Tantangan Dakwah Muhammadiyah di Era Digital dan Bonus Demografi

Publish

27 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
122
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Tantangan Dakwah Muhammadiyah di Era Digital dan Bonus Demografi: Siap atau Ditinggal Generasi Muda?

Oleh: Asruri Muhammad, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Rawa Bambu Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Tulisan “Generasi Muda adalah Masa Depan Muhammadiyah” karya Ahsan Jamet Hamidi di suaramuhammadiyah.id tanggal 25 Januari 2026 perlu ditanggapi secara serius. Generasi muda memang aset strategis Persyarikatan, tetapi kesadaran akan hal itu saja tidak cukup. Pertanyaannya: apakah Muhammadiyah sudah memiliki peta jalan untuk menjangkau, memahami, dan memberdayakan mereka—khususnya di dunia digital dan di era bonus demografi?

Pertanyaan ini semakin relevan jika dikaitkan dengan pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengenai kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital yang berjudul:  “Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan; Mengembangkan AI yang Berkah, Beretika, dan Berkemajuan”. Diskusi strategis tentang AI sudah berjalan: dari pendidikan, dakwah, hingga pengelolaan organisasi. Namun, yang lebih penting adalah implementasinya di kader struktural dan kultural. Apakah kajian AI sekadar wacana seminar dan pengajian, atau sudah memengaruhi cara kader Muhammadiyah bekerja dan berdakwah di ranah nyata maupun digital?

Bonus demografi dan ledakan ekosistem digital adalah peluang besar sekaligus alarm. Mayoritas penduduk usia produktif berarti mayoritas pembentuk nilai, budaya, dan cara pandang keagamaan bangsa. Jika Muhammadiyah tidak hadir secara relevan, ruang itu akan diisi narasi lain—bukan selalu yang benar, tetapi yang paling mudah diakses dan paling sering muncul di layar.

Psikologi Dakwah untuk Generasi Z

Keluhan para sesepuh Muhammadiyah tentang kurangnya minat anak muda aktif di organisasi adalah fakta yang nyata. Sulitnya membangunkan remaja masjid dan mengajak mereka terlibat dalam kegiatan dakwah sehari-hari terjadi di mana-mana. Di sisi lain, keberadaan anak muda dalam bonus demografi adalah harapan sekaligus peluang strategis.

Untuk itu, Muhammadiyah perlu mengadopsi psikologi dakwah: memahami cara berpikir, motivasi, dan perilaku Gen Z sesuai zamannya. Pendekatan ini menekankan dialog, relevansi, interaksi digital, dan kreativitas, bukan sekadar rutinitas formal atau ceramah panjang. Dengan cara ini, dakwah bukan hanya hadir, tetapi diterima, membangun keterikatan, dan melahirkan kader berdaya.

Dakwah Digital: Belum Ada Roadmap
Sayangnya, dakwah digital Muhammadiyah belum memiliki roadmap yang jelas. Banyak dai muda aktif di media sosial, tetapi tanpa strategi terukur: konten dibuat, tapi sasaran kurang tepat; pesan disebar, tetapi interaksi minim; kehadiran ada, tetapi dampak terbatas. Dakwah yang benar tetapi tidak terdengar berisiko kalah oleh dakwah sederhana yang hadir setiap hari.

Pilar Roadmap Dakwah Generasi Muda

Roadmap dakwah digital harus memuat beberapa hal strategis:

1. Segmentasi audiens yang jelas.
 Gen Z, milenial, dan remaja memiliki bahasa, kegelisahan, dan pola pikir berbeda. Dakwah untuk Gen Z lebih efektif jika menyentuh makna hidup, kesehatan mental, identitas, dan relasi sosial—dengan pendekatan dialogis, bukan menggurui.

2. Medan dakwah yang diperluas
Dari mimbar ke masjid, kini ke algoritma digital: media sosial, podcast, video pendek, hingga kolom komentar. Transformasi medan dakwah adalah cara menghadirkan nilai Islam ke ruang yang sehari-hari dihuni generasi muda.

3. Subjek dakwah yang transformasional
Dai muda perlu paham agama dan literasi digital, mampu berdialog, dan otentik. Ulama senior tetap menjadi rujukan, tetapi generasi penerus harus mampu menerjemahkan nilai Islam ke bahasa zaman. Implementasi kajian AI dapat mendukung, misalnya melalui pemetaan minat digital atau penyebaran konten lebih efektif.

4. Indikator keberhasilan yang relevan
Keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dari jumlah acara atau jamaah fisik, tetapi: apakah menjangkau audiens baru, memantik percakapan, membangun keterikatan, dan melahirkan kader yang sadar nilai. Roadmap memungkinkan Muhammadiyah menilai dampak dan menyesuaikan strategi, menghindari dakwah yang hanya rutinitas formal.

Allah mengingatkan: “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath agar kamu menjadi saksi atas manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Menjadi saksi meniscayakan kehadiran di tengah manusia, termasuk di dunia digital tempat generasi muda menghabiskan sebagian besar waktunya. Tanpa roadmap dakwah digital yang jelas, pemahaman psikologi Gen Z, dan implementasi nyata kajian strategis seperti AI, Muhammadiyah berisiko ditinggal generasi muda, sementara mereka menemukan rujukannya sendiri.

Kesadaran akan generasi muda harus diikuti keberanian strategis: membangun roadmap, memperjelas sasaran, dan mengoptimalkan kehadiran digital. Bonus demografi dan dominasi media digital bukan hanya peluang, tetapi juga ujian. Hanya dengan strategi yang terencana dan adaptasi tepat, Muhammadiyah benar-benar menjadi saksi yang relevan dan berdaya bagi generasi muda—tidak sekadar wacana, tetapi tindakan nyata yang menguatkan peran Persyarikatan di era ini.(*)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Arasy Allah Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas  Saya ingin m....

Suara Muhammadiyah

15 August 2025

Wawasan

Oleh: Ir Tito Yuwono, ST., MSc., PhD., IPM, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia....

Suara Muhammadiyah

14 May 2025

Wawasan

Menggiring Jamaah Berbondong ke Masjid dengan Memperbaiki Manajemennya Oleh: Amidi, Dosen FEB Unive....

Suara Muhammadiyah

15 April 2024

Wawasan

Muhammadiyah dan Gen Z: Antara Ideologi, Gaya Hidup, dan Algoritma Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Ari....

Suara Muhammadiyah

3 January 2026

Wawasan

Paspor Spiritual Menuju Pemahaman Agama Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas....

Suara Muhammadiyah

23 December 2024