Meningkatkan Kualitas Takwa dengan Menghadirkan Allah
Oleh: Wakhidah Noor Agustina, S.Si.
Pernahkah kita merenung di tengah teriknya siang, saat kita sendirian di dalam kamar yang tertutup rapat? Tidak ada orang yang melihat, tidak ada kamera CCTV, namun kita tidak berani menyentuh seteguk air pun meski kerongkongan terasa sangat kering. Mengapa? Jawabannya satu: karena kita yakin Allah Maha Melihat.
Inilah yang disebut dengan Muraqabatullah (kesadaran mendalam akan kehadiran Allah). Tanpa kesadaran ini, Ramadhan hanyalah rutinitas tahunan yang melelahkan fisik, namun kosong secara spiritual.
Menariknya, dalam Al-Qur'an, ayat tentang kedekatan Allah diletakkan tepat setelah perintah berpuasa. Allah SWT berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa
kepada-Ku..."(QS. Al-Baqarah: 186)
Penggunaan kata "Aku Dekat" menunjukkan bahwa Allah tidak berjarak. Menghadirkan Allah berarti menyadari bahwa Dia lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Saat kita berdiri shalat Tarawih, tadarus, bahkan saat sedang sibuk menyiapkan hidangan berbuka, Allah sedang memandangi kita dengan penuh kasih sayang.
Bagaimana cara praktis menghadirkan Allah? Rasulullah SAW mengajarkan konsep Ihsan:
"Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak (mampu) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim)
Ihsan adalah "CCTV" kalbu yang tidak pernah mati. Jika perasaan dipantau ini hadir, maka shalat kita tidak akan terburu-buru, sedekah kita menjadi lebih ikhlas, dan lisan kita akan terjaga dari ghibah maupun dusta.
Puasa memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki ibadah lain karena sifatnya yang rahasia.
Dalam Hadits Qudsi, Allah berfirman:
"Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan langsung memberi balasannya." (HR. Bukhari & Muslim)
Seseorang bisa berpura-pura shalat atau bersedekah di depan orang lain (riya), namun tidak ada yang benar-benar tahu seseorang berpuasa kecuali dirinya dan Allah. Setiap detik rasa haus yang kita tahan adalah bukti cinta murni kepada-Nya.
Langkah Praktis Menghidupkan Muraqabatullah
Kita jadikan Ramadhan kali ini berbeda, mari kita terapkan tiga langkah praktis yang sederhana nan mendalam dalam menghidupkan Muraqabatullah:
Pertama, dzikir hati; jangan biarkan lidah kering. Basahi dengan dzikir agar "koneksi" batin dengan Allah tetap tersambung di sela aktivitas harian.
Kedua, menghayati makna; jangan biarkan pikiran melayang ke menu buka puasa saat sedang sujud. Fokuslah pada arti setiap ayat yang dibaca.
Ketiga, muhasabah sebelum tidur; luangkan waktu 5 menit sebelum memejamkan mata untuk bertanya, "Ya Allah, apakah ibadahku hari ini sudah mendatangkan ridha-Mu?"
Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini bukan sekadar ritual menahan lapar. Jadikan setiap ruku’, sujud, dan rasa haus kita sebagai saksi bahwa kita benar-benar menghadirkan Allah dalam setiap detak jantung. Mumpung waktu masih ada, mari kita perbaiki kualitas di sisa hari yang tersisa.

