Upaya Penguatan Identitas Muslim Jepang melalui Pendekatan Budaya dan Inovasi

Publish

20 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
100
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Empowering Japanese Muslims: Faith, Culture, and Innovation

OSAKA, Suara Muhammadiyah - Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Empowering Japanese Muslims: Faith, Culture, and Innovation” telah sukses diselenggarakan pada hari Ahad, 12 April 2026 di Osaka, Jepang. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan Japan Da'wah Centre dalam mendukung penguatan pemahaman keislaman yang kontekstual bagi komunitas Muslim di Jepang. Kegiatan ini dirancang dalam tiga sesi utama yang mengintegrasikan aspek keimanan, budaya, dan inovasi sebagai pendekatan holistik dalam menjawab tantangan Muslim minoritas di Jepang.

Sesi pertama disampaikan oleh Twediana Budi Hapsari, Ph.D dengan tema “The Role of Traditional Media in Promoting Religious and Cultural Values: A Comparative Study of Indonesia and Japan.” Materi yang dipaparkan mengangkat konsep “Harmony in Tradition” yang membandingkan peran seni tradisional di Indonesia dan Jepang sebagai media penyampaian nilai spiritual dan budaya. Dalam konteks Indonesia, seni seperti wayang dan gamelan digunakan sebagai sarana dakwah yang mengedepankan nilai kebersamaan dan moralitas. Sementara itu, dalam budaya Jepang, seni dipahami sebagai jalan (do) menuju harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sebagaimana tercermin dalam praktik seperti shodo (kaligrafi). Kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bahasa universal dalam menyampaikan nilai-nilai keagamaan secara lembut dan inklusif.

Sesi kedua disampaikan oleh Sobar M. Johari, Ph.D dengan tema “Unlocking Islamic Financial Wisdom: Strengthening Zakat and Islamic Finance Literacy for Muslim Japan.” Topik sesi ini  menyoroti pentingnya zakat sebagai instrumen utama dalam ekonomi Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai mekanisme distribusi kesejahteraan dan penguatan keadilan sosial. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual, produktivitas, hingga keadilan ekonomi, serta berpotensi besar untuk dikembangkan di Jepang seiring dengan meningkatnya populasi Muslim. Selain itu, literasi keuangan syariah dipandang sebagai langkah strategis dalam membangun kemandirian ekonomi komunitas Muslim di tengah sistem ekonomi global. 

Sesi ketiga berupa Focus Group Discussion (FGD) yang dipandu oleh Anisa Dwi Makrufi, M.Pd.I dengan tema “Indonesian Traditional Culture.” Dalam FDG Anisa yang juga merupakan ketua dari kegiatan pengabdian ini menyampaikan bahwa wayang diperkenalkan sebagai media kultural yang tidak hanya mengandung nilai estetika, tetapi juga sarat dengan pesan moral dan spiritual. Tokoh-tokoh seperti Punakawan dan Pandawa Lima dijelaskan sebagai lokal nilai universal, seperti keadilan, ketahanan, dan kebijaksanaan, yang dapat dikaitkan dengan nilai-nilai dalam Islam.

Lebih lanjut, nilai-nilai dalam wayang tersebut dihubungkan dengan konsep budaya Jepang seperti wa (harmoni), shokunin (dedikasi), dan gaman (ketahanan), yang menunjukkan adanya kesamaan nilai lintas budaya. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa integrasi antara Islam dan budaya lokal dapat dilakukan secara harmonis tanpa menghilangkan identitas masing-masing, sekaligus membuka ruang dialog lintas budaya yang lebih inklusif.

Sebagai bentuk inovasi dalam penyampaian nilai-nilai tersebut, kegiatan ini juga memperkenalkan komik edukatif berjudul “Watashitachi no Shokutaku” sebagai produk pengembangan berbasis penelitian. Komik ini mengangkat pengalaman keseharian Muslim di Jepang, khususnya dalam menghadapi tantangan mencari makanan halal sebagai bagian dari dinamika menjaga identitas keagamaan di lingkungan yang berbeda. Peserta memberikan respon yang sangat positif terhadap komik tersebut. Mereka menyampaikan bahwa tema yang diangkat terasa dekat dengan realitas yang dihadapi, di mana kesulitan dalam menemukan makanan halal menjadi salah satu tantangan utama sebagai Muslim di Jepang. Selain itu, visual komik yang menarik serta alur cerita yang ringan dinilai mampu menyampaikan pesan secara efektif dan mudah dipahami. 

Tidak hanya itu, nilai humanistik yang terkandung dalam komik juga menjadi perhatian utama peserta. Pendekatan yang digunakan dinilai mampu menghadirkan empati dan pemahaman tanpa kesan menggurui, sehingga membuka ruang refleksi tentang bagaimana menjaga identitas keislaman secara damai di tengah perbedaan budaya. Hal ini menjadikan “Watashitachi no Shokutaku” sebagai media edukasi yang relevan, kontekstual, dan adaptif bagi masyarakat Muslim Jepang.

Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan identitas Muslim di Jepang memerlukan pendekatan yang tidak hanya berbasis pada aspek normatif, tetapi juga melalui integrasi budaya dan inovasi. Kolaborasi antara nilai keislaman, kearifan lokal, dan media kreatif diharapkan mampu membangun pemahaman yang lebih inklusif serta memperkuat peran Muslim sebagai bagian dari masyarakat global yang harmonis.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Ratusan murid baru menandatangani ikrar bersama berkarakter santun, se....

Suara Muhammadiyah

27 July 2024

Berita

BOYOLALI, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Boyolali....

Suara Muhammadiyah

8 December 2025

Berita

ENREKANG, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Lembaga Pengembangan Pesantr....

Suara Muhammadiyah

1 October 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam upaya memperluas jangkauan pelayanan dan meningkatkan efektivita....

Suara Muhammadiyah

13 May 2025

Berita

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Diikuti 22 utusan dari PCNA se-Kabupaten Lamongan, Pimpinan Daerah Na....

Suara Muhammadiyah

16 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah