SDGs Report 2025, Bukti Nyata UMY untuk Pembangunan Berkelanjutan

Dok Istimewa
Dok Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencatat 525 kolaborasi dengan perguruan tinggi serta 129 kolaborasi dengan mitra dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja. Penguatan kemitraan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Capaian itu dipaparkan Wakil Rektor Bidang Reputasi, Kerja Sama, dan Digital UMY, Prof. Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D., dalam peluncuran SDGs Report 2025 di ruang konferensi pers, lantai dasar Gedung AR Fachruddin A, Kampus UMY, Bantul, Rabu (28/10/2026).

Slamet mengatakan kolaborasi menjadi faktor penting untuk memperluas manfaat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan perguruan tinggi.

“Kami meyakini bahwa di dalam mewujudkan SDGs sesuai dengan visi perguruan tinggi dalam tridarma, kami tidak bisa sendiri. Semakin banyak mitra yang bisa kami kolaborasi, maka semakin luas kontribusi yang bisa diberikan ataupun dirasakan,” ujar Slamet.

Dalam paparannya, UMY juga mencatat 247 nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) aktif serta 396 perjanjian kerja sama atau memorandum of agreement (MoA).

Menurut Slamet, penguatan jejaring merupakan salah satu strategi UMY untuk mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi sekaligus memperluas kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.

“Kita juga memiliki kolaborasi yang kuat di dalam mewujudkan tridarma. Ada 525 kolaborasi dengan perguruan tinggi dan 129 kolaborasi dengan mitra dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kemitraan perlu diwujudkan melalui pelaksanaan program, sehingga manfaatnya melampaui penandatanganan dokumen kerja sama.

Slamet menyebut kolaborasi riset UMY meningkat 22,5 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, kolaborasi pengabdian kepada masyarakat tumbuh 4,9 persen.

Penguatan tersebut diharapkan membuka lebih banyak kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk mengembangkan penelitian serta program pemberdayaan bersama mitra.

Slamet turut memaparkan pengakuan eksternal terhadap upaya keberlanjutan UMY. Pada UI GreenMetric World University Rankings 2025, UMY menempati peringkat ke-133 dunia dan peringkat ke-12 se-Indonesia,” ujarnya. 

Sementara itu, dalam Times Higher Education Impact Rankings 2025, UMY berada pada kelompok peringkat 601–800 dunia dan posisi bersama ke-15 di Indonesia. Pemeringkatan tersebut menilai kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian SDGs. 

“Ini merupakan bukti pengukuran yang dilakukan oleh lembaga eksternal atas kontribusi UMY dalam mewujudkan Sustainable Development Goals,” katanya.

Menurut Slamet, hasil penilaian tersebut menjadi bagian dari evaluasi untuk memperkuat kontribusi universitas dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam aspek internasionalisasi, Slamet menyebut mahasiswa asing yang tercatat di UMY berasal dari 64 negara. Ia juga menyampaikan bahwa UMY menerima sedikitnya 60 mahasiswa asing dalam satu tahun.

“Sekarang ini tercatat mahasiswa asing UMY itu berasal dari 64 negara di dunia,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan mahasiswa internasional mendukung pertukaran pengetahuan dan memperluas jejaring akademik lintas negara. Kemitraan internasional juga diharapkan membuka peluang pengembangan pendidikan serta penelitian bersama.

Slamet menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu memastikan hasil penelitian memberikan manfaat nyata. Keberhasilan riset perlu dilihat dari kontribusinya dalam menjawab persoalan masyarakat, selain melalui publikasi ilmiah.

“Bagaimana riset-riset dosen mahasiswa tidak hanya menjadi publikasi saja yang ditampilkan di dalam berbagai macam jurnal, tetapi betul-betul bisa menyelesaikan permasalahan masyarakat, digunakan oleh masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perlu menjadi perhatian perguruan tinggi dalam merespons perubahan kebutuhan pembangunan.

Menurut Slamet, pencapaian SDGs membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Kerja sama lintas sektor diperlukan karena tantangan pembangunan berkelanjutan tidak dapat diselesaikan satu institusi.

“UMY memiliki komitmen untuk terus-menerus berkontribusi dalam mewujudkan Sustainable Development Goals. Tantangannya sangat tinggi, sehingga satu yang harus kita lakukan adalah kolaborasi multi-helix,” ujarnya.

Perluas Akses Pendidikan Tinggi

Wakil Rektor Bidang Pengembangan, Kemahasiswaan, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) UMY, Prof. Muhammad Faris Al-Fadhat, S.IP., M.A., Ph.D., menyampaikan tersedia 40 skema beasiswa dari sumber internal dan eksternal pada 2025 untuk memperluas akses pendidikan tinggi. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membantu mahasiswa yang menghadapi keterbatasan ekonomi sekaligus memperkuat kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

“Pada tahun 2025 kemarin, UMY telah menyiapkan 40 skema beasiswa baik dari internal maupun eksternal. Kemudian jika kami kaji, beasiswa yang telah kami sediakan ini rupanya meng-cover begitu banyak anak-anak muda kita,” ujar Faris.

Menurutnya, penyediaan beasiswa diperlukan agar kesempatan menempuh pendidikan tinggi dapat menjangkau mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi.

Faris menyebut sebanyak 19,4 persen mahasiswa UMY memiliki keterbatasan ekonomi. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian universitas dalam mengembangkan dukungan pendidikan.

“Misalnya kalau kita lihat 19,4 persen itu mahasiswanya memiliki keterbatasan ekonomi,” katanya.

Selain kondisi ekonomi, Faris menyoroti latar belakang pendidikan keluarga mahasiswa. Ia mengungkapkan sekitar 30 persen mahasiswa UMY merupakan generasi pertama dalam keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi.

“Yang menarik adalah 30 persen ini mereka adalah generasi pertama di keluarga,” ujarnya.

Menurut Faris, temuan tersebut menunjukkan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membuka kesempatan belajar bagi keluarga yang sebelumnya belum memiliki pengalaman pendidikan tinggi.

Sebagai ilustrasi, proporsi 30 persen dari 5.000 mahasiswa setara dengan 1.500 orang. Faris berharap kesempatan kuliah dapat membantu mahasiswa meningkatkan kualitas hidup keluarga dan memperluas peluang ekonomi pada masa mendatang.

Faris menegaskan bahwa penguatan akses pendidikan perlu diikuti pengembangan kemampuan, prestasi, dan karakter mahasiswa.

Ia menyebut UMY mencatat 659 prestasi akademik dan nonakademik pada 2025.

“Pada tahun lalu kita lihat ada 659 total prestasi, baik akademik maupun nonakademik,” katanya.

Menurutnya, capaian tersebut perlu dikembangkan menjadi kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat. Mahasiswa didorong menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk menjawab kebutuhan di lingkungan sekitar.

“Tapi lebih dari itu, UMY ingin dengan prestasi itu kemudian bertransformasi menjadi dampak nyata,” ujarnya.

Untuk memperkuat kontribusi sosial, UMY mendorong mahasiswa mengikuti berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Faris menyebut terdapat 10 kelompok pengabdian berdampak yang didorong menjalankan kegiatan sosial. Program tersebut melengkapi kuliah kerja nyata (KKN), pengabdian di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta aktivitas kemahasiswaan lainnya.

“Jadi ada 10 kelompok pengabdian berdampak yang kami dorong lakukan,” katanya.

Ia juga mencontohkan keterlibatan mahasiswa dalam pengelolaan program takjil Ramadan sebagai sarana pembelajaran tanggung jawab sosial.

Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat penting untuk mengembangkan kepekaan dan kepedulian mahasiswa, termasuk di tengah kehidupan generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi digital.

Faris mengatakan perluasan akses pendidikan tinggi masih menjadi tantangan di Indonesia. Karena itu, UMY berupaya meningkatkan dukungan beasiswa melalui kerja sama dengan berbagai mitra.

“Beasiswa akan kami siapkan lebih banyak lagi dengan mitra-mitra kami agar mahasiswa ke depan, anak-anak muda yang tidak bisa kuliah ini bisa akses pendidikan,” ujarnya.

Dorong Mahasiswa Ciptakan Lapangan Kerja

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kewirausahaan, dan Alumni UMY, Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., menilai kampus perlu membekali lulusan dengan kemampuan memasuki dunia kerja sekaligus mengembangkan usaha. Ia mendorong pengembangan kewirausahaan mahasiswa sebagai kontribusi perguruan tinggi dalam membuka lapangan kerja. Pada 2025, UMY mencatat 33 usaha rintisan atau startup dalam program inkubasi bisnis yang melibatkan pendampingan dosen dan alumni.

Zuly menekankan bahwa penciptaan lapangan kerja membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Ia menyinggung target pemerintah membuka 19 juta lapangan kerja sebagai tantangan yang juga perlu direspons perguruan tinggi.

“Pemerintah mengatakan dan mempersiapkan 19 juta lapangan pekerjaan ya, tapi masih jauh. Masih banyak yang belum ada. Sehingga bagaimana perguruan tinggi memberikan kontribusi untuk membuat lapangan pekerjaan, tidak hanya nunggu dari pemerintah,” ujar Zuly.

Target 19 juta lapangan kerja tersebut merupakan target nasional hingga 2029, bukan target penciptaan pekerjaan oleh UMY. 

Menurut Zuly, penguatan program kewirausahaan menjadi salah satu langkah kampus untuk memperluas pilihan karier lulusan. Melalui pendampingan, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan usaha yang berkelanjutan dan berpotensi menyerap tenaga kerja.

UMY melibatkan dosen serta alumni yang berpengalaman di dunia usaha dalam program inkubasi bisnis tersebut.

“Kita kebetulan punya inkubasi bisnis di kalangan mahasiswa yang didampingi para dosen, juga para alumni yang telah sukses di dalam dunia usaha. Ada 33 startup pada tahun 2025 yang lalu,” ungkapnya.

Zuly berharap usaha rintisan mahasiswa dapat terus berkembang sehingga membuka kesempatan kerja bagi lulusan UMY maupun perguruan tinggi lain.

“Sehingga nanti startup yang sudah ada itu bisa merekrut teman-teman yang baru lulus dari perguruan tinggi ini ataupun dari perguruan tinggi yang lain,” katanya.

Selain mengembangkan kewirausahaan, UMY menyiapkan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja. Dalam paparannya, Zuly menyebut rata-rata masa tunggu kerja lulusan UMY sebesar 3,9 bulan.

Ia juga menyampaikan bahwa 77 persen lulusan dalam data yang dipaparkan telah memperoleh pekerjaan, termasuk melalui kegiatan wirausaha.

“Lulusan UMY itu mencapai 77 persen yang sudah bisa mendapatkan lapangan pekerjaan, terutama mereka yang menjadi wirausaha,” jelasnya.

Menurut Zuly, data tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi universitas dalam menyiapkan lulusan. Penguatan kompetensi dan keterampilan kewirausahaan tetap perlu dilakukan agar mahasiswa memiliki pilihan karier yang lebih luas.

Ia menambahkan bahwa sebagian lulusan memilih melanjutkan pendidikan, terutama ke jenjang magister.

Perkuat Pendampingan dan Keberhasilan Studi

Dalam kesempatan yang sama, Zuly menyampaikan tingkat keberhasilan studi mahasiswa UMY sebesar 89,40 persen. Menurutnya, mahasiswa yang tidak menyelesaikan studi dapat memiliki beragam latar belakang, termasuk mengundurkan diri atau memutuskan tidak melanjutkan pendidikan.

Karena itu, penguatan proses pembelajaran dan pendampingan mahasiswa diperlukan untuk mendukung penyelesaian studi serta kesiapan mereka berkontribusi di masyarakat.

Zuly berharap inkubasi bisnis, penguatan kompetensi, dan keterlibatan alumni dapat memperluas kesempatan kerja. Melalui langkah tersebut, lulusan diharapkan mampu mengembangkan karier sekaligus menciptakan peluang usaha yang memberikan manfaat bagi orang lain. (RNS)