawat kertas terakhir, yang tak pernah dikirim kakeknya. Tintanya samar, namun kata-katanya masih bisa terbaca:

“Jika Ayah pernah menemukan ini, aku ingin Ayah tahu bahwa aku takut. Nenek menyakitiku saat aku tidak menurut. Tolong pulang segera. Aku akan mencoba untuk tetap berani.”

Air mata mulai mengalir di mata Carmen. Kakeknya tak pernah menceritakan pada siapa pun tentang kekerasan yang ia alami saat kecil, dan ia membawa luka itu dalam diam sepanjang hidupnya. Carmen melipat kembali surat itu dengan hati-hati dan menatap bukit di kejauhan, angin menyapu wajahnya.

“Kakek,” bisiknya, “pesanmu akhirnya sampai kepada seseorang.”

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Pengajian di Desa Kayu Calla, Berjalan kaki Hingga Naik Pick Up Oleh: Furqan Mawardi, Muballigh Aka....

Suara Muhammadiyah

13 October 2025

Humaniora

Selamat Jalan Kyai Muhammad Jazir ASP: Sang Arsitek Kemakmuran Masjid Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zu....

Suara Muhammadiyah

28 December 2025

Humaniora

Setiap Idul Adha, panggung citra kedermawanan korporat kembali digelar. Spanduk megah bertuliskan "K....

Suara Muhammadiyah

7 June 2025

Humaniora

Cerpen Ulfatin Ch Langit masih seperti dulu. Burung-burung masih berkicau merdu. Bunga pukul empat....

Suara Muhammadiyah

19 January 2024

Humaniora

Catatan Sidang Tanwir Kupang: Keramahan NTT dan Peran Muhammadiyah di Tengah Minoritas Oleh : Haidi....

Suara Muhammadiyah

1 January 2025