Suluh Bangsa

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
115
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Suluh Bangsa

Oleh: Saidun Derani

Mukaddimah

Makna suluh adalah alat penerang seperti obor, lampu, atau daun kelapa kering yang terbakar, atau penyuluh yang diartikan dengan seseorang yang mencari rahasia, mata-mata gelap, pengintip atau perisik, bisa juga dimaknai dengan damai atau pun memutuskan pertentangan. Selain itu dapat juga diartikan dengan pelita yang ditutup tiga perempat bagiannya supaya bisa bercahaya lebih terang dan jauh ke suatu jurusan yang diarahkan.

Makna lain dari arti kata suluh adalah penerang seperti penyuluh yang hadir dalam suasana gelap yang artinya suasana keterbelakangan iman dari umat itu sendiri, suluh yang tingkat terangnya sampai ke pojok dan begitu pula suluh identik dengan bertahan lama dalam suasana apapun dan juga bersifat tegas.

Sedangkan makna lentera adalah perangkat pencahayaan yang dapat dibawa-bawa dan berfungsi untuk penerangan, melambangkan cahaya dalam kegelapan, menerangi manusia agar tidak sesat, dan lentera merupakan symbol harapan dan keamanan bagi mereka yang mencari kebebasan. Makna lain dari lentera adalah sebagai wadah untuk sumber cahaya (lampu kecil) dengan bertutup kaca, dan lentera diartikan dengan dapat menjadi inspirasi. Lentera juga melambangkan keberuntungan, kesehatan, kemakmuran. Sedangkan lentera yang mengambang dapat melambangkan duka cita dan berfunsgi sebagai pemandu roh leluhur. Sedangkan asal kata lentera berasal dari bahasa Perancis dari bahasa latin yang berarti lampu atau obor.

Makna-makna di atas lahir ketika ulang tahun Dr. H. Anwar Abbas, MM, M.Ag usia yang ke-70 tahun yang dikenal di tingkat nasional dan sehariannya dengan panggilan Buya Anwar Abbas, Sabtu, 15 Februari 2025 bertempat di Ruang Serba Guna Cendikia, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang disampaikan testimoni dari beragam kerabat dan sahabat yang mengenal dekat beliau. Sebutlah misalnya testimoni dari Rektor UMJ, Prof. Ma’mun Murod, Ketua MUI KH. Anwar Iskandar, Chairul Tanjung, Dr. KH. Cholil Nafis, dan Sukidi, Ph. D, seorang cendikiawan Muda Muhammadiyah.

Kegiatan di atas diikuti dengan peluncuran tiga buku yaitu “Tuhan Tidak Tidur”, “ Biografi Buya Anwar Abbas”, dan terakhir “ Respons Anak Kampung Untuk Umat, Bangsa dan Dunia. Ketiganya secara substansial isinya merupakan karya beliau sendiri dengan dibantu sebuah team penulis yaitu Ketua Sudarnoto Abdul Hakim dan para anggota terdiri dari Saidun Derani, M. Farid Hamzen, dan Afrizon Safri. Kerja team ini memakan waktu dari 15 Februari 2024 sampai dengan 15 Februari 2025 dan belakangan muncul nama Mukhaer Pakkana. Sayangnya dalam publikasi buku ini oleh Penerbit Suara Muhammadiyah Yogyakarta nama-nama team terlupa tercantumkan. Manusiawi kayaknya karena manusia sumber lupa dan kesalahan.

Fokus tulisan kali ini ingin melihat posisi Anwar Abbas di tengah carut marut NKRI -meminjam istilah Demo mahasiswa hari ini “Indonesia Masih Gelap” sebagai Suluh dan Lentera Bangsa di tengah Bangsa Indonesia yang tidak baik-baik saja saat ini yang menurut penulis sedang mengalami Sakit. Dalam kondisi semacam ini lahir manusia Indonesia dikirim Allah mengoreksi jalan rezim yang berkuasa ibarat Musa as ditemani Harun diutus Allah mengingatkan Fir’aun Raja Mesir pra Masehi.

Sumber Daya Alam Melimpah

Dalam teori pembangungan (Development Theory) menyebutkan bahwa jika sumber daya alam berlimpah dan sumber daya manusia mengalami krisis (rendah) maka negara itu akan mengalami krisis yang diawali dengan krisis kamanusian (ketidakadilan) kemudian berlanjut kepada krisis pangan dan kehancuran pendidikan yang rendah.

Selanjutnya teori Pembangunan menerangkan bahwa kalau sumber daya manusia sangat mumpuni ketimbangs sumber daya alam yang minim maka negara bersangkutan cendrung akan mengalami kemajuan dan surplus ekonomi sehingga sejahtera kehidupan rakyatnya. Sebagai contoh negara tetangga RI adalah Republik Singapura, lalu dapat disebutkan negara Kanada dan Selandia Baru. 

Sedangkan negara dengan sumber daya alam melimpah akan tetapi rakyatnya mengalami krisis kelaparan dan cendrung mati di lumbung padi adalah negara Indonesia yang Merdeka pada 17 Agustus 1945 atas perjuangan berkuah darah para ulama dan rakyat kebanyakan baik sebelum dan sesudah Merdeka ketika Belanda dengan NICA-nya dibonceng Tentara Sekutu pimpinan Inggris tahun 1945-1949 ingin menjajah NKRI kembali sebagai bangsa “jongos”.

Pada masa-masa Revolusi itu Soekarno-Hatta mengalami kepusingan luar biasa, Mengapa pusing tujuh keliling karena Angkatan Bersenjata belum mapan dan kuat, pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 ikut memperkeruh suasana batin pemerintah yang baru berdiri, dan yang lebih parah lagi adalah muncul NICA (Nedherlands Indeis Civil Asministration-Pemerintah Civil Belanda dibentuk 3 April 1944 di Brisbane, Australia mengadakan kerusuhan dan provokator kepada rakyat di mana-mana, khususnya di pulau Jawa.

Alwi Shahab, Wartawan Senior, dalam kasus di Jakarta menggambarkan bagaimana rakyat civil ditembak yang tak jelas kesalahan dan penjelasannya selain tanpa pilih-pilih antara rakyat sipil tanpa senjata dengan kekuatan bersenjata (TKR) main sikat dan hantam saja. Perilaku orang-orang Belanda yang diwakili NICA ini membuat rakyat Jakarta khususnya dan umumnya di Jawa melakukan perlawanan semesta yang dipimpin biasanya oleh para Ulama (Lihat Alwi Shihab, Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia, 2013).

Dalam karya alm Agus Sunyoto, Budayawan NU dan Dosen Universitas Brawijaya, dengan judul “Fatwa dan Resolusi Jihad: Perang Rakyat Semesta di Surabaya 10 November 1945” terbitan tahun 2020 dijelaskan dengan terang benderang kelakuan tentara Sekutu yang mengancam rakyat Indonesia (Surabaya) supaya menyerahkan dan meletakkan senjatanya kepada Tentara Sekutu. Sikap arogan bangsa asing ini semakin tidak mendapat simpati rakyat Indonesia sehingga mereka memilih lebih baik mati atau Merdeka.

Sebelum peristiwa ini terjadi di mana pemerintah mengalami krisis kepercayaana seperti penulis sebutkan di atas, maka Soekarno-Hatta mengutus Soedirman (w. 1950), seorang Jenderal Anumerta yang lahir dari pendidikan Hizbul Wathon dan Guru Muhammadiyah, serta alumni PETA (Pembela Tanah Air) didikan Jepang tahun 1943 di Bogor untuk menemui Pendiri Nahdhatul Ulama di Jombang Jawa Timur Kyai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari biasanya dipanggil Mbah Hasyim (w. 1947)

Tujuan utama kedatangan Soedirman menemui Kyai Sepuh yang sangat dihormati rakyat Jawa ini bahwa kondisi NKRI dalam keadaan gawat darurat dan akan dianeksasi kembali penjajah Belanda. Dalam konteks semacam ini apa yang bisa dilakukan umat Islam dan para Ulamanya.

Permintaan Soekarno-Hatta dijawab Mbah Hasyim dalam sebuah Keputusan bersama Ulama di Surabaya tanggal 22 Oktbober 1945 dengan kata-kata “Berperang dan menolak penjajah itu wajib kepada setiap muslim bagi yang berada dalam jarak tertentu dari tenpat masuk dan kedudukan musuh. Dan sebaliknya yang berada di luar jarak 94 km kewajiban itu hanya menjadi fardhu kifayah”. (hal. 167)

Fatwa Jihad inilah yang kemudian dimuat Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, Antara, Berita Indonesia, dan Radio Republik Indonesia. Dari musholla dan masjid fatwa jihad menggema di seluruh Nusantara. Bagaikan air bah banjir bandang seluruh santri dan umat Islam berbondong-bondong mengangkat senjata melawan tantara sekutu, Jepang dan Belanda. Akhir dari perlawanan rakyat semesta inilah yang menjadi sebab utama mengapa lahir pengakuan Belanda atas kedaulatan dan kemerdekatan bangsa Indonesia di bawah naungan PBB tahun 1950 di meja perundingan.

Dalam konteks inilah dapat dipahami Ulama memfatwakan bahwa Air, Udara, dan Daratan harus dikelola Negara dan dipergunakan sebesar-besar hasilnya bagi kepentingan negara dan hajat hidup rakyat. Dan Hatta sudah benar memasukkan pasal 33 dalam UUD 1945 bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan, 2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, 3) Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Akan tetapi apa lacur kenyataan di lapangan dengan Sumber Daya Alam yang melimpah ruah itu asset material bangsa menurut data yang tersedia hanya dimiliki oleh segelintir manusia Indonedsia dari etnis tertentu saja. Dalam konteks inilah Buya Anwar Abbas mengatakan (mengkritisi) bahwa jika asset material bangsa hanya dikuasai sekelompok kecil etnis tertentu akan menjadi masalah besar bagi perkembangan demokrasi ekonomi dan keadilan bangsa tersebut (Lihat kritik Buya Anwar Abbas terhadap pemerintah dalam hal mengelola negara “Anwar Abbas, Respons Anak Kampung Untuk Umat, Bangsa dan Negara”, tahun 2024)

Selain itu Mohammad Amis Rais, Tokoh Reformasi” Bangsa Indonesia sudah wanti-wanti tentang pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia yang salah urus sehingga tidak memberi efek positif bagi kemakmuran rakyat Indonesia. Kritik beliau termuat dalam sebuah buku dengan judul “Agenda-Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia”, tahun 2008.

Bahkan Prof Mahfud MD dalam sebuah prodcast menyebutkan bahwa kalau saja hasil tambag Negara Republik Indonedsia dikelola dengan benar dan transparan maka akan dapat menghidupkan seluruh Rakyat Indonesia tanpa harus bekerja kayak sekarang ini. 

Dalam konteks menjaga sumber daya alam ini penulis sudah menulis dengan judul “Bandit Timah”, (https://www.trasberita.com/bandit-timah/ di mana potensi kerugian rakyat mencapai 300 T akibat dirampok segerombolan orang (bandit) untuk kepentingan pribadi bukan sebaliknya. Sebab itulah sekarang ini rakyat Bangka mengalami kesulitan ekonomi yang cukup kronis sampai-sampai kebun singkong, pagar rumah, apalagi kendaran bermotor menjadi barangn incaran para pencuri. Nelangsa kehidupan masyarakat secara umum di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini. Belum lagi masalah emas, nikel, tembaga, batubara, minyak di wilayah tengah dan timur hanya memberi kekayaan sekelompok kecil orang saja. 

Cahaya di Tengah Kegelapan

Cover Majalah Tempo “Habislah Gelap Terbitlah Gelap” 24 Februari - 2 Maret 20225 memberikan gambaran bahwa sejak pasca Orde Baru tahun 1998 sampai sekarang ini Bangsa Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat mengalami degradasi moral yang luar biasa akut akibat salah tata kelola organisasi negara dan salah urus sosial-ekonominya. Masalah hukum jangan ditanya, tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Puncaknya adalah muncul tagar “Indonesia Gelap” lalu disusul dengan tagar yang terus berkembang “Kabur Saja Dulu” yang sudah muncul sejak tahun 2023.

Persoalan-persoalan yang membuat kaum mahasiswa, masyarakat civil dan kaum pekerja “spot jantung” adalah pemangkasan anggaran pendidikan, proyek strategis nasional, RUU Minerba (niat direvisi), UU Masyarakat Adat supaya segera diundangkan, Kepres No 1/2025 supaya dicabut, Program makan siang gratis, Masalah Tukin Dosen, UU Perampasan Aset supaya disahkan, UU TNI, Polri, dan Kejaksaan ditolak (revisi), Tolak Kabinet Merah Putih yang kegendutan, Tatib DPR, dan Reformasi Polri.

Setyaningsih, penulis buku “Virus dan Kutu di Jendela Dunia” menyebutkan bahwa mereka ini sebetulnya sedang prihatin terhadap kondisi Tanah Air yang dikepung masalah dari kebijakan yang membuat elpiji 3 kg atau gas melon langka, penghancuran hutan, pemutusan hubungan kerja dengan dalih efisiensi anggaran, kenaikan tarif pajak, kinerja birokrasi yang kurang sat-set, pejabat korup, pagar laut, sampai utang untuk membiayai makan bergizi gratis. Orang-orang sudah lelah dan mereka perlu melepas segala jerit emosi melalui bahasa. “Gerakan Indonesia Gelap”, yang ditandai unjuk rasa mahasiswa sepanjang pekan lalu adalah ekspresi lain dari kegelisahan ini”, tegasnya (Tempo, 2 Maret 2025, 96).

Menurut Martin Lukito Sinaga, sekarang ini Indonesia belanja pemerintahan Presiden, Prabowo Subianto dipotong drastis. Sebanyak Rp. 306 triliun dipangkas untuk membiayai program populis makan bergizi gratis. Ruang fiscal negara menyempit dan jatuh tempo utang pemerintah telah di depan mata. Pendapatan kelas menengah melorot, penganggur kelas terpelajar meningkat. ”Semua tampaknya dibiarkan pemerintah agar semua problem itu mencari jalan keluarnya sendiri”, jelasnya (ibid, 98).

Belum lagi masasalah Korupsi BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) dan Bank Century selesai urusannya secara tuntas, muncul lagi masalah korupsi di Pertamina, Timah, penegak hukum, pelanggaran HAM berat tentang penembakan warga sivil oleh penegak hukum 6 anggota ormas FPI, dan sengkarut masalah Pagar laut yang tiba-tiba sudah memiliki HGU dan sertifikacat. Yang paling celaka bangsa ini adalah masuknya pembunuh diam-diam generasi muda harapan bangsa masalah peredaran NAZA jenis narkoba yang ada kesan dibiarkan aparat penegak hukum hidup liar.

Dalam kondisi carut marut negara yang belum terurai semacam inilah tampil Buya Anwar Abbas dengan kritik-kritiknya yang tajam sebagai respon terhadap berbagai masalah bangsa di atas tanpa preseden untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Semua ini menurut beliau bermuara kepada salah urus pengelola organisasi negara (Lembaga Presiden, DPR , Polri, Jaksa dan Hakim) dan tidak tegaknya keadilan ekonomi sosial di tengah masyarakat Pancasila.

Sukidi, Ph. D, seorang intelektual dan cendikiawan Muda Muhammadiyah menganalogikan dengan mengutip Jalaludin Rumi (w. 1273) kritik-kritik Buya Anwar Abbas itu ibarat “Cahaya di Tengah Kegelapan”. Lain lagi dengan testimoni KH. Anwar Iskandar, Ketua MUI menyebutkan dengan istilah “Penyeimbang” masukan yang diberikan Buya kepada petinggi negara. Beliau menegaskan bahwa kebenaran tanpa kritik (mempertanyakan otentisitasnya) sama saja dengan sayur tanpa garam. CT memberi contoh bagaimana beliau melihat langsung wajah seorang Presiden RI memerah ketika dikritik Buya Anwar Abbas secara BTL.

Penutup

Itulah Buya Anwar Abbas dengan karakter budaya Minangnya. Dia tampil apa adanya sehingga tak dapat dan bisa menyenangkan semua orang yang berbeda alur pikir dan kepentingannya. Dia hanya tahu bahwa elite pimpinan negara yang menyakiti rakyat dan melanggar amanah sama saja menyakitiTuhan yang sudah memberikan begitu banyak kebaikan kepada manusia dengan alam fauna dan flora yang terhampar luas. Sehingga CT sempat-sempatnya menitip pesan supaya kritiknya dikemas seperti pepatah Minang kalau menyeberang sungai jangan melawan arus. Akan tetapi jangan pula terbawa arus. Celakalah awak.

Tak ada gading yang tidak retak, demikian jugalah dengan manusia Anwar Abbas. Selamat ulang tahun ke-70 tahun wahai Suluh Bangsa. Allah “alam bi Sawab

Penulis adalah Dosen Pasca UM-Surby dan UIN Syahid Jakarta. Aktivis PWM Banten.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Spirit Fastabiqul Khairat Oleh: Muhammad Zaini, SHI. MSI., Ketua Majelis Tabligh PDM Pamekasan Jar....

Suara Muhammadiyah

23 April 2024

Wawasan

Pandangan Masyarakat Sekitar “Kisruh” Muhammadiyah Vs BSI Oleh: Muhammad Akhyar Adnan, ....

Suara Muhammadiyah

10 July 2024

Wawasan

Ada Apa Dengan Ekonomi Hijau? Oleh: M. Azrul Tanjung Sejatinya ekonomi hijau bertujuan meningkat....

Suara Muhammadiyah

29 August 2024

Wawasan

Karakter Ayat-ayat Shiyām Ramadhān (1): Iman Menumbuhkan Kekuatan Pengendali Ust. Rifqi Rosy....

Suara Muhammadiyah

21 March 2024

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (6) Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra Pada I....

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah