Saat Semua Berawal dari Masjid
Oleh: Bahrus Surur-Iyunk, Anggota Takmir Masjid Besar (Muhammadiyah) Darussalam Sumenep
Masjid selalu menjadi titik temu yang paling hidup bagi sebuah jamaah. Di sanalah denyut kebersamaan dapat dirasakan setiap saat. Bukan hanya ketika adzan berkumandang, tetapi juga ketika para pimpinan, jamaah, dan simpatisan bertemu secara spontan, saling menyapa, dan memperkuat ikatan persaudaraan. Masjid menghadirkan ruang yang tak selalu bisa disediakan oleh forum resmi; ruang untuk mendengarkan dengan hati; berdiskusi tanpa sekat dan sakit hati; dan merawat semangat kebersamaan secara alami. Dalam tradisi Muhammadiyah, masjid bahkan bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi pusat peradaban kecil tempat gagasan besar bersemi, lalu tumbuh menjadi amal nyata bagi umat dan bangsa.
Dari masjid, lahir ide-ide membesarkan Muhammadiyah, khususnya di tingkat cabang dan ranting. Muhammadiyah tumbuh bukan dari ruang-ruang mewah, melainkan dari semangat sederhana yang dipupuk di ruang shalat, serambi kecil, dan pelataran masjid yang selalu terbuka. Di sana para kader bertemu, berbincang tentang masalah umat, dan memikirkan jalan keluar yang berkemajuan. Tidak jarang, sebuah kegiatan besar bermula dari obrolan ringan selepas shalat. Rencana pengajian, program sosial, pembinaan remaja, bahkan pendirian lembaga pendidikan sering berawal dari tekad yang tumbuh di antara sajadah dan tiang-tiang masjid.
Masjid menjadi pusat energi dakwah, tempat di mana ide tidak hanya ditampung, tetapi juga diuji oleh realitas jamaah. Sebab, dakwah bukan hanya soal konsep, melainkan keberanian menggerakkan jamaah menuju perubahan. Karena itu, masjid dalam pandangan warga Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi bangunan megah tanpa ruh. Ia harus bernapas, bergerak, dan hidup bersama jamaahnya.
Di masjid pula muncul ide-ide terlaksananya kegiatan ber-Muhammadiyah. Mulai dari kajian tarjih, pembinaan al-Islam dan kemuhammadiyahan, pemberdayaan ekonomi, hingga kegiatan seni dan budaya yang mencerdaskan. Semua itu bergantung pada satu hal penting: kehadiran. Sebab, masjid hanya hidup bila ditopang oleh langkah-langkah jamaah yang setia mengisi, membersamai, dan memakmurkannya. Ketika para pimpinan dan warga hadir secara rutin, masjid menjadi pusat gerakan yang dinamis. Namun ketika masjid mulai ditinggalkan, ia akan pelan-pelan kehilangan jati diri.
Ungkapan “tidak pernah ke masjid, masjidnya diambil orang” menjadi peringatan sekaligus renungan. Masjid yang dibiarkan kosong akan mudah diisi oleh ideologi atau gerakan yang berbeda. Ruang yang tidak dirawat akan dipenuhi oleh narasi lain yang mungkin tidak sejalan dengan visi dakwah berkemajuan. Karena itu, memakmurkan masjid bukan hanya tugas struktural, melainkan tanggung jawab moral seluruh jamaah. Kehadiran kita bukan sekadar menambah jumlah shaf, tetapi menjaga arah gerak dakwah agar tetap lurus, mencerahkan, dan moderat sebagaimana garis perjuangan Muhammadiyah.
Dalam sejarahnya, masjid merupakan potret dakwah jamaah Muhammadiyah yang selama ini dibangun dengan kesungguhan. Masjid bukan hanya simbol fisik, melainkan representasi keseriusan Muhammadiyah dalam melahirkan peradaban berkemajuan. Setiap sudut masjid mencerminkan nilai-nilai ketertiban, kebersihan, keteraturan, dan kedisiplinan—nilai yang menjadi ciri khas gerakan tajdid. Dari masjid, Muhammadiyah membangun karakter jamaah yang cinta ilmu, peduli sosial, dan siap mengabdi tanpa pamrih.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, masjid perlu kembali disadari sebagai pusat peradaban lokal. Tempat ini harus menjadi ruang literasi, pusat pembinaan keluarga, rumah bagi remaja, dan laboratorium kader. Masjid harus menjadi ruang yang ramah bagi siapa saja yang ingin belajar agama secara mencerahkan, bukan ruang yang menakutkan atau eksklusif. Masjid berkemajuan adalah masjid yang menjadi solusi bagi masalah umat, bukan menambah masalah baru. Wallahu a’lamu.
Akhirnya, membesarkan masjid sama dengan membesarkan Muhammadiyah. Memakmurkan masjid berarti menjaga masa depan dakwah. Dari masjid kita memulai langkah kecil, namun dari langkah kecil itulah lahir gerakan besar yang akan terus menerangi perjalanan umat menuju peradaban yang tercerahkan.

