Terima Kasih Pak Muchlas; Teduh dalam Kata, Panjang dalam Pengabdian

Suara Muhammadiyah

1 October 2026

143
Dewan Redaksi Suara Muhammadiyah HM Muchlas Abror foto bersama dengan Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah Deni Asy'ari, MA., Dt Marajo dan jajaran anggota redaksi lainnya. Foto: Pasra

Dewan Redaksi Suara Muhammadiyah HM Muchlas Abror foto bersama dengan Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah Deni Asy'ari, MA., Dt Marajo dan jajaran anggota redaksi lainnya. Foto: Pasra

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sosoknya sangat tenang dan bersahaja. Tidak suka menonjolkan diri di ruang publik. Tiada pula menampilkan kemewahan yang adi.

Dia adalah Muhammad Muchlas Abror. Usianya sudah 85 tahun—lahir di Wonosobo, Kamis, 11 September 1941. “Saya belum pernah lihat Pak Muchlas marah, belum pernah. Sepertinya Pak Muchlas tidak bisa marah. Karena beliau itu penyayang, pengayom,” ungkap Deni Asy’ari.

Ihwal sosok Muchlas yang dikenal Deni bak orang tuanya sendiri. “Beliaulah yang selama ini membimbing, mengarahkan, memberikan keteladanan dan inspirasi bagi diri saya secara pribadi,” ungkap Direktur Utama Suara Muhammadiyah itu, Kamis (1/10).

Di samping itu, Deni mengenal sosok Muchlas seorang pemimpin yang menuntun dan mengarahkan dalam melakukan perubahan Suara Muhammadiyah di masa-masa awal.

“Saya orang yang menjadi saksi hidup yang ikut bersama Pak Muchlas ketika kita merintis awal perubahan Suara Muhammadiyah awal. Dan satu-satunya orang tua yang bisa kita ajak keliling ke berbagai daerah,” ujarnya.

Bahkan, Muchlas dikenal pula sosok penuh pengabdian. Jejak karirnya di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah sangat dikenal secara luas.

Di Suara Muhammadiyah, lebih khususnya, Muchlas bukan “orang kemarin sore.” Ia tokoh senior yang juga masuk sebagai jajaran anggota Dewan Redaksi.

“Pak Muchlas adalah contoh figur seorang ulama, seorang pimpinan, seorang guru yang teduh, yang sejuk, dan menginspirasi serta mengayomi siapa pun,” ungkap Deni.

Bagi Deni, banyak cuilan teladan yang terpancar dari sosok Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 itu. “Inilah figur yang saya lihat, sangat sederhana yang tauladannya itu memberi inspirasi dan arti bagi kita,” ucapnya.

Yang laik diteladan dari sosok Muchlas bagi Deni ada tiga; tidak ambisius. kedua, tidak kikir. Dan yang ketiga, tidak dengki. “Dan tiga-tiganya ada sama Pak Muchlas,” sambungnya. “Rekan-rekan semua kita belajar dengan beliau, ayo sama-sama kita amalkan amalan beliau ini,” lanjutnya.

Sisi lain, Isngadi Marwah Atmadja mengenal sosok Muchlas sangat langka ditemukan di era saat ini. Disingkapnya, Muchlas tokoh yang selalu sehat, bahkan memasuki usia yang senja.

“Saya bisa menyatakan itu karena meskipun sudah usia 85, itu tidak pernah berpantang makanan apa pun,” beber Redaktur Senior Suara Muhammadiyah tersebut.

Kesehatan Muchlas itu, menurut Isngadi, merupakan manifestasi otentik dari pancaran kesehatan hati, kesehatan jiwa, dan kesehatan nalar.

“Beliau masih selalu jernih dalam berpikir, jernih juga dalam menimbang segala hal. Saya kira beliau tokoh langka. Sungguh beruntung saya saya pribadi sempat bergaul dan bersama-sama di Suara Muhammadiyah ini,” jelasnya.

Demikian juga, Musthofa W Hasyim, menempatkan sosok Muchlas sebagai “guru jurnalistik.” “Ketika saya di Harian Masa Kini, beliau sudah dipercaya memegang halaman redaksi,” ungkap Dewan Redaksi Suara Muhammadiyah itu.

Disebutnya lagi, Muchlas dikenal sebagai juru damai. “Mendengarkan (beliau) selalu merasa damai,” bebernya. Juga, sosok yang ikhlas. “Tidak pernah punya pretensi yang apa yang neko-neko itu. Lurus betul amalnya,” tambah Musthofa.

Bersamaan dengan itu, Imron Nasri pun, sangat kagum dengan Muchlas. “Ingatannya yang sangat-sangat tajam,” tegasnya. Dengan notabene wartawan, ketajaman ingatannya itulah, produksi tulisan yang digoreskan di Majalah Suara Muhammadiyah selalu berlatar belakang kepada masa-masa masa-masa lalu.

“Bisa dikatakan bahan renungan bagi kita semua gitu karena dari segi bahasa, dari apanya memang itu bahasa bahasa pers gitu. Jadi mudah diingat, mudah dicerna,” terang Redaktur Senior Suara Muhammadiyah tersebut.

Seturut itu, Lutfi Effendi menyebut, Muchlas sosok paling berpengaruh bagi perkembangan Suara Muhammadfiyah. Lebih-lebih menyuarakan untuk berlangganan majalah yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang pers di Republik ini.

“Beliau itu menyuarakan untuk berlangganan Suara Muhammadiyah di mimbar, sedangkan saya langsung di lapangan untuk mempengaruhi para hadirin untuk berlangganan Suara Muhammadiyah,” ulasnya.

Upaya yang dilakukan Muchlas itu, dinilai Lutfi membuahkan hasil nyata dan positif. “Dan alhamdulillah dengan tandem itu sering membuahkan agen-agen baru di tempat-tempat tersebut,” tandas Redaktur Senior Suara Muhammadiyah tersebut.

Muchlas telah memasuki Purna Bakti di Suara Muhammadiyah. Banyak kenangan yang tergoreskan selama petualangan intelektual bersamanya. Terima kasih Pak Muchlas. Semoga Pak Muchlas selalu sehat, kuat, dan selalu diberikan kebaikan dan keberkahan dalam hidupnya.

"Terima kasih Pak Muchlas atas seluruh bimbingan, support, doa, dan dukungannya,” tutup Deni. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Kunjungan Dominic Jermey ke Museum Muhammadiyah menjadi momen....

Suara Muhammadiyah

8 April 2026

Berita

Dorong Pengurangan Kemiskinan di Indonesia melalui Pemberdayaan Kaum Dhuafa DEPOK, Suara Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

3 January 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyampaikan keprihatinan mend....

Suara Muhammadiyah

28 April 2026

Berita

JEPARA, Suara Muhammadiyah — Upaya memperkuat peran perempuan dalam menjaga bumi dan menumbuhk....

Suara Muhammadiyah

9 October 2025

Berita

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah – Dukungan dalam upaya program penanganan dan penurunan stuntin....

Suara Muhammadiyah

7 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah