Syahadatain, Sumpah Hidup Yang Sering Terlupakan

Publish

26 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
153
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Syahadatain, Sumpah Hidup Yang Sering Terlupakan

Oleh: Dr Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Pada suatu titik hening dalam hidup, ketika gemuruh rutinitas mereda dan kebisingan dunia terdiam oleh lelah yang menumpuk, kita sering bertanya, untuk apa sebenarnya aku hidup? Pertanyaan itu tak butuh jawaban ilmiah, ia menuntut kejujuran. Dan di sanalah, sesungguhnya, syahadatain — kalimat agung yang telah menjadi identitas jutaan manusia — menuntut untuk dikaji bukan hanya dengan akal, tetapi juga dengan hati dan jiwa.

“Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh.”
Bukan sekadar lafaz. Ia adalah deklarasi eksistensial.

Kita dilahirkan di tengah umat yang telah mewariskan syahadat ini turun-temurun. Kita mengucapkannya di azan, di iqamah, di shalat, di akad nikah, bahkan di liang lahat. Tapi, benarkah kita hidup dengan kesadaran penuh atas maknanya? Atau syahadat telah menjadi simbol kultural yang kehilangan denyut keberanian dan semangat perjuangan?

Syahadatain adalah awal dari segalanya. Ia adalah titik mula transisi seorang insan dari makhluk biologis menjadi hamba yang bermakna. Ia adalah sumpah setia, ikrar total, yang seharusnya merasuk ke dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Tapi betapa banyak yang mengucapkannya tanpa gemetar. Betapa banyak yang menghafalnya, tapi tidak menggenggamnya. Betapa banyak yang menjadikannya status, bukan arah hidup.

Syahadat bukanlah pintu masuk ke agama saja. Ia adalah jalan keluar dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Ia adalah revolusi terhadap sistem nilai, terhadap pusat ketaatan, terhadap haluan hidup. Maka ketika seorang hamba mengucapkan "lailaha illallah," itu berarti ia sedang meruntuhkan berhala-berhala modern yang tak lagi bernama Latta dan Uzza, tetapi bernama ego, materi, jabatan, opini publik, dan sistem buatan manusia yang menjauhkan dari Rabbul ‘Izzah.

Syahadat bukan pelarian dari dunia, tapi penaklukan terhadapnya — dengan cahaya tauhid. Ia membebaskan. Ia menyejukkan. Ia menuntut. Tapi juga menghidupkan.

Muhammadur Rasulullah bukan hanya pengakuan bahwa Muhammad adalah Nabi. Ia adalah janji bahwa hidup kita harus menapak di jejak beliau, meneladani akhlaknya, memikul risalahnya. Satu kalimat ini menggugurkan hak kita untuk menjadikan siapa pun selain Rasul sebagai standar nilai. Maka bila hidup kita lebih meniru selebritas daripada Rasulullah, lebih mengikuti budaya daripada sunnah, lebih memuliakan harta daripada risalah, maka seharusnya kita bertanya: sudahkah aku benar-benar mengucapkan syahadat dengan seluruh diriku?

Syahadatain adalah pusat orbit hidup manusia.

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, bukanlah sekadar tokoh pembaru. Ia adalah pejuang syahadat. Ketika ia mengajarkan QS Al-Ma’un berulang kali kepada murid-muridnya, ia sedang menggugat syahadat yang mandul. Ia sedang berkata, tanpa perlu berkata, bahwa syahadat yang tidak melahirkan amal sosial hanyalah gema kosong. Maka berdirilah rumah yatim, sekolah rakyat, dan layanan kesehatan — semua itu bukan proyek duniawi, tapi manifestasi syahadat yang hidup.

Bilal bin Rabah menggemakan satu kata dalam siksaan yang tak tertahankan: Ahad... Ahad.... Dalam darah dan debu, ia ajarkan kepada kita bahwa syahadat itu harga diri. Ia adalah energi perlawanan. Ia adalah cahaya yang tak bisa dipadamkan dengan cambuk ataupun batu.

Dan Umar bin Khattab — pernah jadi musuh Islam yang keras — luluh hanya karena satu bagian dari wahyu. Hatinya remuk oleh kalimat Allah. Lalu ia ucapkan syahadat dengan penuh kesadaran, dan sejak itu, sejarah berubah. Dunia melihat bagaimana satu kalimat diucapkan oleh lisan yang jujur, lalu mengubah arah peradaban.

Hari ini, kita hidup dalam zaman yang penuh informasi tapi miskin makna. Dunia digital menuntun manusia untuk terus bergerak, tapi kehilangan arah. Dalam kebisingan algoritma, syahadat seolah tenggelam. Maka tugas kita, sebagai kader dakwah, bukan hanya mengucapkan syahadat — tapi menghidupkannya. Menyematkannya pada setiap pilihan. Membacanya dalam setiap langkah. Membelanya dalam setiap dilema.

Syahadat bukan kata yang ringan. Ia berat. Tapi ia memberikan kekokohan. Dalam syahadat, ada janji untuk taat, untuk setia, untuk berani. Ia bukan kalimat yang hanya pantas diucapkan dalam ritual, tapi yang layak dijadikan strategi hidup.

“Lā ilāha illallāh” adalah inti dari seluruh perjuangan para nabi. Mereka tak diutus membawa kemewahan, tapi membawa kalimat ini — yang membebaskan manusia dari kegelapan batin, dari sistem yang menindas, dari ketakutan yang menyesatkan.

Syahadat juga bukan kalimat elit. Ia adalah kalimat rakyat. Kalimat semua insan. Tak peduli kaya atau miskin, tua atau muda — kalimat ini menyamakan semua manusia dalam ketundukan kepada Yang Esa.

Maka kita bertanya lagi, dengan nada bergetar:
Apakah syahadat kita hidup? Atau hanya terlisan?
Apakah ia sudah menjadi arah hidup kita? Atau sekadar bagian dari identitas sosial?
Apakah kita sudah menjadi syuhada’ al-haqq — saksi kebenaran — yang membawa cahaya ini ke penjuru dunia?

Jika belum, maka sekaranglah waktunya. Untuk menyusun kembali kehidupan kita dalam orbit syahadat. Untuk menata langkah dalam bingkai tauhid. Untuk tidak hanya berkata, tapi menjadi. Tidak hanya menyuarakan, tapi mewujudkan.

Karena syahadat adalah awal dari segalanya. Tapi ia juga harus menjadi inti dari segalanya.

Dan siapa pun yang hidup di bawah cahaya syahadat dengan penuh kejujuran — akan dimuliakan oleh Allah di dunia dan akhirat.

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.
“Katakanlah: sesungguhnya Tuhanku telah membimbingku ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. Al-An'am: 161)

Inilah jalan syahadat. Jalan yang lurus. Jalan yang tak bisa ditempuh sambil bermain-main. Jalan yang harus disusuri dengan tekad, ilmu, dan cinta.

Dan kita — generasi ini — harus menjadi pengusungnya.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Libur Jumat atau Ahad? Menimbang Identitas dan Maslahat Pendidikan Muhammadiyah Oleh: Rusydi Umar, ....

Suara Muhammadiyah

29 August 2025

Wawasan

Oleh Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Dalam ulasan buku kali ini, kita....

Suara Muhammadiyah

27 December 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Kisah-kisah Israiliyat disinggu....

Suara Muhammadiyah

10 May 2024

Wawasan

Saeyag Sa Eka Praya Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon "Jika suatu umat memiliki nilai-....

Suara Muhammadiyah

1 October 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Al-Qur`an diturunkan kepada Nab....

Suara Muhammadiyah

5 April 2024